Blog ini adalah ekpresi, opini dan pengalaman saya tentang kebebasan (freedom) dan implementasi nilai-nilai Liberal, baik dari proses kerja yang saya alami maupun pengalaman berinteraksi dengan berbagai aktivitas dan manusia yang terlibat didalamnya.
Di sebelah kiri ini adalah kata “freedom” dalam bahasa Arab. adanya kata ini menunjukkan bahwa nilai kebebasan bukan hanya diketahui dan penting bagi masyarakat Barat. Ia adalah konsep yang memiliki nilai universal dan dimiliki oleh setiap individu yang ada di dunia.
Saya ingin mengutip sebuah paragraf yang ditulis oleh seorang pemikir Liberal berkebangsaan Skotlandia, Adam Smith:
“All systems either of preference or of restraint, therefore, being thus completely taken away, the obvious and simple system of natural liberty establishes itself of its own accord. Every man, as long as he does not violate the laws of justice, is left perfectly free to pursue his own interest his own way, and to bring both his industry and capital into competition with those of any other man, or order of men. The sovereign is completely discharged from a duty, in the attempting to perform which he must always be exposed to innumerable delusions, and for the proper performance of which no human wisdom or knowledge could ever be sufficient; the duty of superintending the industry of private people, and of directing it towards the employments most suitable to the interest of the society.”
Wealth of Nations Book IV Chapter ix
Saya ingin membagi dan belajar lebih jauh tentang nilai kebebasan.
But again, its just a simple webblog. Walaupun tak ada salahnya juga memberikan komentar anda guna peningkatan kualitas dan isi webblog ini.
















49 tanggapan so far ↓
Paulin Wijaya // Oktober 11, 2006 pada 2:51 pm |
go freedom!
Joni Rahalsyah Putra // November 25, 2006 pada 1:39 pm |
Yes, I agree with u… Freedom is mean independence for anything, like freedom for talking, expression, and what else lah…:) yes! for Freedom…
Halo Indonesia // Desember 13, 2006 pada 9:23 am |
Freedom bukan berarti tidak memiliki kewajiban lho. Orang Amerika mencintai “Freedom” tetapi mereka juga tahu konsekuensi memiliki “Freedom” berarti juga sudah tahu aturan main “Freedom” beserta rambu-rambunya.
salam
http://HaloIndonesia.blogspot.com
Goa Blog // Desember 30, 2006 pada 1:28 pm |
Dear Webmaster,
Your website is awsome!!
Goa Blog is the official blog of Goa State.
It has been started with the sole aim of spreading information obout Goa.
This is especially for the tourists visiting GOA INDIA
I wonder if your blog would avail a link to Goa Blog.
URL: http://www.goablog.org
Hope you will acept my request.
Please reply on accepting so that Goa Blog can update your link on the site.
Regards and Compliments of the Season!!
erander // Januari 2, 2007 pada 9:08 am |
Thanks sudah meninggalkan jejak kata-kata di blog saya. Selamat tahun baru juga. Semoga 2007 lebih kinclong dari tahun sebelumnya.
pitoyoadhi // Januari 5, 2007 pada 1:57 am |
Sukses dan maju terus semoga semakin liberal!
stopgoblog // Januari 7, 2007 pada 5:59 am |
“Liberal” dan “liberty”, tidak ada padanannya untuk kata Indonesia. Sehingga kita ucapkan saja liberal tanpa harus memadankannya dengan kebebasan atau kemerdekaan. Kebebasan itu sudah sepadan dengan freedom. Dan Kemerdekaan itu sudah sepadan dengan independence
Gara-gara kata “liberal” itulah, menurut saya, pemahaman akan konteks ekonomi-politik di negara kita amburadul. Liberal tidak bisa dikatakan membebaskan, karena sekali lagi, liberal itu tidak sepadan dengan kebebasan.
Untuk diskursus “ideologi” pun, saya pikir liberal terlalu jauh diidentikkan dengan kebebasan.
Tomy DG
Soe // Januari 12, 2007 pada 12:49 pm |
Blognya bagus Pak T!
Btw., menurut Kant: Freiheit ist nicht, dass man machen kann, was er will, sondern, dass er nicht machen mus, was er nicht will (Kemerdekaan bukan berarti bahwa orang bisa bertindak semau gue, melainkan bahwa dia tidak harus melakukan hal yang tidak dikehendakinya).
