Wajah Tak “cantik” Imigrasi Kita

antridibandara.jpgKisah ini bermula dari kepulangan saya mengikuti seminar di Gummersbach, Koln, Jerman. Pada saat itu saya baru saja mendarat dengan pesawat KLM dari Amsterdam, pada hari Sabtu, 4 November 2006, pada sore hari sekitar pukul 17.35 WIB. Sudah barang tentu keinginan yang ada dibenak saya saat itu adalah segera keluar dari pesawat, dengan badan yang letih akibat tempuhan perjalanan yang memakan waktu sekitar 14 jam, menuju imigrasi, mengambil barang, dan segera mencari taksi menuju rumah yang nun jauh di Bukit Sentul, Bogor. Masih ada sekitar satu atau satu setengah jam perjalanan lagi.

Namun apa lacur, antrian yang saya ikuti ternyata terlalu panjang untuk mengharapkan cepat-cepat selesai dan segera keluar bandara mencari kendaraan pulang. Ratusan penumpang yang baru keluar pesawat harus antri menunggu layanan petugas imigrasi memberikan cap pada paspor mereka. Dan seperti biasanya tak ada pemisahan antara pemegang paspor Republik tercinta ini dengan paspor asing. Semua pukul rata dan berada dalam antrian yang sama. Di beberapa negara diberlakukan pemisahan antara warganegara yang kembali dari luar negeri dengan orang yang akan masuk kedalam negara bersangkutan. Karena proses bagi warganegara sendiri biasanya lebih cepat dan tak membutuhkan pemeriksaan apakah telah mendapatkan visa atau tidak. Lucunya sebelum meja imigrasi ada tulisan besar-besar, walaupun tak ada keterangan yang jelas untuk meja imigrasi yang mana, “UNTUK PEMEGANG PASPOR ASING.” Mungkin karena tak tergantung dan hanya terletak dilantai dan bersandar pada dinding tiang, tak ada satupun yang perduli.

Keanehan lain pun mulai bermunculan satu per satu. Pada saat itu, sore hari Sabtu malam Minggu, sudah lazim menjadi jam-jam sibuk kedatangan pesawat di bandara Soekarno-Hatta. Tak hanya lokal namun pula luar negeri. Dari suara “pengumuman” yang dibacakan oleh petugas bandara serta papan pengumuman kedatangan pesawat, pada saat yang bersamaan dengan pesawat KLM yang saya tumpangi dari Amsterdam dan singgah di Kuala Lumpur sebelum menuju Jakarta, paling tidak ada sekitar empat pesawat lain yang menyusul sesudahnya, dalam waktu yang hanya berbeda empat hingga lima menit, dari Singapore, Ho Chi Mihn City, danbeberapa kota lain. Namun ditengah antrian yang panjang serta pengumuman yang bertubi-tubi terhadap kedatangan pesawat yang baru mendarat tersebut, ternyata tak mampu membuat bergeming para petugas imigrasi yang ada di bandara Soekarno Hatta. Tetap ada beberapa petugas yang hanya berdiri dan memandangi antrian tanpa tahu harus berbuat apa atau ada pula yang berjalan lalu-lalang.

Ada beberapa meja imigrasi yang saya lihat kosong dan tak memberi layanan. Satu atau dua pintu yang terletak dipojok kiri baru dibuka setelah antrian menunggu lebih dari lima belas menit. Selebihnya meja yang kosong lainnya tetap sama. Ada satu petugas yang berdiri tak jauh dari saya, yang kemudian saya tegur dengan menyindir

“Nggak ada kerjaan Pak?”  

Dengan reflek ia menjawab; “Ada, itu beberapa teman saya sedang sibuk melayani di meja sana.”

Lho, yang saya tanyakan dia kok, ia malah menjawab pekerjaan yang dilakukan teman-temannya. Sungguh lucu. Masih dengan penasaran saya bertanya kembali:

imigrasi.jpg “Lantas kalau antrian begini panjang mengapa ada beberapa meja yang kosong dan tak memberi layanan?”

Dengan enteng ia menjawab “komputernya rusak, alat deteksi paspornya nggak bisa dipakai.”  

Bussseeet, inikah jawaban petugas yang berfungsi memberikan layananan kepada masyarakat. Jika sistem yang rusak, dan terbukti tidak karena komputer yang lain masih berfungsi dengan baik, mungkin masih masuk diakal. Namun jika hanya komputer yang rusak, yang saya hitung ada sekitar 8 komputer/meja yang tak berfungsi, maka tinggal meminta ganti saja kepada bagian pengadaan peralatan. Akan beres dan pelayanan tetap diberikan dengan maksimal. Jika harga satu komputer diperkirakan 30 juta Rupiah, maka anggaran yang dihabiskan mungkin hanya sekitar 240 juta Rupiah. Harga yang enteng bagi Dirjen Imigrasi.

Dipojok kanan deretan meja imigrasi ada satu “line” khusus bagi pemegang paspor diplomatik, dinas, atau bagi penyandang cacat dan membawa anak-anak. Namun lucunya ada beberapa orang, yang melalui jalur ini, yang menurut saya “patut dicurigai” status “diplomatik”nya. Karena bukan ia sendiri yang membawa paspornya untuk disodori di meja imigrasi, tetapi “dibawakan” seseorang dan ia hanya lalu saja melewati jalur tersebut. Ada satu dua petugas imigrasi yang mencoba mengajak ngobrol penumpang yang mengantri, seraya melihat-lihat paspor yang mereka miliki. Mungkin untuk melihat apakah mereka layak dinaikkan statusnya menjadi “diplomat.”

