Hujan-Hujan Terus Ya…..Banjir Lah

Kalau tidak salah saya sempat menulis mengenai hujan deras yang terjadi di Bogor dan sekitarnya serta bahaya banjir yang akan mengancam Jakarta. Tak lama sebelum banjir besar yang kini sedang terjadi di Jakarta. Jadi persoalan banjir ini bukan hanya sekedar “gejala alam” seperti yang diucapkan oleh Gubernur Sutiyoso. Atau kalaupun ia merupakan gejala alam, seharusnya dengan pengamatan yang dilakukan oleh manusia, apa yang akan terjadi sudah dapat diperkirakan. Walaupun tak akan 100 persen benar.

Kecuali kita sebagai manusia sudah malas…. πŸ˜‰

Saya memang tak mengalami langsung saat banjir sedang dahsyat-dahsyatnya melanda Jakarta. Tak ikut trejebak macet hari Kamis atau Jum’at lalu, karena sedang berada di Wonosobo, Jawa Tengah, untuk sebuah training disana. Walau saat kembali dari Yogyakarta pada hari Sabtu, 3 Februari 2007, efek kecilnya masih berimbas pada keterlambatan tibanya pesawat dari Jakarta. Jadwal yang semula pukul 15.45 WIB mengalama delay hingga 17.00 WIB. Dan sesampainya di Bandara Soekarno Hatta lagi-lagi saya harus menunggu kendaraan umum (taxi) agak lumayan lamanya. Di tol bandara pun beberapa saat kendaraan yang lalu tersendat dan merayap cukup lama akibat pintu tol terakhir yang menuju Gatot Subroto atau Tanjung Priok hanya dibuka tiga buah saja. Walhasil, saya sampai di rumah (Sentul) hampir mencapai jam 22.00 WIB.

Saya dapat membayangkan betapa kesal dan marahnya warga Jakarta, Bekasi, Tanggerang, Depok, dan Bogor yang saat itu tekena macet dan hingga kini rumah-rumah mereka masih digenangi air, listrik yang mati, pasokan air yang terhenti, atau bahkan ada yang tewas terseret arus. Walaupun tak terkena banjir namun beberapa desa yang ada disekitar Sentul, seperti desa Karang Tengah dan Bojong Koneng pun terkena imbas hujan yang turun hampir setiap hari, yaitu tanah longsor.

Namun, lagi-lagi kedua bencana tersebut sebenarnya bukan hanya sekedar “gejala alam” yang tak mungkin dihindari. Hujan yang deras, yang umumnya terjadi pada bulan Oktober – Februari, memang gejala alam, akan tetapi dampak yang diakibatkan oleh gejala alam ini adalah sesuatu yang dapat diantisipasi oleh manusia.

Menghindari banjir sebenarnya sederhana saja, sediakan saluran yang lancar menuju laut, bangun kanal, perlebar sungai yang sudah ada dengan membongkar rumah-rumah liar yang ada di bantaran sungai, perbaiki gorong-gorong jalan (tak hanya selebar badan tikus….πŸ˜‰ ), sediakan waduk-waduk tampungan air, dan kampanye serta pendidikan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Untuk menghadapi bahaya longsor bahkan lebih sederhana, tanam kembali bukit dan lahan-lahan yang telah gundul serta tata pemukiman penduduk dengan lebih baik…..

Hanya saja masyarakat dan pemerintah Indonesia mungkin lebih terbiasa dengan “menambal,” menyulam kembali sesuatu yang rusak, walaupun ongkosnya menjadi lebih mahal daripada mempersiapkan perencanaan yang matang untuk mencegahnya. Coba saja hitung berapa kerugian secara ekonomi dengan matinya listrik, terhentinya transaksi keuangan, perdagangan, perkantoran, terhentinya aliran air, telepon, internet, penundaan penerbangan, stasiun pompa BBM yang harus tutup, dan sebagainya, yang diakibatkan oleh banjir. Belum lagi kita membicarakan bahaya penyakit yang mungkin akan timbul paska banjir.

Kali ini saya tidak ingin berandai-andai….. πŸ˜‰ Apalagi menjadi Gubernur DKI Jakarta..

10 responses to “Hujan-Hujan Terus Ya…..Banjir Lah

  1. UNREG spasi BANJIR
    9949

  2. sebetulnya ini semua tanggung jawab sapa sih?
    masyarakat iya, gubernur iya, PU iya..semuanya salah kali ya

  3. sesimpel ini,

    Menghindari banjir sebenarnya sederhana saja, sediakan saluran yang lancar menuju laut, bangun kanal, perlebar sungai yang sudah ada dengan membongkar rumah-rumah liar yang ada di bantaran sungai, perbaiki gorong-gorong jalan (tak hanya selebar badan tikus….πŸ˜‰ ), sediakan waduk-waduk tampungan air, dan kampanye serta pendidikan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Untuk menghadapi bahaya longsor bahkan lebih sederhana, tanam kembali bukit dan lahan-lahan yang telah gundul serta tata pemukiman penduduk dengan lebih baik…..

    tapi tetap aja susah dipraktekin ya pak….
    btw, sampean beruntung pak gak ikut bermacetbanjir ria ….πŸ™‚

  4. @ Mas Luthfi kebanjiran nggak…?

    @ Mas Anung ini gimana sih, ya tanggung jawab kita semua toh……πŸ˜‰

  5. bayangkan 200 tahun dari sekarang, jika masih seperti ini, seperti apa bentuk Jakarta ya ?

  6. hehe.. kenapa gak mau berandai-andai jadi Gub. DKI mas, padahal disitulah letak tantangannya.. kata orang sih.πŸ™‚

  7. *Mas Joni, saya takut mas, takut tergoda ingin beneran, karena memang menggiurkan…πŸ™‚ Budget APBD – nya itu lho… Belum lagi proyek-proyek yang akan dilaksanakan….(lumayan)πŸ˜‰

  8. BTW Sutiyoso itu apa masih mau jadi gubernur lagi gak yah?

  9. *Mas Helgeduelbek, kalau jadi gubernur DKI kan sudah nggak boleh. Makanya ia kan usul ada propinsi megapolitan (buka kesempatan gitu) πŸ™‚

  10. Setuju Mas, menurutku si sutiyoso sudah ga boleh ngeles lagi tuh, masa di bilang gejela alam. Bisa2 kemacetan gara2 busway tuh di bilang gejala alam juga =))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s