Terasa bedanya karena ini lebih ke makna universal…
Saya lebih suka mengartikan Freiheit dalam konteks tersebut sebagai ‘merdeka’ dari pada ‘bebas’. Merdeka mengandung makna pasif, bebas bermakna aktif. Merdeka lebih bermakna tanggung jawab dan memperhatikan pagar tindakan, bebas cenderung lebih membuka mengukur tindakan dari kemauan. Mungkin bebas bertanggungjawab, ya merdeka itu. Sesudah merdeka, barulah kita mampu untuk berasa, berpikir, bersikap dan bertindak liberal. Jadi saya letakkan liberal sebagai atap kebebasan dan kemerdekaan…
Kalau saya, kok lebih suka merdeka daripada bebas. Hanya kata ini sepertinya terpasung oleh penggunaan dalam konteks perjuangan bangsa kita. Ini hal kebiasaan mendengar saja, yang pasti, jika tidak ada kata melayu yang persis bisa sama artinya dengan liberal, kenapa harus diperkosa untuk diterjemahkan? bukankah perkosaan (permerkosaan?) kata membuka peluang bagiu kerancuan baru? jadi, saya lebih akur dengan sikap menjaga keaslian kata, biarpun kata dari bahasa asing…
SOE
Peace, Love and Respect!
alexdemax // Februari 15, 2007 pada 6:49 pm |
tolong beri saran, tips&tiks padaq agar blogq lebih oyeeeee
asep1974 // April 19, 2007 pada 4:39 am |
Tak ada yang membatasi kebebasan kecuali dirinya sendiri
kurtubi // Mei 8, 2007 pada 8:33 am |
bebas……?
bukankah air pun bebas mengalir
angin semilir bebas mengipas
udara menjadi hangat-dingin bebas membeku
tanah membelah bebas merekah
gunung meletus bebsa meleleh
laut bergelombang bebas mengambang
burung bersayap bebas tak merayap
ular tak berkaki bebaas mendaki
pohon berdiam bebas berangin
kawan,
masa sih masih saja bertanya
aku pun suka kebebasan
tapi kebebasan yang dibebaskan
apakah gerangan wahai kawan
kebebasan yang dibebaskan oleh sang Pembebas
itulah yang Maha Bebas…
aku suka kebebasan yang dibebaskan….
dwiagus // Mei 14, 2007 pada 8:50 am |
Mas, pengen tau soal pelatihan blogging for demoracy itu, mas?
Ada rencana pelatihan lagi untuk partai lain selain Partai Demokrat?
dwiagus,
BLOGFAM
**Mas Agus, sejauh ini kami sudah mengadakan satu kali untuk PKB, satu kali untuk Demokrat, dan satu kali lintas partai (PDI-P, Golkar, PAN, Demokrat, PKB, dll). Pastinya iya, namun belum tahu kapan. Mas Dwi apa terlibat partai gitu?
ABe // Mei 15, 2007 pada 5:51 am |
sebagai ‘birokrat’..perlu saya baca terus blog sampeyan…mohon izin kalo saya cantolin ke blog saya
>**Salam kenal juga Mas, sangat senang dan tak perlu “ijin” kan saya bukan “birokrat”
arul // Mei 23, 2007 pada 12:03 pm |
kebebasan yang bertanggung jawab tapi
kopidangdut // Mei 24, 2007 pada 2:24 am |
bebas? prek!
munggur // Mei 28, 2007 pada 3:09 am |
kebebasan justru membingungkan. banyak loh kalo ditawari di restoran, mo makan apa aja bebas. malah bingung milih.
enakan di warung soto. mau makan? ya dan tidak. bebas tidak selalu membebaskan seseroang dari pikirannya yang belum bebas.
anyway, makcih dah mampir ya
Rizma Adlia // Mei 30, 2007 pada 3:40 am |
Membagi dan belajar tentang kebebasan,,??
Ma mau!!! ikuut!!!
asal kebebasannya ga kebablasan aja,,
andalas // Juni 2, 2007 pada 4:39 pm |
Yessss!!!
akhirnya saya bebas………..
**freedom from what?
kawansyam a.k.a chandot // Juni 3, 2007 pada 9:17 am |
Siip bang, Mone!
kebetulan ada puisi lamaku, yang mungkin cocok untuk bergayung-sambut dengan semangat pembebesan.
Merdeka: Kata Anjing
(anggap saja merdeka sama dengan bebas)
Merdeka,
adalah ketika menjinjit satu kakiku,
lalu…
kencing.
**Itulah salahnya, merdeka tidak sama dengan kebebasan. Tak selamanya merdeka bisa menjadi bebas, karena bisa ia hanya menjadi “anjing” yang hanya bisa kencing dengan kaki diangkat satu. Berdikari katanya, berdiri diatas kaki sendiri
danalingga // Juni 4, 2007 pada 12:09 pm |
Merdeka itu berarti tidak di jajah lagi,
baik dijajah secara fisik, ideologi, ekonomi, opini, dll lagi.
Sudahkan anda benar-benar merdeka?
