Protectionist Nationalistic Cari Untungist

Rencana pemerintah membuka keran impor komditas yang berkaitan dengan subsektor peternakan mengundang reaksi hebat dari Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo, Ketua Assosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia Bachtiar Moerad, dan Ketua Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional Hartono. Mereka menilai kebijakan ini akan mengancam revitalisasi pertanian yang dicanangkan presiden dan akan memiliki dampak negatif dan beresiko tinggi.

Departemen Pertanian memang berencana membuka impor daging, terutama daging ayam, dari Amerika Serikat. Yang paling dekat adalah impor daging ayam dari sisa-sisa daging yang menempel pada tulang (mechanically deboned meat-MDM). Biasanya daging ini digunakan sebagai bahan baku sosis atau nuget. (lihat harian Kompas, 7 Agustus 2006, “Lima Rencana Impor Berisiko.”) Dari perhitungan kasar harga MDM impor berkisar Rp 6,500,- per kilogram, sedangkan harga untuk ayam lokal sekitar Rp 8,500,-

Disinilah persoalannya, Ketua Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional, Hartono, mengatakan bahwa perbedaanya harga yang cukup tinggi tersebut akan membahayakan industri unggas dalam negeri. (tanya kenapa…?) Ia juga mengkhawatirkan masuknya MDM akan membuat produsen paha ayam Amerika Serikat akan pula menuntut dibukakan keran impornya. Pertanyaannya, jika lebih murah mengapa tidak?

Sekali lagi tampak sudah ciri khas pengusaha Indonesia, selalu meminta proteksi. (Kali ini saya kok mendukung pemerintah). Mereka selalu berbicara seolah mereka lah yang PALING perlu dikasihani. Mereka tak membiarkan konsumen memiliki pilihan lain, dan memilih yang lebih murah. Bactiar Moerad, Ketua Assosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia, bahkan memakai embel-embel labelisasi halal untuk menolaknya, karena produk impor tersebut tak tentu rimba proses pemotongannya.

Apakah revitaslisasi pertanian memiliki kaitan dengan kebutuhan konsumen? Bagi konsumen, sejauh barang tersebut bermutu baik, mudah didapat, dan murah, mengapa tidak. Revitalisasi pertanian adalah tugas produsen dong, bukan tugas konsumen!!. Jika produsen pertanian tak mampu meningkatkan produksi, jangan beban kesalahan dan kegagalan tersebut ¬†dilimpahkan menjadi beban konsumen. Kalaupun mereka sukses dan mampu berproduksi sesuai dengan canangan pemerintah, dan pasar serta konsumen dalam negeri tak mampu lagi menampungnya, barang tersebut dapat di ekspor dan dicarikan pasar di luar negeri, melalui promosi tentunya. (Kalau memang gampang, kenapa dibikin susah…..)

One response to “Protectionist Nationalistic Cari Untungist

  1. wah anda tajam juga melihatpermasalahn.. memang pemerintah sudah bosnamemberiproteksi ters terusan , khususnya bagi yg nggakmaju maju.

    Apalgi kalao proteksinya sebenarnya buat dinimati pengusaha gede… Pernyataan Bachtiar dan Hartono tipikal pernyataan yg sebenarnya utk kepentingan sndiri tapi menamakan kepentingan peternak kecil atayu konsumen , padahal…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s