Demam bola terus berlanjut, meski Indonesia kalah 0-1 melawan Arab Saudi. Semua sontak pratiotik, mendukung “merah putih.” Bahkan rela mengantri tiket untuk pertandingan Indonesi vs. Korea Selatan sejak hari Senin lalu, 16 Juli 2007. Padahal pertandingan baru akan dilangsungkan hari ini.
Soal kalah dari Arab Saudi tak jadi soal. Wasit Uni Emirat Arab pun menjadi kambing hitam bersama-sama dengan AFC. Padahal kalau dipikir-pikir seharusnya PSSI sudah harus memprotesnya sebelum bola disepak…..Eh….ternyata mereka tetap harus menunggu presiden SBY dahulu yang harus melontarkan kritik.
Walhasil, wakil presiden Yusuf Kalla kembali “harus” datang menyambangi para pemain Indonesia yang sedang berlatih, menyiapkan diri untuk menghadapi Korea Selatan, minus Zaenal Arif yang dicoret dari daftar pemain karena tidak disiplin (salut untuk Ivan Kolev yang tegas).
Mungkin wakil presiden Yusuf kalla ingin mengulang tuah pertemuannya dengan para pemain sebelum melawan Bahrain. Terbukti Indonesia menang 2-1. Namun apa pertemuan SBY dengan para pemain kurang “bertuah?”
Yang jelas presiden dan wakil presiden berjanji akan “nonton bareng” di Stadion Utama Senayan (yang akan memastikan tidak akan ada mati listrik)
Bonus untuk para pemain pun sudah disiapkan jika menang melawan Korea Selatan.
Entah didorong oleh kayakinan dan analisa tajamnya sebagai seorang “saudagar” atau hanya sekedar “nasionalisme” yang menggelora, wakil presiden Yusuf Kalla memberikan ramalan Indonesia akan menang 1 – 0 atas Korea Selatan. (harian olahraga Top Skor, 18 Juli 2007, hlm 8)
Semua pendukung tim Indonesia pasti berharap ramalan ini jitu dan Indonesia lolos ke 8 besar. Jika ini terjadi, kita mungkin akan mendapatkan popularitas SBY-Kalla yang “terdongkrak” kembali dalam survey Lembaga Survey Indonesia (LSI) mendatang.
Siapa bilang tidak bisa berpolitik dalam olah raga (sepak bola) ?