Busway dan Public Service

Soal macet karena pekerjaan proyek koridor busway yang baru dan monorail mungkin sudah jadi cerita basi. Setiap hari perjalanan pagi saya menjadi lebih panjang akibat limpahan kendaraan yang menghindari arus Kampung Melayu dan Kuningan. Teman saya bila mungkin itu pengorbanan, jika mau tak macet nantinya, ya bermacet-macet dulu lah.

Namun yang menarik adalah perbincangan “Kupas Tuntas” di TV 7 tadi malam, yang menghadirkan Nurachman, Kadin Perhubungan DKI Jakarta dan pengamat transportasi Bunyamin Ramto, yang dahulu juga menjadi salah satu pejabat penting dalam dinas pemerintah DKI Jakarta.

Saya tidak ingin berkomentar mengenai berbagai perhitungan dan analisa yang dikemukakan oleh Bunyamin Ramto ataupun alasan dan argumentasi Nurachman, yang saya anggap terkadang “mulur mengkeret.” Yang menarik adalah insert tayangan acara tersebut, mengenai layanan public sarana transpotasi Trans Jakarta. Ditayangkanlah bagaimana susahnya penyandang cacat menggunakan jasa layanan transporatasi ini. Tak ada tangga naik atau turun yang dapat pula melayani dan membuat nyaman penyandang cacat di kursi roda, tangga yang curam, atau bahkan ia tak dapat masuk dan keluar melalui pintu cek tiket, yang sempit dan dibatasi oleh tiga besi berputar yang harus kita dorong dengan susah payah.

Nurachman beragumentasi bahwa soal pelayanan terhadap penyandang cacat telah dipikirkan secara seksama. Ia mengatakan bahwa toh dalam tayangan tersebut ada pintu atau jalur jalan darurat yang disediakan disetiap halte busway, yang dapat digunakan oleh penyandang cacat. Lagipula tangga yang curam serta tak dapat dilalui oleh penyandang cacat tersebut hanyalah terdapat pada halte yang “kebetulan” ditayangkan oleh TV 7.

Argumen ini membuktikan bahwa aparat pembuat kebijakan, DKI Jakarta, tak memahami prinsip kebijakan publik dan layanan publik. Tak ada alasan pengecualian disana, ia harus berlaku sama dan dapat dinikmati oleh siapapun yang menjadi warga DKI Jakarta, tanpa diskriminasi. Tatkala membuat sarana umum ia harus dipikirkan dapat pula dinikmati oleh penyandang cacat, anak kecil, atau orang tua jompo, laki-laki atau perempuan, karena istilah publik (umum) yang dipakainya. Ia harus berlaku sama pada seluruh layanan umum yang diberikan. dalam kasus busway misalnya, tak boleh ada pengecualian pada halte tertentu dengan alasan lahan yang sempit. Jika lahan tersebut sempit, maka jangan dibangun halte disana, sangat simple.

Sebenarnya prinsip layanan publik ini tak hanya berlaku pada busway saja. Kita juga menjumpai terjalnya jembatan penyebrangan, yang membuat orang berfikir untuk apa susah-susah menaikinya, bikin cape saja. Seharusnya pemerintah daerah harus memikirkan dan mengkaji secara mendalam setiap kebijakan yang menyangkut pelayanan umum yang akan disiapkan. Layakkah dipakai oleh semua orang, dari segala usia, dari segala jenis kelamin, normal atau pun penyandang cacat. Larangan atau hukuman akan menjadi lebih efektif, jika segalanyanya sudah dipikirkan matang. Jika tidak akan ada alasan warga, “ngapain naik susah-susah jembatan penyebrangan, lebih baik dibawah saja, nggak cape.”

Efek jera akan terasa jika layanan publik yang ditawarkan memang menjadi alternatif terbaik bagi warga.

3 responses to “Busway dan Public Service

  1. MENYULAP JALAN MENJADI BUS

    Di kalangan masyarakat beradab, terdapat suatu ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa.” Ungkapan itu tidak hanya sekedar pemanis mulut para elite atau penguasa di sana, tetapi diamalkan secara dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah kita bisa saksikan bagaimana di negara-negara berperadaban maju, betapa seriusnya mereka mempelajari, mengembangkan dan melestarikan bahasa yang mereka miliki. Para elitnya berbicara dengan bahasa nasionalnya sendiri secara runtut dan menggunakan tata bahasa yang sangat baik. Mari kita bandingkan dengan kondisi di negeri ini: banyak kalangan yang tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia secara benar, sembari getol menggunakan bahasa impor. Ironisnya, digunakan dengan salah kaprah pula. Contoh nyata adalah istilah yang sangat populer di santero republik ini: bus-way. Di negeri seberang sana, asal istilah tersebut dicomot, bus-way merujuk pada way (jalan). Tetapi entah bagaimana ceritanya, di sini, istilah itu justru merujuk pada benda yang berbeda. Saya sering geleng-geleng kepala membayangkan ratusan juta warga republik ini yang sedikitpun tidak merasa terganggu dengan penggunaan bahasa yang salah kaprah tersebut. Luar biasa: seorang Sutiyoso bisa membodohi ratusan juta kepala (termasuk para mahasiswa, para wartawan, profesor perguruan tinggi, pejabat tinggi, tidak terkecuali RI Satu dan Dua). Buktinya tak satu pun di antara mereka yang protes terhadap semakin kukuhnya istilah busway di tengah kehidupan masyarakat bangsa ini. Hayo, siapa mau meluruskan ini, bukankah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Oktober, yang telah dinobatkan sebagai bulan bahasa nasional kita.

    Anton
    Ciputat, Tangerang – Banten

  2. Anton: setahu saya busway itu sendiri memang menunjuk pada jalur khususnya. Sementara bisnya sendiri dinamakan bis transjakarta (tjie). Saya rasa hal ini cukup disosialisasikan melalui koran gratis yang sering disediakan di halte-halte.

  3. saya kurang sependapat dengan busway,… seberapa banyak angkutan/moda transportasi yang ada di jakarta jika aparat penda tidak bisa mengatur tata ruang bangunan ya percuma aja,.. misalnya untuk perkantoran hanya dipusatkan di satu titik saja yang tidak boleh bersebelahan dengan tempat pendidikan, begitu pula jika ada pusat perbelanjaan di sampingnya jangan ada pusat perkantoran atau sarana pendidikan,.. mungkin jika jakarta itu di tata dengan baik oleh pemda maka jakarta tidak memerlukan busyaw lagi yang hanya menambah kesemrawutan jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s