Ramadhan = Sweeping Pengemis?

Bukan rahasia lagi jika selama bulan Ramadhan jumlah pengemis di kota-kota besar bertambah. Istilah yang acap dipakai adalah “gepeng musiman.” Saya sendiri enggan memakai istilah gepeng, karena terkesan sebagai sebuah kelompok penjahat, dengan memakai istilah “gerombolan pengemis.”

Sudah barang tentu fenomena ini tak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain, seperti Surabaya, Medan, Palembang, Bandung, Semarang, dan lain-lain. Paling tidak di ibu kota propinsi. Seiring dengan itu, pemerintah daerah, melalui Satuan Polisi Pamong Praja, pun tak kalah gesitnya melancarkan “sapuan”nya merazia pengemis, warung remang-remang, atau pekerja seks komersial (PSK).

Justru inilah yang mengherankan. Mengapa begitu gencar dilakukan pada saat Ramadhan? Apakah ingin memberi citra baik kepada yang berpuasa? Dengan merazia pengemis atau PSK, seolah ingin member pesan, “beribadahlah kalian dengan tenang, mendapat ganjaran dari Allah, karena kami telah meciptakan situasi yang kondusif.” Pertanyaannya adalah, apakah ibadah puasa kita terganggu dengan adanya para pengemis tersebut atau PSK misalnya? Apakah justru di bulan Ramadhan kita ingin menjadi munafik dan menutup mata terhadap kemiskinan yang ada di negeri ini. Atau mungkin ini suatu interpretasi pihak pemerintah terhadap bunyi pasal 34 UUD 1945, “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.” Paling tidak pemerintah ingin “mengumpulkan” kembali anak-anak dan fakir miskin yang seharusnya mereka asuh dan sedang terlantar di jalan.

Patut dipertanyakan, apakah setelah digiring keatas mobil-mobil petugas polisi pamong praja tersebut, apakah mereka akan terus ditampung dalam panti sosial yang “telah” disediakan oleh pemerintah, dididik, dan diberi bekal keahlian yang dapat dipakai sebagai modal mecari kerja atau membuka usaha? Atau mereka sekedar digiring dan kemudian diberikan sekedar ongkos untuk kembali ke kampung mereka?

Fenomena ini terjadi setiap tahun. Pemerintah pun tahu bahwa ini terjadi akibat kemiskinan yang ada di pedesaan, lapangan kerja yang sedikit, dan para pengemis yang berfikir bahwa sekali dalam setahun mereka ingin meraup rezeki yang “lebih” di bulan Ramadhan.

Menurut saya, cara “sweeping” ini hanyalah upaya menutup borok sementara dan kembali bernanah setelahnya. Selain itu hanya memboroskan anggaran pemerintah saja. Toh pemerintah tahu bahwa akar persoalannya bukanlah “menggaruk” mereka dan mengembalikan ke desa.

Suatu saat saya menyaksikan operasi “sweeping” yang dilancarkan polisi pamong praja di Mataram, Nusatenggara Barat, pada suatu stasiun televisi. Sungguh membuat miris. Anak-anak kecil yang mungkin berusia 5 hingga 7 tahun berlari ketakutan, panik, dan menangis tatkala petugas pamong praja mengejar mereka. Bahkan ada yang terkencing-kencing di celananya. Tangisan dan jeritan ini mungkin akan lekat seumur hidup mereka dan menjadi trauma seumur hidup mereka.

Kota pun menjadi bersih karena telah “disapu” dengan meninggalkan tangis, jeritan, dan trauma. Pemerintah seakan telah merasa menjalankan kewajibannya, memberikan layanan baik bagi yang menjalankan puasa dan “memelihara” fakir miskin dan anak terlantar. Paling tidak di bulan Ramadhan.

Lantas apakah “sweeping” ini telah memberikan “ketenangan” dan “kemenangan” bagi yang menjalankan ibadah puasa?

3 responses to “Ramadhan = Sweeping Pengemis?

  1. iya, padahal berpuasa di tengah godaan (psk) itu kan pahalanya lebih besar daripada berpuasa tanpa ada godaan (psk).

  2. soal garuk menggaruk itu… ah, mungkin biar mereka ada kerjaan di saat ramadhan …

  3. Mas Putra, saya setuju, berarti justru kita harus membiarkan atau menciptakan “godaan” itu, agar pahala kita semakin bertambah….🙂

    Mas Daus, kalau Polisi Pamong Praja boleh bekerja, logika yang sama kan juga berlaku bagi pengemis atau PSK tersebut. Atau setelah “digaruk” mereka dilepas lagi yach, dan “digaruk” lagi esok harinya. Orangnya sih itu-itu saja….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s