**Belum tau, mungkin belum…?
mbojo // Juni 5, 2007 pada 2:20 pm |
freedom, saya lebih cenderung ke arti merdeka.
klo kebebasan, trus terang saya ngeri mendengarkannya. bukannya berarti pingin di kekang, tapi “kebebasan” membuat orang bebas melakukan apa saja, yg menurut kata hatinya benar. padahal itu blum tentu benar. kebenaran hakiki hanya di miliki oleh Sang Pencipta
Maling_sandal // Juni 24, 2007 pada 9:43 am |
Mas, ada softcopy surat edaran bebas surat cuti kah? Teman2 dari Bandung masih sering dipalak karena tidak bawa surat cuti, yg seharusnya memang tidak ada lagi.
**Harusnya cuti adalah untuk cuti….????
sikabayan // Juli 18, 2007 pada 8:16 pm |
euh… kalau kebebasan seseorang teh tidak bersinggungan dengan kebebasan orang lainnyah… mungkin bisa ada kemerdekaan sejati… tanpa perlu ada suatu tolok ukur aturan main…
**Intinya setiap individu punya tanggung jawab terhadap kebebasannya.
kiki // Agustus 23, 2007 pada 11:36 am |
bagus,,,memang kebebasan itu ngk hanya di jalani,,tp perlu di hayati dan di pelajari,,bagi siapa salah menerapkan arti kebebasan ,,dampaknya akan berakibat fatal,,,marilah teman2 yg ingin belajar mengenai bnyk hal tentang kebebasan,,,bisa kita tuk bertukar pengalaman dan ilmu,,,give a suport for other,,,,,,,maju terus,,,,,,,,,,,,,,,,
Novita Umboh // November 5, 2007 pada 12:54 pm |
Yup!
I agree …100% !!!
Independence or Freedom … is
the people right in the WORLD !!
Merdekaaa…!
rozenesia // Desember 12, 2007 pada 3:26 am |
Freethinker juga mas?
Salam kenal.
Pormadi simbolon // Desember 17, 2007 pada 1:18 am |
great. Bravo freedom!
Nanang Suryana // Desember 17, 2007 pada 10:34 am |
Salam kenal Pak
Salam kebebasan…..
agam // Desember 25, 2007 pada 6:07 pm |
Mone,
lama nggak jumpa. gimana kabarnya?
agam
M. A. Nugroho // Februari 5, 2008 pada 3:05 am |
Simpati untuk Gaza, freedom…
indra1082 // Februari 18, 2008 pada 4:55 am |
Go to Freedom
Kebebasan yang tidak kebablasan…salam kenal bro…
Andy Achmad Sampurna Jaya // Februari 20, 2008 pada 1:14 pm |
thanx for coming to my website Mr. Thamrin, shall we meet again.. i like your post.. much, may i link your blog?
regards,
Andy Achmad Sampurna Jaya
marwan ds // Maret 10, 2008 pada 4:38 am |
Mas, saya meskipun sudah lanjut usia tampaknya harus lebih banyak belajar lagi tentang kebebasan.
Yang penting saya akan kunyah dulu nanti yang cocok saya telan yang ndak cocok tentu akan keluar sendiri tanpa dikeluarkan.Inilah yang dinamakan sunatullah.
Yang penting belajar. Saya akan baca blok ini paling tidak saya pasti saya mendapat lebih banyak wawasan dan bukan tidak mungkin lebih banyak sahabat.
Salam, semoga terus berkibar. Amin
dwi Yanto // Maret 10, 2008 pada 5:12 am |
Kunjungan balik dulu…
ufonesia // Maret 27, 2008 pada 7:04 am |
Thx sudah mampir di Ufonesia pesan anda telah di balas nih.,
menurut saya pastinya gak ada yg percaya mas media massa itu kecuali ada vidio seperti Kubah Mesjid itu yg kemaren sempat gempar THX
Salam Ufonesia
Robert Manurung // April 28, 2008 pada 10:23 pm |
Deja Vu! Rasanya aku seperti masuk ke blog sendiri di blognya Mas Thamrin ini. Freedom. Why not ?
Blog aku bernama Ayomerdeka, dan aku menjuluki jabatanku selaku admin : Provokator.
Salam kenal Mas Thamrin. Senang menemukan blog ini dan berkenalan dengan Mas.
Salam Merdeka!
RM
http://ayomerdeka.wordpress.com/
Irend // Mei 6, 2008 pada 12:00 am |
Sejujurnya saya merupakan orang yang ingin selalu merasa bebas, tapi dengan kebebasan tersebut justru saya merasa diberikan amanah untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik di mata masyarakat. Saat ini Indonesia adalah salah satu negara yang menerapkan demokrasi liberal meskipun selalu menyangkalnya dengan mengatakan Indonesia adalah negara demokrasi Pancasila. Apakah dengan kondisi seperti sekarang ini, dimana banyak tindakan kriminal, perusahaan asing yang semakin bebas menjajah negeri kita,dll. Liberal masih bisa dibuat pegangan?
titov // Juni 4, 2008 pada 10:52 pm |
salam kenal mas,
Liverpudlian juga kah?
