Soal Haramnya Infotainment

Musyawarah Besar Nadhatul Ulama (NU) yang berakhir 30 Juli lalu melahirkan beberapa maklumat penting dan menjadi bahan perdebatan setelahnya. Menurut saya ada dua hal penting, yaitu soal maklumat NU yang menegaskan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara dan fatwa haram terhadap tayangan infotainment.

Tak banyak yang menyoroti soal pertama. Padahal maklumat tersebut dapat dianggap sebagai respon terhadap maraknya perda-perda berbau syariah di beberapa daerah. Atau maklumat tersebut dianggap “basi,” karena toh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menegaskan perihal dasar negara ini saat memberikan pidato pada perayaan lahirnya Pancasila. Mungkin banyak orang justru mengharapkan NU sudah jauh-jauh sebelumnya mengeluarkan maklumat ini, sebagai counter terhadap pernyataan yang dikeluarkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal mengenai persoalan syariah ini.

Saya tak ingin mengomentari banyak soal maklumat tersebut, akan tetapi saya ingin sedikit sumbang opini mengenai “haram“nya infotainment.

Mendengar kata “haram” maka teringatlah akan ajaran agama dan berbagai larangan yang dikeluarkan “Tuhan” atau agama, misalnya dilarang memakan daging babi, dilarang meminum minuman yang memabukkan, dilarang berzinah, dilarang ini, dilarang itu, dilarang…., dilarang…., dilarang…., dan sebagainya. Sehingga kata haram pun mempunyai konotasi dilarang atau tak boleh oleh agama. Lantas dimana batasan haram tersebut, siapa yang berhak menentukan haram atau tidak. Apakah yang telah ditetapkan haram oleh Al Qur’an dan disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW bisa mendapat tambahan? Semuanya masih menjadi tandatanya besar, paling tidak menurut saya.

Sudah barang tentu saya bukanlah penikmat setia infotainment. Walaupun sekali-kali bolehlah ia disimak. Lantas apakah saya akan termakan oleh isu yang dilontarkan oleh infotainment tersebut, mempercayainya sebagai sebuah kebenaran. Tentu tidak. Namun Pasti muncul pertanyaan, ada berapa banyak orang yang kritis melihat infotainment dan ada berapa banyak yang tidak. Mungkin Lembaga Survey Indonesia (LSI) perlu melakukan survey tersendiri. Lantas apa sih yang ditakuti Nadhlatul Ulama?

Sudah barang tentu apa yang disajikan oleh infotainment patut kita pertanyakan kualitasnya. Bahkan beberapa pihak mengatakan infotainment bukan bagian dari jurnalistik, meskipun salah satu tayangan ini menggunakan embel-embel investigative. Jika ingin dikatakan sebagai bagian dari jurnalistik, mungkin perlu ada penataran atau pelatihan ulang bagi pengelola bisnis ini agar menyajikan liputan yang cover both side dan bukan berita “konon” dimana dengan hanya merekam gambar rumah atau mobilnya sudah dianggap mendapat quotation. 

Namun menyatakan ia sebagai barang “haram” adalah persoalan yang lain. Paling tidak mengapa ia dianggap haram. Jika dianggap merusak atau tidak mendidik biarlah mekanisme pasar yang menentukannya. Toh masih banyak masyarakat kita yang menyukainyai. Lantas apakah ia mengakibatkan masyarakat menjadi bodoh atau kebodohan dan ketidaktahuan masyarakatlah yang semakin menyuburkan tayangan ini. Seperti tanyangan mistik misalnya. Jelas-jelas jelas sinetron atau cerita-cerita berbau hantu dan azab kubur yang juga menghiasi berbagai saluran televisi nasional, sangat jauh dari sifat mendidik dan membuat masyarakat menjadi pintar. Namun kenapa tidak ada fatwa haram yang keluar. Apakah memang orang yang masih berutang atau meninggal suatu beban selama hidup, akan bangkit dari kubur, terbang bergentayangan dan menghantui orang yang masih hidup? Jika ia bertentangan dengan ajaran Al Qur’an dan sunnah Rasullullah mengapa tidak cepat dinyatakan “haram” untuk ditonton?  

One response to “Soal Haramnya Infotainment

  1. Sorry I cannot read or understand Malay language. But I would like you to know that I was at the first FNF Express Yourself seminar on blogging last March. It’s good to know the success of the second seminar with your new blog.
    I actually got your email and blogsite from the NPM seminar. We are classmates. I hope to learn from you and the others in this on-line seminar and contribute my own too to enrich the principles and practice of NPM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s