Suatu ketika, tepatnya 19 Februari 2008 lalu, sayang janji untuk ketemu seseorang, “di Star…… coffee Tebet saja, jam 16.00″ ujarnya. Saya yang memang belum pernah datang ke gerai kopi tersebut lantas saja mengiyakan.
Tadinya saya membayangkan dapat duduk sore-sore, seraya mungkin “mencuci mata” dengan berbagai pemandangan yang “indah.” Namun yang saya hadapi ternyata lain. Tak seperti gerai kopi lain yang saya pernah kunjungi, sesekali mungkin ada beberapa artis yang muncul dalam tayangan gosip di TV, yang satu ini justru penuh dengan “pendekar-pendekar” politik yang sedang berdiskusi, berbincang, bercakap-cakap, melakukan lobby, merumuskan rencana, atau memang sekedar menghirup segelas kopi.
Saat saya masuk, memilih tempat duduk, tampaklah ada beberapa meja yang menampilkan salah seorang ekonom yang anggota DPR sebagai salah satu “pembicara.” Tampak pula serombongan serikat pekerja sebuah bank nasional. Kumpulan lain diisi oleh beberapa pentolan parpol yang sedang mendiskusikan rencana pilkada, ada pula seorang pengamat politik yang cukup mumpuni. Belum lagi beberapa meja yang lain.
Jadi lobby dan negosiasi kini berpindah tempat. Lebih santai dan lebih mengasyikan. Murah pula, tak semahal jika mengadakannya di cafee shop hotel.
Tak ada yang salah. Hanya kekecewaan saya, yang sebenarnya ingin mendapat “pandangan” yang lain.
















3 tanggapan so far ↓
mrtajib // Maret 3, 2008 pada 9:46 am |
==> Hanya kekecewaan saya, yang sebenarnya ingin mendapat ¨pandangan”yang lain.
¨Pandangan¨ yang lain? Apaan tuh?
Kayaknya perlu buat ¨Logical Framework¨ sehingga ¨pandangan¨ yang lain itu menjadi jelas, terukur dengan indikator-indikator tertentu, dan bisa dipertanggungjawabkan…..
-tikabanget- // Maret 10, 2008 pada 6:51 am |
kalo pengen dapet “pandangan” laen lagi, ke BHI ajah, bang..
Rane 'JaF' Hafied // Maret 12, 2008 pada 12:59 pm |
lagi trend kayaknya.. bahkan tersangka pembom bali aja pernah ngopi di gerai yang sama bareng polisi pula.. mantabb!! hehe