Cara Ketawa Ala Sri Mulyani: Pemerintah dan Cukai Tembakau

Lelucon yang tak lucu dilontarkan Menkeu Sri Mulayani, berkaitan dengan pendapatan cukai rokok. Ia mengatakan pungutan yang paling mulia adalah mengenakan cukai untuk rokok, karena dianggap membatasi kosumsi rokok, dan membuat semua orang dapat hidup sehat. Namun menurut Mulyani akibat ekonomi yang belum membaik ternyata membuat banyak orang depresi, “Akibatnya, konsumsi rokok justru naik, dan pendapatan cukai juga naik,” ujarnya seperti dikutip oleh Jawa Pos.

Lontaran ini menjadi tidak lucu karena seolah-olah menempatkan perokok sebagai orang yang depresif. Disamping itu alasan Sri Mulyani yang mengatakan bahwa mengenakan cukai rokok sebagai perbuatan mulia karena membuat orang sehat merupakan pernyataan yang munafik (walaupun sebuah lelucon), karena yang diuntungkan dengan kenaikan atau penetapan cukai rokok adalah semata-mata negara.

Pendapatan negara dari cukai rokok dari tahun ke tahun selalu naik. Pendapatan cukai pada semester I tahun 2006 saja lebih besar 28,5 persen dibanding semester yang sama pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2005 lebih dari 90 persen pendapatan cukai, yang berjumlah Rp 12,979 trilliun, disumbangkan oleh produk rokok.

Produk rokok adalah salah satu produk yang harga jual ecerannya ditentukan oleh pemerintah, bahkan per batang. Ini saja sudah menyalahi prinsip dan mekanisme pasar. Ketentuan ini berdasarkan ketetapan pemerintah mengenai harga dasar hasil tembakau.

Tentunya pemeritah mememiliki alasan pintar dalam menerapkan aturan ini. Bayangkan berapa jumlah rupiah yang dapat diperoleh pemerintah dengan menaikkan cukai sebesar Rp 50,- per batang/1 April 2006, dan dikalikan sekian puluh juta batang yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan rokok. Jadi penetapan cukai rokok bukan semata karena niat baik pemerintah untuk melihat rakyatnya sehat, melainkan pula untuk mengisi kocek negara. DAN, CARA INI SANGAT MUDAH KARENA BANYAK RAKYAT INDONESIA YANG DEPRESI, jika mengikuti cara berfikir (cara ketawa) ala Sri Mulyani. Jika demikian buat saja perekonomian tidak tumbuh, rakyat semakin depresi, semakin banyak yang merokok, semakin besar pendapatan cukai pemerintah. Logika berfikir yang sederhana.

Jika demikian peraturan-peraturan daerah yang melarang merokok di tempat-tempat umum, dapatkan dianggap bertentangan dengan target/kebijakan pemerintah pusat…???

2 responses to “Cara Ketawa Ala Sri Mulyani: Pemerintah dan Cukai Tembakau

  1. Sampeyan tampaknya keliru memahami maksud perkataan Bu Sri Mulyani. Maksudnya itu, kalo pajaknya tinggi diharapkan konsumsi rokok akan turun. Karena itu, adalah mulia memajaki rokok dengan cukai setinggi-tingginya.

  2. ya saya setuju dengan pak anggito. salut untuk ibu sri mulyani yang tidak cuma pakar dalam mengelola keuangan indonesia, tapi juga peduli pada perbaikan kesehatan dan kesejahteraan bangsa indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s