Lagi Tentang Beras

Saya bukanlah orang yang ahli tentang beras. Varietas unggulan mana pun saya tidak paham. Namun yang jelas saya mengkonsumsi beras, yang diolah menjadi nasi, sebagai makanan pokok. Saya pikir orang yang seperti saya tidaklah sedikit, bahkan mungkin dari Sabang hingga Merauke. Dahulu mungkin kita masih mempelajari di sekolah dasar bahwa makanan pokok saudara-saudara kita di belahan Timur Indonesia bisa berupa jagung, ubi, atau sagu. Seingat saya pernah juga mengalami masa tersebut, di kampung, mencampurkan nasi dengan jangung.

Namun ini kisah lama. Kini boleh dikatakan hampir seluruh masyarakat kita mengkonsumsi nasi, yang berasal dari beras. Menjadi santapan pokok (kadang-kadang diselingi oleh miešŸ˜‰ ). Oleh karenanya persoalan untuk mencukupi kebutuhan beras bagi masyarakat pun menjadi agenda nasional dan pekerjaan rutin bagi setiap pemimpin negara ini.

Pada masa Soeharto dengan gencar, terlebih karena pengakuannya sebagai “anak petani”, pemerintah berupaya melakukan swasembada beras.Ā Cukup sukses, bahkan surplus dari produksi beras iniĀ “di ekspor” keĀ bebarapa negara di Afrika yang pada saat itu tengah menghadapi ancaman kelaparan, seperti Ethopia. “Bapak Pembangunan” ini pun diundang berpidato di depan anggota perserikatan bangsa-bangsa.

Kisah terus berlanjut dengan kampanye menjadikan lahan sejuta hektar sebagai area pertanian. Tanah-tanah gambut di Kalimantan pun diupayakan disulap menjadi sawah, walaupunĀ kini tak terlalu terdengar kisahnya. Ā 

Namun toh, mengikuti prinsip dasar manusia yang tak pernah puas, ditambah dengan pertambahan penduduk yang demikian pesat (hrs dilihat sisi positifnya bahwa angka harapan hidup bertambah dan keberhasilan menurunkan angka kematian balita), jumlah produksi beras nasional tak pernah dapat mencukupi kebutuhan penduduk yang berjumlah lebih kurang 220 juta orang. Belum lagi ditambah dengan berkurangnya lahan pertanian akibat pengembangan perumahan, yang dibutuhkan masyarakat, serta intensifikasi yang sulit dilakukan karena kelangkaan pupuk dan tingkat kesuburan tanah yang semakin berkurang. Problem ini pun semakin ditambah dengan perubahan cuaca yang membuat petani sulit untuk menentukan dengan pasti, seperti sebelumnya, masa tanam bibit padi mereka.

Mungkin mengikuti dan menyesuaikan dengan “prinsip ekonomi” semakin banyak permintaan dan semakin sedikit pasokan yang tersedia maka semakin mahallah sebuah barang atau komoditi. Demikian pula dengan beras. Isu kenaikan harga beras selalu menjadi perdebatan dan isu nasional setiap tahun dan setiap menghadapi hari-hari besar keagamaan, seperti Lebaran, Idul Adha, maupun Natal dan tahun baru. Seperti yang sekarang terjadi.

Biasanya untuk memenuhi kekurangan ini pemerintah membuka kran impor beras. Entah dari Vietnam, Thailand, atau negara-negara lain. Namun seperti biasanya, kebijakan ini segera mendapat kritikan dan tantangan yang besar. Bukan hanya dari petani, “asosiasi petani” seperti HKTI, LSM, maupun akademisi, namun bahkan dari para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pemerintah pun kadang menjadi kecut dan membatalkan atau menunda beberapa kesepakatan impor beras.

Efek yang terjadi terus. bergulir. Pasokan tambahan dari impor berkurang. Kebutuhan tetap atau bahkan meningkat (karena jumlah penduduk boleh dikatakan hampir tetap tak ada pengurangan atau perubahan yang drastis). Sementara petani lokal tak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, karena masa tanam yang tertunda ataupun kerusakan lahan pertanian akibat perubahan cuaca, serta kelangkaan pupuk.

