Apa Arti Kompetisi Bagi Kita? (ketiga)

Menyadari bahwa seiring dengan arus globalisasi dan pasar bebas yang tak dapat dihindari oleh Indonesia, terkecuali ingin menutup diri seperti Korea Utara, mau tidak mau perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia harus”berdaya saing secara internasional.” Daya saing ini bukan hanya menyangkut kemampuan mereka bersaing memasok produk ke pasar  internasional tetapi juga didalam pasar domestik guna menghadapi pesaing dari luar negeri. Maka pada 5 Maret 1999 diudang-undangkanlah Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Banyak yang mengkritik bahwa UU ini tak lebih dari prasyarat IMF untuk mencairkan dana bantuan, akan tetapi disadari pula bahwa UU ini merupakan batu pijakan awal guna mengkoreksi struktur pasar dan perekonomian Indonesia yang telah kadaluarsa dan syarat dengan praktek monopoli dan kolusi, yang acapkali ”ditunggangi” secara sewenang-wenang oleh kepentingan politik. Seperti apa yang diucapkan oleh Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan dalam Konferensi Internasional tentang Persaingan Usaha dan Perdagangan Bebas, yang diadakan oleh KPPU baru-baru ini di Bali, perdagangan bebas atau free market, adalah sebuah fenomena yang tak bisa dipungkiri lagi. Bahkan kompetisi yang terjadi didalam pasar bebas dapat dianggap sebagai senjata ampuh melawan korupsi.

Sebagai wujud pengawasan yang ingin dipraktekkan oleh UU ini, satu tahun setelahnya dibentuklah (KPPU), berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 75 Tahun 1999. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999, KPPU merupakan sebuah lembaga independen, dimana dalam menangani, memutuskan atau melakukan penyelidikan suatu perkara tidak dapat dipengaruhi oleh pemerintah atau pihak-pihak yang memiliki conflict of interest.  

Kini, pada tahun 2006, tak terasa Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 telah genap berusia tujuh tahun. Sementara Komite Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang lahir dari UU tersebut pun telah berusia enam tahun.

Masa lima tahun pertama dapat dikatakan sebagai masa pengenalan. Masih banyak pelaku usaha yang tidak mengenal UU No. 5/1999 dan baru datang, jika bermasalah, tatkala panggilan kedua atau ketiga dilayangkan. Banyak juga pejabat pemerintah yang belum mengetahui dan memahami kedudukan undang-undang tersebut didalam tata hukum Indonesia.

Undang-undang No. 5/1999 dan KPPU kini memasuki lima tahun kedua. Namun dalam menjalani tahap ini tatangan yang dihadapi pun kembali berbeda. Berdasarkan UU No. 5/1999 KPPU adalah sebuah lembaga pemutus. Akan tetapi dalam kasus tangker pertamina KPPU diputus oleh pengadilan negeri untuk membayar ganti rugi. Pemerintah pun masih menempatkan KPPU dalam skema pembiayaan proyek meskipun berdasarkan undang-undang ia adalah sebuah lembaga negara. Bahkan pada saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) sedang disorot akibat kasus korupsi yang ada di dalam lembaga ini, KPPU pun menerima sorotan negatif akibat masyarakat yang belum bisa membedakan antara kedua lembaga ini. Lembaga negara lainnya bahkan acap kali menduga KPPU adalah sebuah lembaga swadaya (LSM) yang mengawasi kerja pemerintah.

Ironi juga masih sering terjadi, misalnya daam kasus tarif pesawat. Pemerintah kini kembali campur tangan dengan menetapkan batas minimum tarif pesawat, padahal sebelumnya ketika tarif dibiarkan berkompetisi sangat menguntungkan konsumen. Beberapa kasus lain masih perlu mendapat perhatian dari KPPU, misalnya soal pengiriman tenaga kerja ke luar negeri yang tidak melalui tender. Adanya duopoli dalam bidang telekomunikasi, atau pun monopoli pada jaminan tenaga kerja.  KPPU pun maish menghadapi perkara monopoli yang berkaitan dengan pengelolaan bandar udara ataupun kasus yang berkaitan dengan lokasi hyper market yang berdekatan dengan pasar tradisional. Bahkan jika KPPU ingin lebih memperluas jangkauan pengawasannya, ia juga dapat mempersoalkan monopoli labelisasi halal yang dimiliki oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) misalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s