Pemerintah Singapore Melarang Far Eastern Economic Review (FEER)

Pemerintah singapore baru saja, 28 September 2006, melarang peredaran majalah Far Eastern Economic Review (FEER) di Singapore. Berdasarkan statement yang dikeluarkan oleh FEER, bukan hanya Review Publishing Company yang dilarang melakukan import atau distribusi majalah tersebut di Singapore, namun juga ancaman tindakan kriminal akan dikenakan kepada warga Singapore yang mengimport dan mereproduksi majalah tersebut.

cover.jpgSementara itu berdasarkan press release yang dikeluarkan partai oposisi di Singapore, Singapore Democratic Party, pemerintah Singapore menganggap FEER telah gagal memenuhi ketentuan pers yang berlaku di negara ini. Pada tanggal 3 Agustus lalu, pemerintah Singapore meminta lima penerbitan Asing, Far Eastern Economic Review (FEER), Time, Newsweek, Financial Times, dan International Herald Tribune, menyerahkan obligasi sebesar S$ 200.000,- dan menempatkan kantor perwakilan resminya di Singapore.

Pada akhir Agustus, Perdana Menteri Singapore Lee Hsien Loong dan ayahnya Lee Kuan Yew, sama-sama mengajukan tuntutan pencenaran nama baik terhadap penerbut dan editor FEER, berkaitan dengan artikel yang diterbitkan pada bulan Juli 2006, tentang tokoh oposisi Chee Soon Juan. Namun Menteri Informasi, Komunikasi, dan Seni, pada statement yang dikeluarkannya pada hari kamis lalu mengatakan bahwa ijin FEER dicabut karena tidak mampu memenuhi ketentuan pers yang berlaku di Singapore.

Patut diketahui Media watchdog Reporter Without Borders menempatkan Singapore pada urutan 140 dari 167 negara, mengenai kebebasan pers. Ironisnya, berdasarkan rangking yang dikeluarkan oleh Doing Bussines 2007, World Bank, Singapore naik posisi dari nomor dua ke nomor satu, untuk soal kemudahan berbisnis. Lantas apakah melarang media beroperasi di Singapore tidak termasuk dalam kategori menyulitkan bisnis?

2 responses to “Pemerintah Singapore Melarang Far Eastern Economic Review (FEER)

  1. Iya ironis memang kalau bicara soal kebebasan bersuara dan tingkat ekonomi di Singapura itu, Pak. Hal ini mungkin ada persamaannya dengan Indonesia pada era Orde Baru. Makanya ada yang bilang kalau tingkat kebebasan bersuara dan tingkat kemajuan ekonomi itu adalah berbanding terbalik. Tapi kebenarannya…, wallahuallam …

  2. Untuk kasus Singapore memang aneh, mungkin karena ia negara kecil. Namun beberapa survey yang dilakukan Economic Freedom Network (www.freetheworld.com), justru menunjukkan kebebasan ekonomi dan demokrasi yang seiring dan sejalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s