Sepotong Kisah Bersama Sriwijaya Air

Minggu lalu untuk keperluan pekerjaan kantor saya melakukan perjalanan ke Pangkal Pinang, ibu kota provinsi Bangka-Belitung. Biasanya saya lebih memilih Garuda. Bukan karena lebih baik dari yang lain, tetapi lebih karena berada di terminal II, dimana saya bisa menunggu sambil minum kopi di beberapa gerai kopi (cafe) yang ada di terminal II serta menambah point frequenflyer saya.  :)

Setelah di cek tak ada rute Garuda yang melayani Jakarta-Pangkal Pinang dan sebaliknya, sehingga saya kemudian memilih penerbangan Sriwijaya Air untuk penerbangan Jum’at, 22 Juni 2007.

Datang lebih awal dari penerbangan yang dijadwalkan pukul 12.40, saya kemudian mencari-cari tempat untuk duduk menunggu. Tak seperti di terminal II, di terminal lama ini hanya sedikit alternatif tempat menunggu yang enak, dimana kita bisa membaca atau meminum kopi. Akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang cukup baik, walaupun sangat padat, dengan membayar Rp 50,000,- karena tidak memiliki kartu kredit berjenis “gold.”

Tepat pukul 12.30 WIB, karena hanya tersisa 10 menit, tanpa menunggu announcement dari pihak penerbangan, saya kemudian menuju gate yang telah ditentukan bagi penumpang Sriwijaya Air jurusan Pangkal Pinang. Saya masih harus menunggu karena memang tersisa waktu 10 menit dan saat saya melapor pada pegawai Sriwijaya Air yang ada di ruang tunggu mereka menyampaikan bahwa penerbangan munggkin mengalami keterlambatan hingga jam 13.10 karena pesawat yang akan dipakai terlambat tiba dari Palembang.

Tunggu punya tunggu tak kunjung jua panggilan terdengar untuk memasuki pesawat walaupun jam sudah menunjukkan pukul 13.20 WIB. Sontak saya menhampiri pegawai Sriwijaya Air yang ada disana dan menanyakan apa yang menjadi sebab keterlambatan. Ia kembali mengemukakan alasan terlambatnya pesawat tiba dari Palembang dan kini sedang melakukan perawatan teknis sebelum siap diberangkatkan. Saat ditanyakan kapan pesawat akan siap ia mengatakan sekitar pukul 13.50, yang berarti satu jam terlambat dari jadwal semula.

Penumpang yang lain pun menanyakan hal yang sama, karena ada beberapa diantara mereka yang masih harus melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi yang lain, kapal, mungkin menuju Belitung.

Saat jam menunjukkan pukul 13.50 WIB tetap tak ada perubahan yang berarti. Kembali saya menanyakan kapan pesawat akan berangkat, lagi-lagi jawaban yang didapat adalah sebentar lagi. Kali ini penyebab keterlambatan bertambah dengan adanya kerusakan pada dinamo atau generator pesawat yang menurut petugas “hanya” akan berpengaruh pada AC pesawat yang tidak akan berfungsi maksimal, alias panas.

Akhirnya setelah menunggu beberapa lama lagi panggilan pun terdengar untuk memasuki pesawat, dan seperti yang sudah terduga uap hawa panas pun menyambut kedatangan didalam cabin. Pramugari pesawat hanya menenangkan penumpang dengan mengatakan bahwa udara akan dingin saat pesawat telah take off. Yah…..apa mau dikata, tidak ada pilihan lain….  :(

Celakanya saat makanan kecil dibagikan yang ada hanyalah sepotong roti dan segelas kecil air mineral. Saat saya menanyakan apakah ada minimun tambahan, ternyata tidak tersedia… Celaka….!! saya harus mengirit-irit air dan menahan haus. Lain kali jika terpaksa harus memakai jenis penerbangan seperti ini agaknya saya harus menyediakan sebotol air mineral untuk ditengah perjalanan.

Untunglah pesawat mendarat di Pangkal Pinang dengan selamat. Namun anehnya, dan baru kali ini, saya harus turun dari pesawat melalui pintu depan yang ada disebelah kanan!! Biasanya melalui pintu sebelah kiri. Bodohnya saya tidak sempat menanyakan alasanya. Dan yang lebih mengagetkan lagi pada hari Minggu, melalui koran loka Bangka Post dan Babel Post, saya membaca bahwa pesawat Sriwijaya Air yang akan menuju Jakarta pada hari Sabtu, 23 Juni 2007, saat take off sempat mengeluarkan bunyi ledakan dan percikan api, yang setelah diusut bersumber pada masuknya burung yang terbang ke arah mesin pesawat…..haaaahh.

