Berlomba Menjadi Miskin

pinggir-kali.jpgTelah lama pemerintah memiliki berbagai program penanggulangan kemiskinan. Katakalah mulai dari penyusunan strategi penanggulangan kemiskinan, program di tingkat kecamatan dan urban poor yang dibiayai oleh Bank Dunia, Kredit Usaha Tani (KUT), hingga kini dengan beras miskin (Raskin), jaring pengaman sosial (JPS), kartu gakin (keluarga miskin), pendidikan bagi siswa miskin, dan lain sebagainya. Ditambah dengan Millenium Development Goal (MDB), yang menjadi kampanye di tingkat global, melibatkan vokalis group band U2, Bono, maka lengkaplah sudah ragam program tersebut.

Semuanya atas inisiatif pemerintah, kebijakan top down yang harus dilaksanakan hingga pedesaan. Program dilaksanakan sepenuhnya dengan subsidi pemerintah. Karenanya, siapa bilang pemerintah, mulai dari era Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan kini SBYKalla (harus disebut berbarengan, karena merupakan satu paket), tidak memiliki perhatian terhadap persoalan kemiskinan? Semuanya prihatin dan menempatkan pemberantasan kemiskinan sebagai program terdepan.

Lantas apa yang salah? Setiap hari di surat-surat kabar selalu termuat berita mengenai kemiskinan, mengenai siswa sekolah yang berniat bunuh diri karena tak mampu membayar uang sekolah, atau karena tak memiliki cukup uang untuk ikut darmawisata sekolah. Ada pula berita tentang ijazah kelulusan sekolah dasar yang disandera oleh pihak manajemen sekolah selama tiga tahun, karena tak mampu membayar biaya sekolah yang tertunggak. Disisi lain, pemerintah setiap hari pun menggembar-gemborkan berbagai program ampuh guna menanggulangi kemiskinan.

Sejak awal sejarah banyak orang yang mempercayakan penghapusan atau upaya pengurangan kemiskinan kepada negara. Namun yang acap pula terjadi, bukanlah solusi mujarab yang mereka jumpai melainkan bertambahnya kesengsaraan masyarakat.

Resep mujarab yang acap disodorkan adalah “bagaimana memberi sedikit kemakmuran dari orang kaya kepada si miskin.” Resep ini memiliki ribuan formula, namun muaranya tetaplah sama, memindahkan sedikit yang dimiliki si kaya kepada si miskin. Kemakmuran harus “dibagi,” harus “didistribusikan,” harus “diseimbangkan.” Apa yang ada didalam kepala para pengusul resep ini bukanlah persoalan kemiskinan, melainkan persoalan “ketidaksetaraan.”

Kenapa tidak berfikir seperti pemenang hadiah Nobel asal Banglades, Muhammad Yunus, yang memberikan resep “kesempatan,” melalui pemberian kredit lunak. Atau kita memang kapok dengan apa yang pernah terjadi pada kredit usaha tani (KUT)-nya Adi Sasono?   Namun kata bijak lama yang kita kenal , “lebih baik memberikan pancing (dan umpannya 😀 ) daripada memberikan ikan,” mungkin masihlah relevan.

Pemerintah terlalu banyak ikut campur tangan langsung tanpa tahu apa yang seharusnya dilakukan. Maka muncullah berbagai program yang bersifat “charity.” Pembagian beras murah lah, pembagian minyak goreng murah lah, kompor gas murah lah, membuat kementerian negara pembangunan daerah tertinggal lah, kimpraswil lah dan sebagainya-dan sebagainya, yang notabene hanya melahirkan rangkaian birokrasi baru dan menjadi beban negara. Bayangkan berapa besar uang yang terkumpul, yang dapat digunakan bagi pembangunan infrastruktur atau membuka pabrik baru, dari pengurangan atau penutupan kantor-kantor cabang kimpraswil yang ada di daerah. Belum lagi menutup kementerian yang ada di Jakarta. Semuanya hanya menjadi beban pengeluaran negara. Padahal program yang diusulkan guna menanggulangi kemiskinan dan membuka daerah yang tertinggal adalah membangun infra struktur. Lah….tanpa kementerian negara ini, Departemen Pekerjaan Umum seharusnya sudah lebih tahu?  

Maka tak lah heran masyarakat kita semuanya berlomba menjadi miskin. Tak malu berdemonstrasi “menyatakan” miskin” karena terlambat mendapatkan “kartu tanda penduduk miskin.” Surat miskin yang dikeluarkan RT/RW hingga kelurahan dan desa pun menjadi lahan subur pencatutan. Untuk mendapatkan sekolah tinggi gratis yang disediakan oleh pemerintah daerah Musi Banyuasin pun harus membuktikan sebagai penduduk miskin. Kata “miskin” menjadi kunci. Bukan lagi kemauan dan jerih upaya.

15 responses to “Berlomba Menjadi Miskin

  1. yook…kita jadi orang miskiiiiin……..:)
    sedih sedih sedih….

    ** Harusnya……ayo jadi orang kaya.. 😀 Miskin dekat dengan kekhufuran…!!

  2. Haduh, sebenernya mau nulis ini. Keduluan sudah oleh Mas Thamrin.. Hahaha…

    Sekedar berbagi pengalaman,

    Dulu, saya membantu salah satu program ‘obat anti miskin’, yaitu beasiswa dari World Bank untuk Indonesia.

