Penggemar Harry Potter siap-siap untuk bersedih.

Dasyat sungguh pengaruh “sihir” yang disebarkan oleh Harry Potter. Tanyalah saja tetangga atau teman kantor anda, tak ada yang tak kenal dengannya. Ia menjadikan sihir sebagai sesuatu yang biasa, tak lagi mistis, suram, dan terkait selalu dengan dunia hitam. Harry Potter menyajikan sihir yang lain, demi kebaikan. Banyak yang berharap, diakhir cerita atau fimnya, Harry Potter akan mampu “menghabisi” musuhnya Lord Vordemort. 

Namun toh perjalanan nasib bocah ini dapat berubah total akibat banyak penikmat ceritanya yang mengharapkan “happy ending.” Tak enak rasanya membiarkan “idola” kita tewas di penghujung cerita. Terlebih lagi amatlah jarang seorang tokoh cerita yang menjadi “hero” anak-anak meninggal akhirnya.

Mungkin ini yang membuat dua orang penulis terkenal Amerika Serikat, John Irving dan Stephen King mengajukan permohonan kepada penulis Harry Potter, J.K. Rowling untuk tidak “mematikan” tokoh fiksi tersebut dalam buku terakhir serial Harry Potter. Himbauan John Irving dan Stephen King ini diberikan pada konferensi pers bersama sebelum acara charity reading yang dilakukan oleh tiga penulis pada New York’s Radio City Music Hall, bagi pengumpulan dana Haven Foundation  dan  Doctor Without Borders. Namun Rowling sudah barang tentu tak memberikan janji apa-apa.

Rowling sendiri diberitakan sedang menyelesaikan buku ketujuh serial Harry Potter. Dikabarkan dalam buku terakhir ini dua karakter dalam serial tersebut akan meninggal.

Hanya Rowling yang tahu siapa dua karakter tersebut, bisa Harry Potter, bisa pula yang lain. Tak ada pula yang tahu alasan apa yang membuat Rowling harus “mematikan” Harry Potter, jika isu tersebut benar. Mungkin ia tak ingin dituntut terus harus melanjutkan cerita hingga Harry Potter dewasa, tua, dan pada ujungnya akan mati pula.

Yang jelas tindakan Irving dan Stephen King tak bisa dibenarkan dari sisi kebebasan berekspresi (melalui tulisan). Karena mereka telah memberikan intervensi kepada alur pemikiran yang telah ada didalam kepala Rowling. Tak selamanya seorang “hero” harus bertahan hidup hingga akhir cerita. Tatkala misi cerita selesai dapat saja ia “dimatikan.” Plot cerita tak harus mengikuti pattern yang biasa, yang “jahat” mati dan yang “baik” hidup bahagia selamanya. Sesekali dunia kanak-kanak harus pula belajar memahami “sad ending.”

Berita terkait dapat pula dibaca pada

http://www.msnbc.msn.com/id/14137761/?GT1=8404

One response to “Penggemar Harry Potter siap-siap untuk bersedih.

  1. Hahaha….
    Justru kebanyakannya, orang baik itu mati duluan…
    Sementara orang-orang jahat terus pada berkeliaran.
    Mungkin baik juga kalo ada kisah, yang menceritakan bahwa orang baik tersebut ternyata meninggalkan sesuatu karya/keturunan/dlsb., yang pada akhirnya mengubah dunia sehingga akhirnya kebaikan dan keadilan yang menang, meski si orang baik tadi tidak sempat menyaksikannya sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s