Satu kesimpulan saya bahwa baik pengola perusahaan penerbangan maupun bandara di Indonesia hingga kini masih menomor duakan atau menomor sekiankan kenyamanan dan keselematan penumpang. Peristiwa dengan Sriwijaya Air adalah salah satu saja contoh pengalaman saya menggunakan maskapai penerbangan dalam negeri yang tercinta ini. Maskapai yang lain pun tak kalah amburadulnya, sekalipun ia berstatus BUMN.

Maka janganlah heran jika Uni Eropa baru saja mengeluarkan larangan pesawat Indonesia untuk terbang memasuki kawasan Uni Eropa (dengan anggota 27 negara) dan menghimbau warga mereka untuk tidak menggunakan pesawat maskapai penerbangan Indonesia. (Kompas, 29 Juni 2007)

Ini bukan persoalan nasionalisme atau diskriminasi. Ini hanya menunjukkan bahwa di negara lain keselamatan dan pelayanan terhadap konsumen lah yang diutamakan, dan negara berperan penting dalam mengatur regulasi ini. Tidak seperti di Indonesia yang melempem dan masih harus menunggu ratusan bahkan ribuan korban lainnya yang mungkin akan muncul.

Lucu rasanya jika mengajukan argumen mengapa Garuda yang masuk dalam rangking I menurut versi pemerintah Indonesia harus pula dilarang oleh Uni Eropa, karena sama saja membongkar borok bahwa layak saja seorang “Bapak” akan menyayangi “Anak”nya yang sebuah BUMN (Bdan Usaha Milik Negara) tak perduli apakah layanan tersebut baik atau tidak.

17 responses to “Sepotong Kisah Bersama Sriwijaya Air

  1. Panas ya pak? Buka saja jendelanya… :)

    **Tadinya mau minta tolong dikipasi sang pramugari… :)

  2. itulah kenapa UE melarang pesawat indonesia terbang di langit eropa
    **Kalau Australia, Amerika, atau Jepang mengeluarkan “himbauan” yang sama, “burung-burung” kita akan jadi jago kandang…. :)

  3. tapi yg lebih gaswat lagi kalo kite nantinye ternyata juga gak bisa jadi tuan rumah di ngeri sendiri, Bang Thamrin.. Orang-orang lebih merasa nyaman dan aman kalo naek “burung” made in luar ngeri gitu.. Gimane tuh? :)

    **Katenye “burung” import memang lebih nyaman broer :D Coba deh naek SQ dari Jakarta-Singapore atau Jakarta-Bangkok dan coba juga naek Garuda pake rute yang same. “Rasanye beda broer…”

  4. entah kapan transportasi massa di tanah air ini akan mampu memberikan pelayanan yang memuaskan..

    untung masih selamat sampai tujuan ya, .. :)
    regards,

  5. ya syukur masih punya burung….klo ga punya gmana…mlempem kan ?????

  6. Entah berapa kali lagi burung besi yang terbang dibawah langit indonesia ini mengalamai nasib serupa…bukannya mendo’akan lho, ya tapi memang begitu toh nyatanya…
    kemampuan/ jaminan keselamatan sungguh belum memadai. Dan entah kapan kita merasa aman & nyaman ketika menaiki fasilitas yang ada di nusantara ini “khususnya transportasi”

  7. Kalau naik burung terbang Indonesia harus ikhlas. Dari Jambi ke Jakarta dengan Sriwijaya saya sempat was-was. Nyaris mendarat di Jakarta dan landasan sudah nampak, eh naik lagi dan berputar-putar di udara.

    Yang jelas… tidak ada penjelasan sama sekali atas kondisi tersebut.

    Begitu juga dengan maskapai lainnya. Terlambat adalah hal biasa. Saat ke Lampung menggunakan Merpati. Saya sempat luntang-lantung di bandara dari pagi hingga sore. Tanpa ada penjelasan apapun.

  8. Perjalanan menggunakan pesawat terbang, merupakan perjalanan yang bikin senam jantung. Karena pada saat diatas, kita benar2 harus pasrah dan berdoa, semoga perjalanan kita selamat.

    Anehnya, jadual terbang siang sering terjadi keterlambatan. Beberapa kali terbang menggunakan pesawat membuat saya hafal, makanya lebih suka terbang pagi-pagi sekali, kalau perlu jadual yang pertama kali. Sulitnya, kadang2 kita tak bisa memilih,

  9. kenyamanan dan keselamatan penumpang adalah yang harus diutamakan, pahak terkait harus menyeleksi super ketat thd izin penerbangan. supaya kecelakaan pesawat terbang dapat berkurang.

