Dikotomi tua versus muda selalu muncul dalam diskursus perpolitikan menjelang pemilihan umum. Seolah kaum yang muda ingin merangsek, maju menggantikan yang tua. Tak hanya menjelang pemilihan umum 2009, perdebatan tua muda ini pun telah terjadi menjelang pemilu 1989 dan pemilu 2004.
Namun tak ada perubahan yang berarti. Toh yang tua tetap mendominasi dan yang muda tetap nyaman berada dibawah ketiak yang tua. Tak ada kaum muda yang muncul menjadi tokoh alternatif, baik dari sisi gagasan maupun perilaku politik. Tetap sama.
Kini perdebatan tersebut kembali muncul. Mungkin tak puas dengan apa yang telah dan tengah terjadi. Reformasi dan cita-cita kemakmuran yang diinginkan belum terjadi. Bisa saja….
Pertanyaannya, apa yang berbeda dengan dahulu kono disebut gerakan kaum muda juga. Kali ini memang lebih bergaung, memakai deklarasi yang diadakan di gedung Arsip Nasional (ingin mengkomparasi dengan gerakan-gerakan kaum muda terdahulu yang sudah tercatat dalam arsip??). Kenyataannya, saat dilakukan diskusi besar di Gedung Sumpah Pemuda (kalau tidak salah), dengan bangga para pencetus gerakan kaum muda ini duduk sejajar dan tukar senyum (mungkin pula tukar kartu nama) dengan para politisi yang mungkin sudah “tua.”
Tak ada yang membedakan. Hanya usia dalam KTP saja (kalau dicek) yang akan membedakan. Soal kelakuan politik sama saja. Tak ada konsep baru yang disodori. tak ada bantahan secara logic kenapa kita harus menolak yang tua-tua tersebut untuk tetap aktif dalam politik. Lantas apa kemahiran dan kemampuan baru yang ditawarkan oleh kaum muda.
Jika hanya bertukar tempat sama saja dengan proses kenaikan kelas…Yang tua lulus dan digantikan oleh angkatan yang dibawahnya yang sudah tak sabar untuk berkuasa. Apa yang ditawarkan sebagai perbaikan Indonesia?
Soal politik dan perbaikan ekonomi Indonesia bukan soal umur, tapi soal konsep dan apakah serta bagaimana dijalankannya. Memang bisa jadi yang muda akan membawa pembaruan pemikiran, yang lebih fresh serta masuk akal. Namun apa yang selama ini saya temui dan bergaul dengan “beberapa” politisi, tak ada tuh yang muda yang maju dengan gagasan segarnya. Yang ada hanyalah “ngintil” dibelakang yang “tua” dan menunggu sisa kekuasaan. Banyak diantara mereka yang dulunya dianggap sebagai tokoh-tokoh muda pembaharu.
Ah…sudahlah, bagi saya, tua muda sama saja…yang penting cinta….
















3 tanggapan so far ↓
Tresno // Desember 9, 2007 pada 12:14 pm |
mungkin istilah “muda” harus dirubah artinya dalam politik, jangan hanya umur nya aja, mungkin dalam hal pendapat
z3r0 // Desember 23, 2007 pada 6:28 am |
blogroll ?aku pasang link di situs aq yach. thx kalau di pasang jg disini
mataharicinta // Februari 20, 2008 pada 1:28 pm |
dikantor karena masih too young, manajerku juga masih sering ngusilin aku:/