Monopoli Urusan Ibadah

Kerajaan Arab Saudi rupanya nggak mau ketinggal dari Uni Eropa. Walaupun jauh dan tak mungkin juga masuk kriteria negara yang akan dilamar menjadi anggota Uni Eropa, banyak pelanggaran HAM-nya, toh negara kerajaan ini mengikuti jejak mengancam akan melarang pesawat-pesawat Garuda melintas dan mendarat di daratan mereka. Memang masih rencana, tapi siapa tahu terjadi?

Larangan terbang pesawat-pesawat Indonesia ke wilayah Uni Eropa mungkin “tak terlalu” berakibat buruk (karena memang tidak ada rute yang kesana 🙂 ). Kita masih bisa menggunakan pesawat-pesawat negara tetangga kita Malaysia, Singapura, maupun Thailand, yang nyatanya lebih memberikan layanan terbaik.

Namun dengan Arab Saudi lain ceritanya.  Urusan dengan Arab Saudi berkaitan dengan urusan ibadah dan pekerjaan. Selama ini pesawat-pesawat Garuda lah yang hilir mudik mengakut jemaah Indonesia yang ingin menunaikan ibadah haji maupun umroh dan menjadi tenaga kerja disana. Rute ke Arab Saudi menjadi rute gemuk Garuda, yang melayani paling tidak delapan penerbangan dalam seminggu.

Lebih celaka, untuk urusan angkutan haji selama ini dimonopoli oleh Garuda. Kalaupun menggunakan pesawat dari maskapai lain, asing maupun lokal, harus seijin dirjen urusan haji dan maskapai Garuda. Belakangan Garuda berbagai dengan Saudi Arabia Airlines mengangkut jemaah haji dari Indonesia.

Disini letak kisruhnya. Jika larangan ini terjadi, maka ribuan calon jemaah haji tahun 2007, yang telah mencicil membayar atau menyetorkan uangnya akan terancam batal berangkat. Meskipun pihak Garuda maupun Departemen Agama haikul yakin Arab Saudi tidak akan mengikuti jejak Amerika Serikat maupun Uni Eropa, namun kekhawatiran pasti ada. Ibadah haji tidaklah lama lagi, sementara suart pemberitahuan dari pemerintah Arab Saudi sebenarnya sudah diberikan sejak 15 Juli lalu, dan tak mendapat tanggapan yang serius. Lagi-lagi membuktikan ketidakprofesionalan garuda, karena kasus yang sama pun terjadi dengan Uni Eropa.

Jika terjadi, apakah negara akan membiarkan tak ada “haji baru” dari Indonesia tahun ini?

Sebenarnya sederhana saja penyelesaianya, dan ini mungkin baik dari kasus ini, hapus saja monopoli departemen agama atau Garuda dalam urusan haji. Toh urusan ibadah pemeluk agama yang lain tak memberlakukan monopoli seperti ini. Bahkan di beberapa negara yang umat Muslimnya cukup banyak, mungkin tak ada pengaturan monopoli seperti di Indonesia, yang mengatur urusan ibadah warganya.

Biarkan saja setiap warga yang ingin berangkat menunaikan haji memilih cara atau moda transportasi mereka untuk sampai di Arab Saudi dan beribadat sesuai pilihan layanan yang mereka sukai. Boleh saja departemen agama beragumentasi layanan yang mereka sediakan gara lebih menjamin ibadah yang lebih lancar dan aman. Walaupun dalam kasus-kasus terakhir, dengan “kelangkaan makanan” yang diterima oleh jemaah haji Indonesia, argumen ini mungkin saja tak lagi benar.

Kasus ini membuktikan betapa tidak baiknya perilaku “monopoli,” apalagi yang melibatkan urusan agama dan jumlah uang yang milliaran Rupiah. Jika Garuda memang tidak memiliki kinerja yang baik, seharusnya warga negara harus memiliki kebebasan untuk memilih layanan perusahaan penerbangan lain.

Tak ada urusan nasionalisme atau semangat kebangsaan dalam hal ini. Garuda adalah sebuah perusahaan yang mencari untung. Adalah salah jika kasus larangan Garuda terbang ke Amerika Serikat atau Uni Eropa atau Arab Saudi (jika terjadi) dikaitkan dengan soal nasionalisme dan menghimbau melakukan hal yang sama terhadap penerbangan milik negara-negara tersebut. Toh kita tetap tak mendapat keuntungan dari hitungan laba (atau memang rugi) yang dihitung Garuda setiap tahun.

3 responses to “Monopoli Urusan Ibadah

  1. jadi inget, yg jaman dulu naik haji pake kapal
    sekarang masih ada gag ya? yang naik haji pake kapal dr indonesia?

  2. @luthfi
    naek kapal ke Arab??

    Cape dech

    **Kalau naek kapal pesiar? Mungkin nggak terlalu cape 😉

  3. euh… endonesa jemaah nyah paling banyak.. belum lagih umrahnyah… tapi serpis dari saudi kurang bagus… euh… memang sekali2 mah harus setop kirim jamaah teh.. biar saudi dapat merasakan kehilangan berapah pemasukan… juga biar lebih menghargai gituh…
    tinggal masyarakan mau prihatin tidak menunda ibadahnya… demi perbaikan dimasa depan teh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s