Gempa Baru yang Lain

Gempa berkekuatan 6,2 pada skala Richter terjadi di Selat Sunda pada Rabu, 19 Juli 2006 lalu, pada pukul 17.57,36 WIB (Sumber Badan Meteorologi dan Geofisika). Di Jakarta, terutama pada gedung-gedung tinggi perkantoran dan apartemen, terasa dan membuat goyangan yang cukup mengkhawatir para pekerja dan penghuni gedung-gedung tersebut. Namun di Bandung, dimana saya berada saat gempa terjadi, tak memberikan goyangan yang berarti. Hanya dering telphone yang berasal dari isteri saya yang memberikan kabar terjadinya gempa di Jakarta (karena ia harus segera menuruni tangga darurat setinggi 8 lantai).

Menarik apa yang dilontarkannya, “Saya tidak terlalu takut, kan gedung tempat saya bekerja bikinan Jepang, jadi tahan gempa dan aman.”

Sekali lagi image Jepang sebagai negara yang pula rawan gempa seperti Indonesia, tetapi mampu menghadapinya dengan early warning system yang canggih serta system kontruksi yang mampu menghadapi gempa, tertanam cukup kuat dalam benak banyak orang Indonesia. Pemerintah sudah seharusnya lebih serius mengurusi kebutuhan ini.

Anggaran yang dimiliki oleh Badan Meteorologi dan Geofisika sendiri sebenarnya telah meningkat cukup tajam. Pada ABPN 2005 hanya Rp 83,4 milliar dan menjadi Rp 152,8 milliar pada APBN-P 2005, namun kemudian meningkat menjadi Rp 536,6 milliar pada APBN 2006 dan meningkat kembali pada APBN-P menjadi 537,5 milliar (Pikiran Rakyat, 20 Juli 2006, “Menristek Dituduh Menyembunyikan Informasi Tsunami“). Yang menjadi persoalan adalah pengadaan dan kapan system tersebut akan dipasang. Menhub Hatta Rajasa mengatakan bahwa pemerintah menganggarkan sekitar Rp 400 milliar bagi pengadaan peralatan tsunami early warning system dalam APBN hingga tahun 2008 atau awal tahun 2009.

Suatu hal yang nyata adalah para nelayan yang mengandalkan hidup dari mencari ikan di laut dan umumnya bertempat tinggal di pesisir pantai tak akan mampu bertahan lama. Mereka harus segera melaut, mencari ikan untuk menyambung hidup keluarga mereka, seperti apa yang dilakukan oleh nelayan di pantai Pameungpeuk dan Cikelet, Garut Selatan, yang telah melaut pada tanggal 18 Juli, meski gempa baru melanda Pantai Selatan Jawa pada tanggal 17 Juli 2006. (Pikiran Rakyat, 20 Juli 2006)

One response to “Gempa Baru yang Lain

  1. hi, thamrin, good to see that you are keeping your blog up an alive. that is wonderful. be patient, and the conversations will begin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s