Imigrasi menurut saya adalah wajah pertama suatu negeri. Baik buruk suatu negeri paling tidak terekpresikan pada saat kita mendapat layanan imigrasi. Bukan hanya bagi warga asing sebenarnya, pun bagi warganegara sendiri. Saat saya mengantri, masih sempat saya lihat beberapa orang pemegang paspor asing, yang mungkin tak memiliki visa dan harus mengurus visa on arrival, terombang-ambing, kebingungan, dan sibuk bertanya kemana harus mengurus, dengan bahasa Inggris kedua pihak, imigrasi Indonesia dan sang pendatang, yang amburadul.

Jika kita sempat memiliki rezeki dan kesempatan melakukan perjalanan ke luar negeri. tak usah jauh-jauh, cukup ke Singapore, Malaysia, Phillipine, ataupun Thailand, negara-negara tetangga kita, saat melangkah keluar selesai urusan imigrasi, dengan segera kita akan dapat memperoleh dengan mudah kereta dorong barang, tak jauh dari meja imigrasi. Namun jika kita perhatikan kereta dorong yang ada di Soekarno Hatta, alat-alat penolong ini terletak jauh dan melewati jalur keluarnya barang yang kita miliki, sehingga kita harus berjalan jauh dulu. Lucunya, ada beberapa petugas bandara yang justru menawarkan kereta dorong, dengan sedikit tips tentunya.

Mungkin penertiban pelayanan bandara bukan hanya sekedar menertibkan layanan taksi semata, tetapi juga menyangkut layanan yang ada didalam bandara sendiri, termasuk imigrasi.

14 responses to “Wajah Tak “cantik” Imigrasi Kita

  1. belum lagi kalau melihat paspor warna ‘ijo’ mata mereka ikutan ‘ijo’ sambil berpikir bisa dikerjain gak ya… (uud-lah…)
    btw, materi seminar boleh juga tuh di-sharing pak..

  2. Sayangnya wajah tersebut adalah wajah “kita’😀

    Saya pernah masuk dari Singapura ke imigrasi bandara Sepinggan Balikpapan. Kasus yang sama juga terjadi, namun antrian lebih disebabkan karena meja yang disediakan hanya dua.

  3. Bung Arya, harus dibedakan antara “kita” sebagai warganegara yang membayar fiscal dengan “kita” birokrasi pemerintah yang memungut fiscal dan semestinya memberikan pelayanan yang baik.

    Bung Passya, pastinya akan saya “sharing,” namun beberapa artikel dan tulisan mengenai NPM bisa pula ditemukan pada situs http://www.kedai-kebebasan.org/

  4. sabar wae mas, mang dari dulu kek gitu! entah sampe kapan!

  5. Memang sulit, di luar negeri saya selalu iri pada mereka yang dapat dengan mudah masuk ke gerbang “Citizen Only”

    Sedangkan pada waktu di tanah air saya selalu merasa iri pada bule bule yang tampaknya punya proses jauh lebih mudah daripada kita yang warga negara sendiri hahah

  6. lu lu pade aja yg goblok..

  7. gak aneh byk tikus-tikus di bandara, saya pribadi pernah jd korban tp untung cepat berfikir klo itu jebakan dan dpt menghindari dr pd tikus-tikus bandara krn saya rutin setahun 2x hrs melewati oknum2 yg bermental bobrok itu……..sampai kapankah begini?

  8. Ini bangsa kita bung. salah atau benar. kita yang harus perbaiki diri kita sendiri dan mengajarkannya kepada anak cucu kita

  9. keadilan diatas kebebasan. tanpanya kita akan menjajah orang lain. dan seperti kita yang terjajah tanpa kita sadari oleh standar kehidupan bangsa asing tanpa bisa memahami dan mengerti, contohnya diluar negeri sekolah gratis, gaji tinggi, dan hal-hal lain yang berbeda

  10. @ Me (don’t know, another dumbed loser anonim), Justru karena ingin bangsa ini berubah yang membuat saya menulis soal tersebut. Kalau tidak apa yang ingin kita ceritakan kepada anak cucu kita nantinya. Tak akan ada keadilan jika bangsa ini tak memiliki kebebasan. bagaimana mewujudkan keadilan tanpa kebebasan? Siapa yang akan menentukan adil atau tidak?
    Tak semua bangsa asing memiliki sekolah gratis atau gaji yang tinggi, namun toh mereka bisa menyediakan pelayanan yang lebih baik. Jangan selalu berfikir bahwa apa-apa yang gratis akan selalu baik. 🙂

  11. Dahulu kala, walaupun negeri ini miskin, hutangnya cuman U$ 2,3M, tapi kekuatan Angkatan perangnya disegani didunia, rakyatnya memiliki semangat gotong royong yang tinggi, orang kaya bisa dihitung jari bahkan Presiden-nya gak punya rumah sendiri, tapi rakyatnya bangga menjadi warganegara Indonesia.
    Kemarin dulu negeri ini pernah punya GBHN, REPELITA, MPR tapi entah kenapa dibubarkan sehingga bangsa ini seperti kehilangan arah tujuan, tak punya target dan stagnan, sedangkan negeri tetangga sudah siap menghadapi AFTA!
    Kemarin, dalam setiap pemilu Pilpres, semua kandidat menjanjikan Free Fiskal (fiskal dihapus), tapi nyatanya….(?)
    Hari ini… aku berduka cita karena bangsa ini menjadi bangsa yang dilecehkan, terpuruk, terpecah-belah dan rakyatnya bertambah miskin…!

  12. betul bgt tuh bro,
    tp gw rasa ada baiknya jg klo kita bsa lebih memahami apa penyebabnya dr pd cman gosip doank.. (takut2 slh menilai bouz he..he)
    theres always reasons behind the truth

  13. cobalah kita berbuat sedikit daripada hanya menjelekan bangsa sendiri

  14. Ping-balik: The Best Airport « Martinus90's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s