Apa Arti Kompetisi Bagi Kita (keempat – terakhir)

Tahap lima tahun awal ini pun dapat dikatakan sebagai tahap implementasi awal dari UU No. 5/1999. Dari sekitar 350 perkara yang dilaporkan kepada KPPU hingga kini ada sekitar 40 majelis perkara yang ditangani oleh KPPU. Masa lima tahun awal ini pun dapat dikatakan sebagai masa pembelajaran, karena masih banyak hal yang ada didalam undang-undang perlu dipelajari kembali. Banyak kasus yang dilaporkan oleh KPPU ditolak oleh pengadilan negeri. 

Sudah barang tentu masyarakat masih merasa belum puas dengan UU No. 5/1999. Namun hal ini bukanlah kasus yang menimpa Indonesia saja. Jepang telah memiliki undang-undang persaingan usaha sejak tahun 1947 namun masyarakat baru merasakannya secara efektif dan memuaskan pada tahun 1970-an. Ada beberapa hal yang mempengaruhi lemahnya penanganan kasus-kasus persaingan usaha:

a. Undang-undang itu sendiri.

b. Komitmen pemerintah.

c. Aparat penegak hukum.

Ketiga faktor diatas saling berkait satu dengan yang lain, bukan hanya diakibatkan oleh lemahnya KPPU ataupun pengadilan.

Banyak yang mengkritik bahwa ketidakefektifan UU No. 5/1999 disebabkan oleh pembentukan UU ini yang banyak meniru pengalaman Jerman dan Amerika Serikat. Padahal pengalaman yang ada di masing-masing negara tidaklah sama. Kasus monopoli di Jerman banyak disebabkan oleh industrial monopoli, sementara di indonesia banyak disebabkan oleh aturan-aturan hukum yang dibuat oleh negara yang memberikan kesempatan atau peluang bagi adanya monopoli atau dikenal dengan istilah government section monopoli. (pasal 51 UU No. 5/1999). Undang-undang No. 5 sendiri tidak menyelesaikan atau memberantas persoalan industrial monopoli atau pun government section monopoli.

 

 

Tak kurang pula banyak yang mengatakan bahwa UU tersebut dibuat lebih pada memenuhi tuntutan yang diberikan oleh IMF dan menunjukkan adanya perubahan politik dari era Soeharto ke Habibie. Akibatnya para drafter UU No. 5/1999 melihat persoalan yang ada di Indonesia dengan tajam dan hanya mengambil contoh apa yang telah terjadi di negara lain dan menterjemahkannya. Mereka lupa atau tidak memperhatikan institusi hukum yang telah ada. Hal ini menimbulkan beberapa persoalan dikemudian hari antara KPPU dengan lembaga hukum lain seperti kehakiman dan kejaksaan.

 

Dalam enam  tahun perjalanannya KPPU pun masih banyak menemui hambatan. Yang paling terasa adalah lemahnya sumber daya manusia yang ada di KPPU. Bahkan dalam menangani suatu perkara banyak diantara mereka yang belum memahami hukum acara, sehingga acap kali kasus yang mereka perkarakan ditolak atau diminta untuk diperbaiki oleh pihak pengadilan.

 

Mungkin benar apa yang diusulkan oleh beberapa pengamat hukum dan ekonomi yang mendorong adanya amandemen terhadap UU No. 5/1999. Ada sekitar 12 pasal didalam UU No. 5/1999 yang mengatur hukum acara yang perlu diamandemen karena banyak digunakan oleh para pelaku usaha untuk mematahkan putusan KPPU. Salah satu contoh adalah pasal yang mengatur proses pemeriksaan awal oleh KPPU, karena seringkali saat pemanggilan saksi bahkan menjadi tertuduh. Pada masa yang akan datang diharapkan pula KPPU banyak diisi oleh ahli hukum, terutama dalam komisi yang menangani kasus. KPPU juda dituding acapkali tidak memberikan akses data yang sama terhadap pembela. KPPU diharapkan dapat lebih terbuka dalam menangani kasus terutama dengan pengacara yang membela pelaku usaha.

Namun melihat kembali salah satu faktor yang ikut mempengaruhi efektifitas kebijakan kompetisi, yaitu komitmen pemerintah, agaklah miris jika melihat berlarutnya keputusan penetapan pemerintah terhadap komisioner KPPU yang baru. Karena tanpa disadari hal ini justru menghambat penanganan kasus yang semakin menumpuk.

One response to “Apa Arti Kompetisi Bagi Kita (keempat – terakhir)

  1. justino ximenes

    undang-undang merupakan suatu aturan yang sakral namun oknum-oknum yang menjalankan itu yang merusaknya. sala satunya adalah orang yang dimana dengan sengaja untuk melakukan suatu praktek monopoli. jadi dalam hal kompetisi boleh saja tetapi kompetisi yang seperti bagaimana dulu dan arahnya bersifat konstruktive atau tidak semua itu kuncinya adalah kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s