Masih Tentang Malaysia

Pada cerita yang lalu, Oleh-oleh Malaysia, saya baru menulis hinga ketibaan saya di KL Central Station. Cerita agak terputus, dan inilah sedikit lanjutannya.

Saya mungkin perlu bercerita sedikit mengenai KL Central Station, yang berbeda jauh dengan Stasiun Gambir atau Stasiun Kota misalnya. Sangat bersih dan memberi kemudahan penumpang. Lagi-lagi, saat kita melangkah di ujung eskalator keluar ada tourist guide map kota Kuala Lumpur, yang gratis dan dapat kita ambil. Suasana central ststion ini lebih layak disebut mall, karena dipenuhi beberapa toko yang menjual cidera mata, pakaian, ataupun cafe-cafe, tempat dimana kita dapat menyeruput kopi, menunggu jadwal kereta api.

Untuk mendapatkan taxi menuju hotel juga suatu perkara mudah. Kita tinggal memilih antrian, ingin limousin kah atau taxi biasa. Jelas argonya berbeda dan tergantung area yang akan kita tuju. Sesudah mengantri, membayar berdasarkan taxi yang ingin kita tumpangi, melangkah keluar dan taxi sudah menunggu di lobby stasiun. Aman, gampang, dan tak ada calo yang menawarkan taxi serta meminta uang tips kepada supir. Kapan yach Bandara Soekarno Hatta seperti itu, konon sudah ada regulasi dan razia berkali-kali :)  Rute menuju hotel tak lah terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jalan raya dan moda transportasi yang dimiliki Malaysia, paling tidak KL, sudah lebih maju daripada Jakarta, dibanding terakhir saya ke KL pada tahun 1998. Monorail, subway, dan bus menjadi sarana utama transportasi umum.

Hotel yang saya inapi terletak tak jauh dari gedung menara kembar Petronas. Hanya membutuhkan waktu lima menit jalan kaki. Komplit dan selalu penuh, ada restoran, cafe, butik, supermarket, etc. Agaknya jadi tempat-tempat ngumpul dan bertemu warga di KL. Hamid Basyaib yang saat itu bersama saya mengatakan, “beda dengan Indonesia, mallnya terang benderang.”

Ada plaza yang terletak dibelakang gedung, dimana pada malam hari dipenuhi oleh pengunjung yang hanya sekedar duduk-duduk melihat ke arah kolam yang memiliki air mancur “joget,” sama dengan Monas dahulu. (bahkan air mancur di Monas lebih unggul karena penuh warna-warni)

Yang mengagumkan adalah tersedianya public space. Bayangkan jika kita duduk-duduk di depan plaza Senayan atau plaza Indonesia misalnya, mungkin sudah diusir satpam.

Mencari makan tidaklah sukar dan tidak mahal, dengan menu yang tak berbeda dengan di Indonesia. Saya akhiri ketakjuban saya dengan kembali ke hotel, yang setiap kamarnya dihubungkan dengan kabel internet, walaupun sedikit mahal, tapi paling tidak dapat disewa fixed price per hari tanpa harus membengkak karena tagihan telephone.

One response to “Masih Tentang Malaysia

  1. Dalam 2 tahun dahulu memang tidak dibenarkan duduk di hadapan tasik KLCC even if its just to watch the fountain or have a smoke …pasti diusir oleh security guard. Hanya sekarang aja yang orang ramai dibenarkan duduk …maybe they got tired of having to chase people away..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s