Kini pemerintahĀ pun mengisyaratkan untuk membuka kran impor kembali. Harga beras yang kini membumbung di beberapa daerah membuat pemerintah sedikit panik agaknya, dan memutuskan untuk mengimpor beras kembali.

Namun apakah ini merupakan solusi terbaik? Kok saya melihatnya menjadi sebuah kebijakan yang tambal sulam semata. Kadang dibuka, kadang ditutup, dibuka, dan ditutup kembali. Persoalan menjadi tak tuntas-tuntas dan acap pula menjadi “senjata” politik bagi beberapa tokoh yang ada di DPR maupun partai politik. Kenapa tidak menyerahkannya kepada mekanisme pasar? Dan pemerintah tinggal melakukan pengawasan terhadap distribusi dan adakah praktek monopoli atau tidak. Toh jika petani lokal Indonesia mampu memproduksi dengan baik, jalur distribusi yang tak terlalu memakan ongkos, dan produksi yang lebih murah, produksi mereka akan membanjiri pasar dalam negeri, dan tak perlu lagi melakukan impor.

Namun, sekali lagi saya bukan ahli tentang pertanian, bukan pedangan beras, dan bukan pengambil keputusan yang akan mempengaruhi harga beras……šŸ™‚

7 responses to “Lagi Tentang Beras

  1. Sayangnya kondisi negara kita selalu menyengsarakan kaum yang lemah. Mungkin di satu sisi benar bahwa impor harus di lakukan untuk menjaga harga pasar.

    Namun saya kok melihatnya itu sebagai jalan pintas dan tidak akan menyelesaikan masalah di kemudian hari. Tentunya yang paling di rugikan dengan ada nya impor beras adalah petani.

    Menurut saya yang harus di lakukan adalah pembenahan di sektor ini. Baik itu struktur maupun infrastruktur. Koperasi di benahi, petani di berikan edukasi yang layak, dan lain sebagainya.

    Saya percaya jika indonesia akan mampu swasembada beras lagi bila semua nya di bereskan.

  2. Ah, bangsa kita untuk urusan perut ke bawah tidak pernah belajar dari pengalaman terdahulu… prihatin

  3. di daerah penghasil beras pun, kadang kekurangan beras…menyedihkan

  4. padahal indonesia ini negara agraris… kenapa kekurangan beras.. apa yang salah?

  5. saya tahu isu mengenai beras ini sangat hangat saat ini,tidak dapat dipungkiri rencana pemerintah untuk membuka impor beras membuat harga beras semakin meningkat drastis,banyak sekarang yang kita lihat saudara – saudara kita yang ada di pelosok daerah tertentu yang dalam kekurangan mengkonsusmsi singkong ataupun beras basi yang telah di jemur apakah ini….yang dinamakan negara indonesia yang brlimpah loh jinawi dengan kekayayan alam nya yang berlimpah ruah harus menderita kelapara???????……saya mendungkung apa yang akan dilakukukan oleh pemerintah asal kan tidak mengsesengsarakan rakyat (tolong bapak mentri pertanian perti mbangkan dan carilah solusi yang tepat dari masalah ini)

  6. # Anang
    salah manajemen biasanya … dan ini susah, soalnya di negeri yang aku dan kalian hidup ini, pejabatnya kurang rasa memilikinya kurang.
    yang penting gw dan klg bisa makan, rakyat — itu urusan mereka.

  7. masalah beras sudah terlalu kompleks, sama dengan masalah lainnya, karena selalu ada pihak yang bermain untuk mencari keuntungan.

    sejujurnya produksi beras dalam negeri masih bisa untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kalau manajemennya bagus dan semua yang mengurusi masalah ini bisa saling bekerjasama dan tidak merasa paling pinter dan benar sendiri. sayangnya, untuk bisa seperti itu sangatlah susah, karena orang indonesia banyak yang sudah salah asuhan (mungkin saya pun termasuk salah satu dari orang yang salah asuhan itu). semuanya cuman bisa ngomong ngalor-ngidul dan gak sabaran, mau yang serba instan, susah diatur, dan bisanya cuman menyalahkan orang lain.

    sebenarnya, mau negara hanya sebagai regulator atau terjun langsung sebagai pemain, kedua-duanya gak akan masalah, toh di dunia ini kita bisa menemukan kedua kasus tersebut yang bisa berjalan dengan baik asalkan dijalankan dengan baik dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s