    Pengalamannya ajaib sekali. Mulai dari anggota dewan (dari pusat) yang datang berkunjung ke kantung-kantung daerah miskin, lalu malamnya minta disediakan perempuan lokal sebagai selimut. Hingga, ketika pembukaan beasiswa sekolah untuk rakyat miskin, ada calon siswa yang diantar bapaknya, pemilik sebuah galeri seni, yang datang dengan mobil mewah keluaran tahun terbaru.

    Saya terkaget-kaget dengan kondisi itu. Namun, atasan saya (Chief Program Officer), bilang “Saya kaget, kamu Indonesian, tapi kaget melihat ini. This is how it works here”. Membuat saya bertambah kaget.

    Tapi tetap saja kebijakan top-down terus dipakai. Entah apa alasannya. Namun uang yang akhirnya jadi utang seluruh bangsa Indonesia itu, nampaknya terbuang sia-sia, jika tidak ada riset bagaimana rakyat mau mengentaskan kemiskinannya sendiri secara bottom-up.

    Maap, jadi nge-blog disini. Tumben saya nggak OOT, hehe.

    ** Selimutnya pasti bisa “kentut” 🙂

  3. Salam kenal…(Indonesia)
    Numpang promosi nih!
    Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
    Main ke blog kampusku – Makasih ya!

  4. ikut prihatin……..!
    ada muba nya, sekalian permisi ngutip tulisannya.

  5. Saya ikut merasa prihatin dengan fenomena berlomba menjadi miskin itu. Pantas saja bangsa kita sulit untuk maju karena tidak punya kemauan kuat untuk melawan kemiskinan malah berlomba-lomba menjadi miskin. Menurut bapak, apa yang salah sebenarnya, sehingga mental bangsa kita menjadi seperti itu?

  6. Berlomba menjadi miskin???
    ________________________

    Yang benar tentu tidak ada oarng yang rela hidupnya berlomba seperti itu sebab ini,,, bukanlah PERLOMBAAN FASTABAQUL KHOIROT (hehe,,,).

    Kalau memang ada yang berlomba menjadi miskin, janganlah berhenti melihatnya hanya sampai disitu.
    Tentu ada sebabnya.
    Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab.

    Yang jelas kalau dianalisa, sebabnya tidak lain karena keterpaksaan ditengah-tengah kesulitan ekonomi.
    Walaupun tindakan tersebut tidak ada yang membenarkannya, tapi bagi mereka apa lagi yang dapat dilakukan?
    Dan dilain pihak apa yang harus dilakukan untuk mengubah perilaku yang dikatakan ‘berlomba menjadi miskin’ tersebut.
    Mungkin itulah yang harus dicarikan pemecahan masa’alah atau jalan keluarnya.

  7. KESALAHAN ALAMKAH ATAU MANAJEMENKAH :

    Kalau melihat pulau Kalimantan. lihatlah,, bagian utaranya bernama negara Malaysia Timur dan negara Brunei Darussalam.
    Di dua negara tersebut masyarakat bangsanya cukup makmur, baik di bidang ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan.

    Apa bedanya dengan pulau Kalimantan bagian selatannya yang bernama ‘NEGERI INI’ ?
    yang nota bene jauh lebih luas ketimbang bagian utara pulau tersebut yang bernama Malaysia dan Brunei.

    Kalau kesalahan manajemen, berarti itulah yang selama ini didengung-dengungkan dengan istilah ‘salah system’.

  8. Miskin…..; jangan salahkan negara ato tuhan dong

    lantas salah siapa?

    salahkan yang punya kekuasaan dan yang membuat kebijakan sampai negara kita seperti ini../itu kalo negara yang miskin !

    tapi kalo masyarakat atau kita yang miskin gimana,,,? ngak ada yang salah bro…mungkin kita kurang usaha dan jarang berdoa….

    jadi mulai sekarang kita semua harus usaha lebih keras lagi dan berdoa lebih banyak
    gak ada yang gak mungkin kalo tuhan (allah swt ) ridoh dengan apa yang kita perbuat.

  9. saya sendiri termasuk keluarga miskin dengan 2 balita, penghasilan kurang dari 1 juta. Sdang balita saya buth susu. Ada yang bisa membantu ?

  10. kalo pengajuan kredit card,motor ,rumah berlomba kaya, kalo ada bantuan pada berlomba jadi miskin.

  11. makanya, sebelum membuat program pengentasan kemiskinan, buat dulu indikatornya, tetapkan kriteria yang masuk dalam kategori miskin, dan miskin itu juga ada kelasnya.
    tapi emang budaya kitakan emang suka merendah, makanya jadi miskin betulan

  12. kalau pemerintah memperhatikan kesejah teraan dibidang yang langsung bisa dirasakan langsung oleh rakyat mana mungkin rakyat indonesia banyak miskin.seperti berobat gratis dan sekolah gratis.berobat tu banyak yang ngak mampu bayar rumah sakit dan kalau sakit untuk sembuh apapun akan dilakukan misal jual apa saja yang ada,sedangkan sekolah tuk mengurangi tingkat pengangguran dan sebagai bentuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

  13. to ; READER
    come on guy’s……
    kapan kita bisa membantu teman – sahabat- keluarga yamg seharusnya semasib dengan kita.
    kalau kita bisa menikmati hidup mereka juga dong……..gmana solusinya?

  14. Yang jelas fastabaqul khoirot, tidak ada perlombaan lain-lain yang diperintah.
    Jadi sebenarnya gamblang sekali.
    Cuma ummat manusialah yang senangnya mutar-mutar, mencari-cari yang mustahil-mustahil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s