Chavez….oh……Chavez

Sempat saya berdebat agak seru dengan teman yang kini aktif disalah satu parpol, tentang Morales, Amerika Latin, Liberalisme, dan Chavez.

Saya mengkritik tindakan ugal-ugalan Chavez yang melakukan nasionalisasi beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Venezuela, hanya dengan dasar berfikir nasionalistik, yang dibumbui dengan jargon sosialisme dan pro kerakyatan. Saat itu saya berujar tak yakin bahwa segala yang dilakukan oleh Chavez akan bermuara pada kesejahteraan rakyat. Saya pikir ia hanyalah mencoba menarik simpati masyarakat dengan program-program populer, yang sebenarnya akan bermuara pada kroni baru yang ia cipatakan.

Saat itu isu pembredelan Radio Caracas Televisión’s (RCTV) telah ada, dan saya mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah tokoh seperti Soeharto ini yang akan dia bela. Ia tak menjawab jelas, hanya tersirat apam yang dilakukan oleh Chavez dianggapnya hanya sebagai riak kecil belaka.

Waktu berjalan dan bukti telah didepan mata. Chavez akhirnya menutup stasiun televisi swasta terbesar dan tertua di Venezuela ini. Tindakan yang akhirnya memicu demonstrasi besar-besar dari masyarakat, mahasiswa, intelektual, dan para politisi yang menginginkan adanya kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Demonstrasi semakin mengarah pada kerusuhan dan peluru pun telah ditembakkan oleh aparat militer yang menjadi “penjaga” Chavez.

Ingat dengan pembredelan Tempo, Detik, dan Editor, yang juga memicu perlawan dahulu.? Sobat saya ini seperti tidak belajar dan melupakan ialah yang dahulu dengan semangat mendukung perlawan terhadap kesewenangan Orde Baru.

Konon ia juga berencana mengundang Chavez ke Jakarta. Ia ingin seperti dahulu kelompok-kelompok Islam menyambut riuh kedatangan presiden Iran Ahmadi Nejad. Saya tak tahu apakah setelah pemberedelan ini masih adakah tekad tersebut. Sementara Chavez pun kini sedang “memburu”  beberapa media lain seperti Globovisión, Venevisión dan Televen, sebagai sasaran selanjutnya.

Konon orang pintar mengatakan salah satu ciri demokrasi adalah kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat kita. Jika hak ini telah dibungkam apakah masih layak disebut demokrasi? Atau memang nasionalisme dan kerakyatan akan melahirkan rejim yang otoriter? 

2 responses to “Chavez….oh……Chavez

  1. “ciri demokrasi adalah kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat kita”
    kalau kita lihat dari kacamata militer, sesuatu yang bisa membahayakan perpecahan negara kesatuan, terpaksa harus di berangus. Salah satu muara dari kebebasan berbicara adalah mudahnya masyarakat terhasut. Nah, militer melihat hulunya siapa. Contoh = Munir.
    Hehehe… puyeng ahk…

    **Atau seperti yang di Pasuruan Pak?😉

  2. jadi ingat demokrasi Pancasila

    **cinco normas básicas kalau kata orang disana 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s