    *Seharusnya begitu, mudah-mudahan badan yang mengurusi hal ini baca blog ini dan melihat komentar anda :D

  10. begini aja,kebanyakan MASKAPAI INDONESIA memakai BOEING 737-200 yang udah tua,bayangkan saja dari datanya Sriwijaya punya 15 Buah Pesawat Boeing 737-200.inilah mengapa Jalur Bandung – Singapura oleh Merpati dilarang ke Changi,karena suara bising dari Mesin Boeing 737-(200.http://www.airfleets.net/flottecie/Sriwijaya%20Air.htm)

    adapun alasan UE melarang garuda masuk ke Eropa karena Kasus Munir.kalau melihat tingkat Accident indonesia hanya terjadi 10 kali (Lihat ;http://www.airfleets.net/crash/stat_country.htm) lebih kecil daripada Taiwan dan USA serta Perancis

  11. @bangfir:
    naik pesawat punya perusahaan luar negeri?
    hemm, meski mahal ga pa pa kayaknya. yg penting aman dan nyaman. :D

  12. aQ pEngeeeen baNget jaDi PILOT LION AIRLINES!!!
    ada ga pendiDikan PILOT di LION AIR?
    boLEh minTa inFo na…

  13. aQ peNgen banGeeetzz jadi PILOT SRIWIJAYA AIRLINES!!!
    ada ga pendidikan buat pilot…???

  14. Kalo saya dah syukur bgt bisa naek pesawat… Cepat asalkan selamat sampe tujuan… Panas sedikit pun gak apalah.. Dah biasa ini naek kereta ekonomi jakarta – surabaya…

  15. Kalau yang sdh biasa naik pesawat ke Eropa atau Amerika ya pasti mengeluh dengan pelayanan air line domestik. Tetapi kalau yang biasa naik kereta api ekonomi atau bis tentu sangat bersyukur bisa naik pesawat terbang. Kalau alasan pesawat sudah tua tidak juga. Hasil audit terakhir, justru pesawat Boeing 737-300/400 milik Air Asia, Lion dan Batavia yang bermasalah sedangkan Sriwijaya Air lolos Ramp Check. Adam Air dan Lion Air yang celaka beberapa waktu yang lalu semuanya jenis itu. Tapi kalau untuk tujuan domestic saja harus naik SQ atau Air Asia, bagaimana nasib airlines negeri sendiri? Kita memang lebih senang memperkaya bangsa lain dari pada bangsa sendiri! dasar mental jajahan.

  16. Masalah keterlambatan dalam dunia pengangkutan (darat, laut & udara) adalah sangat biasa terjadi di belahan dunia manapun. Sehingga bisa dibilang ada banyak alasan mengapa maskapai penerbangan terlambat, salah duanya antara lain: cuaca dan teknis. Kalau masalah cuaca memang di luar kemampuan pihak mana pun. Sedangkan untuk masalah teknis harus ditangani hanya oleh orang yang memiliki lisensi untuk memahami permasalahan yang ada.
    Khusus untuk pengangkutan udara oleh pemerintah Indonesia sudah diantisipasi dengan menetapkan KM No. 25/2008 tentang Penyelenggaraan Pengangkutan Udara, mengatur tentang pemberian kompensasi bagi keterlambatan. Di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Jerman masalah itu diatur menurut kebijakan maskapai penerbangannya masing-masing.
    Sebagai bahan perbandingan, maskapai asing di Indonesia pernah melakukan overbooking & keterlambatan. Kebijakan perusahaan tersebut adalah hanya memberikan tiket untuk naik pesawat ke tujuan yang sama di jam atau hari lain bila masih ada tempat tanpa kompensasi lainnya. Nah, bisa bayangkan seperti apa kejadiannya bila ada penumpang yang mau berbisnis dan janji-janji penting lain, pasti kacau balau deh. Jadi jangan terlalu kheki kalau maskapai kita juga agak terlambat, tapi masih mau memberikan kompensasi seperti minum, makanan dan malah terkadang uang tunggu serta penginapan.
    Untuk menjawab masalah kepanasan yang dialami oleh pak Thamrin, ada beberapa kemungkinannya. Antara lain: (1) untuk menghemat avtur, sehingga selama masih dalam penanganan untuk keberangkatan, “air condition” dalam pesawat tidak dinyalakan; (2) memang ada kerusakan pada alat pendinginnya. Well, mudah2an dengan program 3S + 1C (safety, security, service and compliance) yang dicanangkan oleh Pemerintah, seluruh maskapai kita semakin cihui …!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s