Agar Tak Menjadi Bangsa Pelupa

Saya pikir teman saya bercanda saat ia mengatakan kepada saya, gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, digerebek di Australia. Saya hanya merespon dengan tertawa menanyakan untuk kasus apa. Ia tak terlalu jelas digerebek untuk kasus apa.

Toh akhirnya berita tersebut terpampang di surat kabar yang ada di kantor. “Sutiyoso Digerebek di Hotel Australia,” yang setelah dibaca ternyata berkaitan kasus pembunuhan lima wartawan di Balibo, Timor Timur pada 16 Oktober 1975. Bang Yos yang sedang berada di negara bagian New South Wales diminta oleh dua orang polisi yang mendatangi kamarnya untuk menghadiri persidangan kasus tersebut yang sedang berlangsung.

Sudah barang tentu Bang Yos kecewa, (mungkin kaget, karena tidak ada di protokoler 🙂 ) dan segera memutuskan kembali ke Jakarta, mempersingkat waktu kunjungan. (lumayan bisa mengurangi budget APBD… 😉 ) 

Tak kurang Wakil Presiden Jusuf Kalla pun bereaksi memerintahkan Departemen Luar Negeri untuk mengajukan nota diplomatik kepada Australia, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda pun telah memanggil Duta Besa Australia di Indonesia. Protes pun sudah jelas bermunculan dari Forum Betawi Rempug yang melakukan demonstrasi di depan Kedutaan Australia, protes dari DPR, DPD, dan lain-lain…..yang banyak tentunya. Bang Yos pun menginginkan pemerintah Australia meminta maaf.

Seru dan menjadi sedikit “penawar” berita panas “pertikaian” Amien Rais dengan presiden SBY serta “bola panas” dana non-bugeter Departemen Kelauatan dan Perikanan. Banyak yang menebak-nebak, jangan-jangan ada konspirasi dibalik “penggerebekan” tersebut, mengingat Sutiyoso berniat mencalonkan diri sebagai kandidat presiden pada tahun 2009. Peristiwa ini pun menambah ramai hubungan diplomatik Indonesia – Australia yang selalu “hangat-hangat tahi ayam.”

Namun agaknya “hikmah” peristiwa tersebut dapat disederhanakan menjadi isu hukum. Bayangkan saja, “kejahatan” yang terjadi 32 tahun yang lalu masih diusut oleh peradilan dan terus menerus mencoba mencari “kebenaran” dibalik peristiwa tersebut.  Suatu upaya yang panjang dan berbiaya tak sedikit, demi sebuah kebenaran.

Indonesia? Jangankan peristiwa yang telah terjadi 32 tahun, lima atau enam tahun saja mungkin sudah dilupakan. Banyak peristiwa yang belum terungkap tuntas “kebenaran” dibaliknya, seperti Kasus Semanggi, Kasus Trisakti, Kerusuhan Mei, Peristiwa Tanjung Priok, Kerusuhan 27 Juli, dll, dll, dll, yang mungkin setumpuk menggunung. Kasus Munir misalnya, kini seolah hanya akan menjadi garapan Komnas HAM saja, lembaga yang mungkin sengaja diciptakan untuk “menampung sampah” kasus-kasus yang memang tidak akan tuntas. 

Peristiwa “penggerebekan Bang Yos” menghentakkan kita bahwa hukum harus ditegakkan, terlepas dari persoalan diplomasi. Paling tidak Australia menjadi bangsa yang tidak “pelupa.” Puluhan atau bahkan ratusan warga Indonesia yang tertahan atau dihukum mati di negara-negara tempat mereka mencari kerja saja banyak terlantar dan dilupakan. Ucapan yang dilontarkan oleh Ketua DPR Agung Laksono menanggapi kasus dana non budgeter DKP pun seperti mengajak kita menjadi bangsa pelupa, “karena sudah menjadi abu.” Biarlah “peristiwa Sidney” menjadi urusan Bang Yos, namun menjadi cermin pula bagi kita, berapa banyak kasus hukum yang terlupakan karena kita dikenal sebagai “bangsa pemaaf.

3 responses to “Agar Tak Menjadi Bangsa Pelupa

  1. Tapi mas, menurutku caranya ga begitu, kalau emang mau menegakkan hukum ya undang baik2 untukmenjadi saksi…, bukan sedang jadi tamu di gerebek, wah itu ga menghargai bangsa Indonesia banget… pelecehan …

    **He…he…he…Karena bangsa Indonesia atau karena Bang Yos-nya? 🙂 Soal gerebek memang kasar, harusnya mereka menunjukkan surat untuk menjadi saksi dahulu. Tapi saya ingin mengatakan untuk tidak sentimentil, muncul rasa nasionalisme dan pake demo segala di depan kedutaan Australia. Yang harus dilihat adalah upaya peradilan untuk tetap mencari “kebenaran.” Soal cara dapat diprotes dan digugat balik, tapi dengan segera “kabur” balik ke Jakarta tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Bang Yos tak terbukti terlibat dalam kasus Balibo hadapi dong pengadilannya. Seraya menuntut balik cara penggerebekan yang tidak benar tersebut…..(kok jadi panjang yah…?) 🙂

  2. Sebenernya bangsa kita itu bukan pelupa, bukan juga pemaaf terhadap berbagai kasus yang terjadi. Tapi, bangsa yang gamang menyerah.

    Ya sudah, klo susah diungkap, biarin aja. Cape-cape mikirin yang susah-susah. Buang-buang tenaga, waktu, pikiran, uang, dsb, dsb, dsb. Makanya, seolah-olah kita itu bangsa yang pelupa and pemaaf.

    Salam kenal aja…

  3. sorry: maksudnya “gampang menyerah”, bukan “gamang menyerah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s