Ramadhan Tiba Sweeping pun Tiba

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan dan menjalankan ibadah puasa. Tentunya beragam cara orang menyambutnya, ada yang segera mencari sajadah baru atau kopiah, karena yang lama sudah tua dan kusut. Ada yang melihat-lihat dan mencicil bingkisan yang diberikan pada Idhul Fitri (Hari Lebaran), atau ada pula teman-teman yang sibuk mengajak bertemu, “nongkrong” sebelum puasa mulai katanya.

Namun ada cara menyambut bulan Ramadhan yang mulai lazim dilakukan sekarang dan menakutkan, yaitu “sweeping” tempat-tempat hiburan, baik yang remang-remang maupun terang, oleh sekelompok orang yang acap pula membawa embel-embel agama (Islam tentunya..).

Terus terang cara ini menjadi menakutkan dan meresahkan, seperti yang saya tonton semalam, dalam sebuah liputan televisi, tentang sweeping yang dilakukan sekelompok masyarakat terhadap tempat hiburan (warung remang-remang katanya) di daerah Parung, Bogor, Jawa Barat.  Terlibatlah kelompok ini dalam perkelahian, baik dengan tangan maupun kayu, dengan kelompok masyarakat yang acap berada di warung-warung ini (yang dikatakan sebagai preman oleh mereka), hingga babak belur mengeluarkan darah dan lari terpontang-panting. Inikah cara yang baik menghadapi Ramadhan?

Katakanlah tak ada yang terluka parah pada kejadian tersebut, namun jika ada yang terluka hingga cacat atau terburuk, meninggal dunia, apakah dapat dikatakan sebagai pengorbanan yang pantas dalam prosesi menyambut Ramadhan. Jika beberapa orang dari kedua belah pihak menderita luka parah, menjadi cacat, atau meninggal dunia, Apakah mereka dapat menikmati dan memasuki Ramadhan dengan bagai lagi. Siapa yang akan menggantikan mereka mencari nafkah bagi keluarga mereka. Sama artinya, jika terjadi, kita memberi kesengsaraan terhadap keluarga mereka tatkala menyambut dan memasuki bulan Ramadhan, yang selayaknya disambut dengan suka cita. 

Sudah barang tentu efek yang dirasa jelas adalah keresahan dan ketidaknyamanan dalam mencari nafkah, karena bisa saja sewaktu-waktu terkena sweeping

Apa tindakan ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW atau para sahabatnya tatkala mereka hidup, dalam menyambut bulan Ramadhan?

Lucunya, bahkan menjadi bodoh saya kira, petugas kepolisian Pamong Praja yang saat itu hadir tak berbuat banyak, bahkan cenderung jalan beriringan menonton. Lantas hukum dan wewenang siapa yang dipakai?

Yang lebih menakutkan cara ini akan dicontoh oleh daerah-daerah lain………

3 responses to “Ramadhan Tiba Sweeping pun Tiba

  1. Pemahaman masyarakat kita terhadap keyakinan kebanyakan memang masih pada permukaan, bukan pada esensi. Ini nggak cuma pada soal agama, tapi juga keyakinan politik atawa keyakinan ras. Pada akhirnya inilah yang melahirkan fanatisme sempit, sikap fanatik yang berlebihan namun dagkal.

    Hasil akhirnya adalah, kita justru tidak memuliakan apa yang kita yakini benar, malah mencoreng-morengnya.

    Btw, salam kenal yah. Thx udah main ke weblog gue🙂

  2. Kepada Yth:
    Para Warga Sipil Pencinta Kekerasan

    Assalammualaikum w.w!
    Setiap kali menyaksikan sekawanan warga sipil melakukan kekerasan terhadap sesamanya, saya merasa miris. Betapa tidak! Budaya kekerasan tidak lagi monopoli kalangan “berseragam” – warga sipil pun sudah punya otoritas untuk menggunakan kekerasan secara absah. Dengan dalih melindungi masyarakat, mereka bertindak bagai polisi moral.
    Sehubungan dengan fenomena kekerasan oleh sipil tersebut, terutama menjelang datangnya Ramadhan, yang sering disemarakkan dengan tindak kekerasan oleh segelintir kalangan, saya ingin titip pendapat.

    Umumnya, alasan para “Polisi Moral” tersebut menggunakan cara-cara kekerasan adalah “guna melindungi masyarakat.” Jika niatnya memang mau melindungi masyarakat: Mengapa Anda tidak menggunakan potensi tersebut (pikiran, tenaga, dan keberanian) untuk memerangi premanisme. Lihat lah di sekitar pasar, para pedagang, dan terutama supir-supir angkot setiap saat di-palak-in/peras/pungli oleh para preman secara terbuka dan arogan. Saya amati di beberapa tempat, seperti di pasar Kebayoran Lama, Tanjung Priok, Tanah Abang, Ciledug, Ciputat, dll, para preman secara leluasa memeras para supir angkot/mikrolet. Setiap angkot dimintai antara rp 500 sampai rp 1000 per sekali lintas, tanpa ada yang menyoal. Dengan menghitung banyaknya angkot dan besaran rit-nya setiap hari bisa dibayangkan berapa banyak jumlah rupiah yang dihasilkan para pemeras tersebut dari hasil keringat para supir yang malang itu. Jika Anda, para Polisi Moral, benar-benar memang mau melindungi masyarakat, kehadiran Anda sebenarnya lebih dibutuhkan kaum dhuafa (kehidupan supir rata-rata di bawah garis kemiskinan) tersebut. Seandainya Anda bersedia mengerahkan “power” yang dimiliki untuk melindungi masyarakat supir dari pemerasan para preman, pastilah kehadiran Anda akan diterima sebagai berkah.

    M. Frengky
    Cililitan, Jakarta Timur

  3. tolong kirimin dong yang lebih menarik lagi yang menyangkut masalah keluarga maupun kehidupan bermasyarakat yang selalu membuat kita – kita jadi bingung tuk nentuin mana yang harus di lakukan dan mana yang nggak boleh dilakukan , jadinya bagaimana caranya agar pihak warga itu mau mengerti akan kemaslahatan bersama yang selama ini kita dambakan pemimpin yang senantiasa selalu mengayomi warganya dan tidak pernah pilih kasih dalam memberikan keadilan sama warganya , tolong yah segera kirimin yang terbaik dan bermanfaat. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s