Why We Affraid of Free Trade?

Saya pikir-pikir penghambat pertumbuhan ekonomi, sebenarnya terletak pada rumitnya cara berpikir para pejabat pemerintah dan kebijakan mereka yang tak pernah jelas.

Ambil saja contoh kontroversi yang baru saja terjadi, yaitu persoalan produk sampingan dari industri tebu, molase. Pemerintah menginginkan produk ini tidak diperdagangkan ke luar negeri alias si eskpor, karena dapat dipergunakan sebagai bahan baku ethanol.

Pengadaan bahan bakar bio-energy adalah persoalan lain, tetapi memaksakan pengusaha agar tidak mengekspor produk mereka adalah perbuatan yang protektif. Apalagi harga jual produk tersebut rendah didalam negeri. Lantas, kalau lebih untung dijual keluar negeri, kenapa tidak.

Melompat pada contoh lain, yaitu industri musik. Pengaruh musik pop atau pop rock atau apalah istilah yang dimiliki oleh band-band Indonesia sudah merambah hingga Malaysia dan Brunai (sedikit). “Jualan” kaset, konser dan berbagai hal yang berbau musik Indonesia sangatlah menjanjikan di Malaysia. Orang dapat membantah, mungkin yang membeli adalah para pekerja Indonesia di Malaysia. Namun tetap saja pasar yang ada adalah pasar Malaysia. Para produser dan band-band tersebut melihat kesempatan pasar tersebut sangat menguntungkan. Maka muncullah beberapa konser disana. Lantas apakah hal ini salah dan harus dilarang.

Lantas apa reaksi kita jika Malaysia melarang masuknya industri musik pop Indonesia? 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s