Kick Out Racism…

Rubrik olah raga adalah rangking pertama pilihan yang saya baca di setiap surat kabar. Lebih menggairahkan, rame, nggak bikin pusing, dan santai. Kecuali saat membaca olah raga Indonesia tentunya.🙂

Sepakbola sudah barang tentu santapan berita pertama yang perlu disimak. Apalagi menyangkut liga Inggris. Namun saat Sabtu, 16 Juni 2007, kemarin membaca rubrik olahraga di harian Rakyat Merdeka, saya agak terganggu “sedikit.’ Ada satu artikel berjudul “Zionis Nyeberang ke Chelsea.” Isinya tentang perpindahan bek sentral Bolton Wanderers, Tal Ben Haim, ke Chelsea.

Terus terang saya muak membacanya. Apa tak ada judul lain yang bisa dipakai untuk menarik minat orang membaca? Apa sang penulis atau redaktur tak paham bahwa kata zionis memiliki arti yang lain dari menyebut orang Israel atau kata Yahudi. Ia adalah sebuah gerakan politik. Lantas apakah Tal Ben Haim punya tujuan politik mengembangkan Zionisme saat ia pindah ke Chelsea?

Penggunaan istilah inipun cenderung menjadi rasis dan diskriminatif. Padahal sepak bola Eropa dan seluruh dunia memiliki slogan “KICK OUT RACISM AND DICRIMINATION FROM FOOTBALL.” Dengan menggunakan istilah tersebut sama saja sang redaktur atau penulis berita itu tak mengerti sepakbola dan olahraga. Ndeso…. 🙂

Ternyata si wartawan masih perlu belajar banyak dan mengerti kata-kata lain yang tepat untuk sebuah judul. Dalam situs sumber berita yang ia kutip, Reuters dan Skysport pun tak ada satu kata pun yang menulis “zionis.”

Jadi darimana ia mendapat ide itu yah?

Dari kebodohan atau memang sikap yang rasis? 😉

3 responses to “Kick Out Racism…

  1. yah ada kalanya isu politik mewarnai dunia baik itu dari sport maupun yang lainnya. bila demikian, tentu ada beberapa kepentingan yang memanfaatkan event tersebut. padahal kita juga belum tahu benar tentang kaitan Tal Ben Haim dengan yang didesas desuskan tersebut.

    sebagai penggemar sepakbola, tentu saya setuju dan tetap setuju dengan semboyan di atas.

    mungkin, pikir positif saja, penulis atau redaktur memang ada pertimbangan lain mencantumkan judul tersebut. entah apakah dengan demikian akan meningkatkan oplah penjualan, atau kah ada yang seperti saya katakan sebelumnya: kepentingan lainnya?

    memang perlu ada pemahaman bagaimana seharusnya menyikapi kode etik jurnalis. supaya kelak kita dapat profesional dikala menyikapi sesuatu. bukan malah memberi sebuah umpan yang justru mengganggu, betul???

  2. hahaha..
    pasti baca koran abal2 bekas bungkus pisang goreng…
    Tapi emmangnya ada apa dengan istilah zionis?

    **he….he….he…..jangan menghina koran “rakyat” dong…..?! 🙂 Nggak ada masalah dengan istilah zionis, tapi jika digunakan diartikel tentang pemain sepak bola itu nggak tepat. Lebih tepat dengan menyebut pemain asal “Israel” untuk menunjukkan kewarganegaraan, seperti kita menyebut para pemain bulutangkis kita sebagai “para pemain Indonesia” bukan “Cina Indonesia.”

  3. Hehe, seru juga kalo Liem Swie King dibilang sebagai ‘Pemain Indonesia bernama Cina’. Hahaha.

    Masalah bahasa memang kadang-kadang luar biasa membuat pengaruh.
    Contoh:
    “Sayang, aku merindukanmu malam ini. Dan selalu berharap akan terbenam dalam kehangatanmu pada malam yang sepi hingga pagi yang beku”, akan lebih bermakna bagi seorang suami yang mengajak istrinya berhubungan intim, daripada kalimat “Coba buka selangkangan lo! Gue ngaceng nih”

    Dan koran rakyat (serta murah), bukanlah justifikasi bahwa jurnalisnya harus murahan pula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s