Bubarkan IPDN?

Meskipun telat namun akhirnya Presiden SBY bereaksi terhadap kasus IPDN terbaru, tewasnya salah satu siswa IPDN jatinangor, Jawa Barat, Cliff Muntu. “Lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Namun sekali lagi, seperti biasa, wacananya adalah “terlalu dini sekarang saya katakan harus diapakan IPDN.” Menurut SBY tindakan yang akan diambil harus bersifat fundamental, bisa dengan cara merombak IPDN yang ada dan membangun institusi pendidikan yang baru. Sementara tuntutan masyarakat untuk membubarkan lembaga pendidikan milik Departemen Dalam Negeri ini semakin kuat, mengingat jumlah korban yang sudah tak sedikit. Kasus Cliff Muntu ini bukan yang pertama, dan mungkin pula bukan yang terakhir jika IPDN ini tetap dipertahankan.

Apa masih ada manfaat keberadaan lembaga pendidikan semacam IPDN? Bukankah rekruitmen pegawai pemerintah sudah dapat dilakukan oleh setiap pemerintah daerah dan menyesuaikannya dengan kebutuhan yang dimiliki daerah.

Konon cerita IPDN diibaratkan sebagai kawah candradimuka bagi para pemimpin birokrasi daerah nantinya, seperti camat misalnya. Itu sebabnya yang melantik para lulusan tersebut biasanya presiden RI, seperti pelantikan lulusan akademi militer atau kepolisian. Saya pernah bertemu dan berbincang dengan beberapa lulusan IPDN yang kini bekerja di beberapa daerah. Umumnya mereka bangga dengan status mereka sebagai lulusan IPDN, wong dilantik presiden. Walaupun saat ditempatkan di daerah, di tingkat kecamatan misalnya, mereka pertama kali hanya bertugas mengantarkan surat. (Perploncoan tidak hanya terjadi di IPDN tetapi juga di birokrasi pemerintah)

Berbincang lebih jauh toh pemahaman mereka tentang tata pemerintahan daerah dan apa yang harus dilakukan guna membangun daerahnya tidaklah terlalu canggih. Sehingga dalam hati saya bertanya, apa sebenarnya yang mereka pelajari saat belajar di IPDN? Lebih jauh, mempertanyakan relevansi model pendidikan IPDN, mengapa masih mengemukakan unsur militeristik dalam membangun kedisiplinan mereka. Pakaian seragam ketat ala taruna akademi militer ini mungkin tak layak lagi. Paling tidak dengan menggunakan pakaian biasa kesan “sangar” dan berbeda dengan siswa pendidikan tinggi lainnya dapat dihilangkan. Kemuka baik pula jika presiden tidak lagi melantik mereka. Ini untuk menyamakan para siswa IPDN dengan siswa-siswa lain pada umumnya dan menghilangkan arogansi mereka.

20 responses to “Bubarkan IPDN?

  1. dengan cara merombak IPDN yang ada dan membangun institusi pendidikan yang baru

    Jangan2 hanya ganti nama ya?
    STPDN–> IPDN –> APDN (?)
    Cuma ganti kulit…isi sama bobrok

    **Salam kenal juga Mas….

  2. Uppss…ketinggalan.
    Maaf ..salam kenal Pak

  3. Menurut SBY tindakan yang akan diambil harus ………
    Ya, SBY adl presiden utk masa depan

    **Sudah daftar tim pemenangan SBY Mas…..? Kok udah tau akan ada masa depan?🙂

  4. kok yah masih banyak yang mau juga masuk situ sih yah… katanya masuknya saja sudah gak beres… didalam gak beres, keluar jadi pejabat dijamin bejat

    **Soal bejat mungkin nggak semua….Tapi yang jelas banyaaaaakkkkk🙂

  5. belum baca semua, tapi yang jelas bubarkan IPDN

    **Setuju mas…..!!!

  6. JANGAN BUBARKAN IPDN.
    Teruskan aja,
    Ntar yang pingin jadi preman, centheng, tukang pukul, koruptor pembuatan KTP sekolahnya di mana?
    sayang ‘kan kalau dibubarkan,

    **Betul juga…he…he…🙂

  7. basi deh berita STPDN/IPDN… langsung bubarkan aja

  8. hmm, Masalah Utama di IPDN sang institut Pembantaian dalam negeri adalah “Woiii Masih Jaman yach Senioritas?? ”

    maknya lulusannya pada sok berkuasa……
    Hari gene……….