You’ll Never BLOG Alone
amaduq01 // Juni 6, 2008 pada 11:30 am |
Mas, untuk menaikkan kunjungan ke blog sebaiknya jangan menulis berita fitnah seperti ini.
Apalagi sudah menyertakan berita kalau SBY memberi uang. Fitnah namanya dan bisa kena tuduhan mencemarkan nama baik.
Memang anda mengutip dari tulisan orang lain, tapi dengan mencantumkannya di blog ini seperti sebuah berita sama artinya dengan menyebarkan fitnah dan kebohongan.
Karena tidak mencantumkan bukti dan konfirmasi dari pihak yang dituduhkan oleh tulisan tersebut. Alamat email Nong Darol yang anda cantumkan juga salah, karena anda hanya mengutip dari situs ISAI saja.
Mudah-midahan tidak terjadi apa-apa….Salam
_______________________________
Kalau email memang saya menduga itu ga valid.
Tapi kalau blog nya si Nong itu bener kok..!!!
Ini bukan berita fitnah…!!!
Kenapa….??? Karena saya merngabarkan bahwa ini ada artikel yang tulisannya berisi “TEORI KONSPIRASI MBENTROK MONAS”
Kalau mengenai apa bener dg isi materi artikel yang saya beritakan, MAka tanyakan ke Nong Darol Mahmada di Blognya dia lah…!!!
Yang saya tulis itu berita…!! dan FAKTA
kalau isi yang diungkap penulis itu…, itu pendapat dia. Faktanya bisa bener bisa nggak kan..??
Baca itu TEORI JURNALISTIK…!!!!!
jangan langsung menuduh saya tukang fitnah…!!!! atau penyebar Fitnah…!!!!
Muhammad Husni Thamrin // Juni 12, 2008 pada 2:46 am |
@ Bung Amaduq (atau siapalah namanya), bukti bahwa anda tak belajar teori jurnalistik dan menyebarkan fitnah terbukti dengan menghapus tulisan tersebut pada blog anda. Tak ada lagi artikel ini:
http://amaduq01.wordpress.com/2008/06/05/jil-berada-dibalik-skenario-bentrok-monas-sby-pun-tahu/
hamsin // Juni 17, 2008 pada 3:02 am |
slam kenal cuma ikut berkunjung pengunjungnya rame nih
Mila // Juni 27, 2008 pada 3:28 pm |
Salam ketemu, Suhu Mone!
* s e m b a h * Love is…
halimah // Juli 4, 2008 pada 5:33 am |
Bila kita masih juga menanyakan soal kebebasan?bukankah hal tersebut sudah seringkali dibahas?bila masih ada yang kebablasan mempraktekkan kebebasan?karena tak paham makna kebebasan itu sendiri?hingga membutuhkan teori -teori untuk memperkuat dalil tentang “kebebasan”?kasihan sekalii kita ini, ya.
Dhimas L N ---- (^-^)v // Juli 9, 2008 pada 9:13 am |
hm,, kebebasan atau kebablasan?
Iqra // Oktober 20, 2008 pada 7:03 am |
Salam Kenal Mas Thamrin, saya suka main-main dan berkunjung ke kedai kebebasan. Meskipun berbeda paham tentang apa itu kebebasan, saya doakan mudah-mudahan “proyek kebebasannya”lancar terus
. Minta izin nge-link blognya ya Mas.
Salam
Muhammad Husni Thamrin // Oktober 21, 2008 pada 2:05 am |
Terima kasih Mas Iqra, menerima perbedaan juga salah satu wujud kebebasan..
Maria // Oktober 26, 2008 pada 4:50 pm |
Mone,
jangan bilang Adam Smith dari Inggris dong. Doi dr Scotland bo. Anyhow, gimana naskah gue ? ada berita nggak ? japri ya ke email gue.
pax,
Nessy // November 12, 2008 pada 5:06 pm |
Bang Thamrin, salam kenal dulu nich. Setuju bgt kalo kebebasan itu yang utama. Tapi saya sendiri merasa masih terjajah oleh kebijakan pemerintah terhadap profesi saya, tolong dilihat ya tulisan saya, n minta dukungan. http://nessyoctavia.wordpress.com/2008/11/12/nasib-kami-sebagai-guru-bantu/
Mari ita serukan erus kebebasan, terus berjuang demi kebebasan.
BUGIAKSO // Januari 14, 2009 pada 4:47 am |
Salam kenal, Pak
Catatan-catatan yang menarik di blog ini.
Semoga sukses di tahun 2009 ini…