Oleh-oleh Malaysia

Saya baru saja kembali dari dua acara conference di Kuala Lumpur, Malaysia, yang berlangsung sejak tanggal 10 hingga 14 September 2006. Satu acara adalah 3rd Annual Liberty Forum of Asia dan satu acara yang lainnya adalah 8th Economic Freedom network Asia (EFN), yang pada tahun ini mengambil tema berkaitan dengan free trade (perdagangan bebas). Malaysia sudah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Jepang dan sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Langkah yang lebih berani dibanding negara tetangganya Indonesia, yang masih menggantung dengan RUU Invetasi dan RUU Perpajakan.

Malaysia jelas lebih maju dibanding Indonesia. Tak perlu kita melihat angka statistik, yang kasat mata saja kita melihat perbedaannya. Bandara Internasional Kuala Lumpur, pintu gerbang memasuki Malaysia, dengan menggunakan pesawat, jauh lebih keren dari Bandara Internasional Soekarno Hatta. Setibanya di bandara ini kita segera disambut oleh announcement berbahasa Melayu, Inggris, Jepang, China, dan Arab. Berulang-ulang memberitakan ketibaan dan keberangkatan pesawat serta pintu mana kita harus masuki.

Selepas itu kita disambut oleh light train yang akan membawa kita menuju counter imigrasi dan pengambilan barang. Kembali kita disambut dengan kebersihan, tak ada corat-coret dan pintu kereta yang terbuka sesuai dengan keluar masuk penumpang. Pelayanan imigrasi pun hanya sekejab (demikian orang Malaysia mengatakannya). Ada pembagian yang jelas antara warga Malaysia yang kembali dan warga asing yang berkunjung.

Pengambilan barang pun sangat cepat. Kereta dorong yang kita butuhkan tepat berada di pintu keluar imigrasi dan dapat segera kita gunakan. Bandingkan dengan Soekarno Hatta sekali lagi, dimana kita harus berjalan lumayan jauh dulu untuk mengambil kereta dorong, atau disambut oleh sekelompok kuli dorong yang menawarkan jasanya (teman saya pernah dengan sinis mengatakan, “dasar bangsa kuli, apa tak ada jasa lain yang bisa ditawarkan.”). Seusai mengambil barang, kita tinggal memilih, menaiki taksi atau kereta cepat, menuju Kuala Lumpur. Saya memutuskan mengambil tumpangan kereta cepat, karena murah hanya 35 Ringgit, dan cepat, hanya 40 menit. Kereta yang bersih, ber-AC dan layar televisi yang dapat kita tonton. Tak berdesakan dan dapat duduk dengan nyaman atau tidur, karena kereta hanya akan berhenti lagi di Central Station Kuala Lumpur. By the way, ada joke yang konyol, orang Malaysia mengatakan ibukotanya sudah pindah ke Jawa Timur, di Porong, Sidoadjo……

2 responses to “Oleh-oleh Malaysia

  1. Mas thamrin, terima kasih untuk link hasil seminarnya. Saya memang sangat tertarik mempelajari perjalanan India dan China yang sungguh gesit menangkap peluang hingga menggetarkan dunia.

    Saat ini saya memang sedang riset (pribadi) tentang India khususnya untuk SDM TI-nya.
    Ok, saya sangat menghargai jika mas Thamrin punya info lain menyangkut hal itu. Sya tidak menemukan secara khusus lho dari link presentasi peserta asal India itu…

  2. Maaf, memang tak ada hal spesifik yang menyangkut IT dalam presentasi tersebut. Saya belum menemukan yang spesifik, tapi mungkin bisa dicoba di alamat url ini. http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/4447833.stm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s