  9. Ping-balik: IPDN ? « Catatan Perjuangan Yudhi Arie Baskoro

  10. Sama denga Helgeduelbek, saya juga heran, kok ya masih banyak yang mau sekolah disana ya … bingung **garuk2 kepala**

  11. Repot kalo semua dibubarkan. Kalo mahasiswa berantem apa universitasnya dibubarkan. GOLKAR saja yang semua kita tahu sepak terjangnya di masa Orde Baru tidak dibubarkan. Malah bisa ikut PEMILU. Ndak usah dibubarkan malah IPDN tidak ganti nama juga tidak apa-apa. Tapi pola pengajarannya harus dirubah secara mendasar.

  12. Setuju, bubarkan DPR, eh, IPDN!

  13. pendidikan dengan kekerasan hanya layak untuk binatang….yang gak setuju IPDN diBUBARKAN ya mereka yang akan dirugikan dengan bubarnya IPDN, dan itu yang jelas bukan rakyat Idonesia kebanyakan……!!

  14. duh… pliss deh, kok banyak aja sih yang mau masuk IPDN…. buat semua praja IPDN yang merasa punya kasus, nggak pernah denger istilah damai itu indah ya????

  15. buat IPDN benahin deh sistem internalnya dulu.. sayang kn udah banyk pengorbanan praja2nya..seniornya jgn anarkis deh… jdi pemimpin yang bik ya… biar nggak ngecewain indonesia… ok…peace…

  16. command is easy thing, all people can do that….
    i am a praja that u all dislike……however u think u never know how we feel with this news, bad command,etc but i am realize that it’s not your false and not all our false too, equal is important for u and us….thanks a lot for ur attention to my institution, i believe that truly u all love us…….

  17. @ achie :
    hanjrit, kita bukannya gak seneng ama IPDN. Cuman gak seneng ama kelakuannya itu lho ….
    Secara Praja juga mahasiswa juga kan?
    Belagu amat sih

    ya, akhirnya gw bisa ngambil kesimpulan (dr 1 sampel di atas gw) … bahwa praja gak cinta NKRI
    gak usah belagu pake bahasa inggris segala, pake bahasa Indonesia (gaul gak pa2)

    *sigh*
    *bnr2 kesal*

  18. hahahhahahahha
    klo gw admin blog ini
    bakal gw publish IP-nya

  19. Two new studies show why some people are more attractive for members of the opposite sex than others.

    The University of Florida, Florida State University found that physically attractive people almost instantly attract the attention of the interlocutor, sobesednitsy with them, literally, it is difficult to make eye. This conclusion was reached by a series of psychological experiments, which were determined by the people who believe in sending the first seconds after the acquaintance. Here, a curious feature: single, unmarried experimental preferred to look at the guys, beauty opposite sex, and family, people most often by representatives of their sex.

    The authors believe that this feature developed a behavior as a result of the evolution: a man trying to find a decent pair to acquire offspring. If this is resolved, he wondered potential rivals. Detailed information about this magazine will be published Journal of Personality and Social Psychology.

    In turn, a joint study of the Rockefeller University, Rockefeller University and Duke University, Duke University in North Carolina revealed that women are perceived differently by men smell. During experiments studied the perception of women one of the ingredients of male pheromone-androstenona smell, which is contained in urine or sweat.

    The results were startling: women are part of this repugnant odor, and the other part is very attractive, resembling the smell of vanilla, and the third group have not felt any smell. The authors argue that the reason is that the differences in the receptor responsible for the olfactory system, from different people are different.

    It has long been proven that mammals (including human) odor is one way of attracting the attention of representatives of the opposite sex. A detailed article about the journal Nature will publish.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s