Selamat Jalan Pak Ong…!!

Semalam, saat bertemu dengan seorang kawan, ia menyampaikan berita yang cukup mengejutkan, “Pak Ong meninggal!”

Saya memastikan, “Pak Onghokham?” yang dijawabnya iya.

Berita pun kemudian beredar melalui telp dan SMS, tentunya diantara para murid yang pernah diajarnya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Masih teringat, karena unik dan selalu membuat kami tersenyum, setiap angkatan baru mahasiswa sejarah FSUI pastilah diundang untuk mendapat “wejangan” dari Pak Ong di rumahnya. Mungkin lebih karena ia ingin menunjukkan kemampuannya memasak. Ia memang dikenal dosen yang pandai memasak dan sepertinya menjadi tradisi setiap mahasiswa barunya harus mencicipi masakan tersebut.

Setelah bersantap biasanya ia mengumpulkan para mahasiswa plonco ini duduk di taman rumahnya dan menceritakan pengalamannya sebagai sejarawan dan bagaimana seharusnya sebuah sejarah ditulis. Disinilah pengalaman unik dan selalu membuat kami para muridnya tersenyum, jika mengenangnya, terjadi. Kami para mahasiswa “junior” biasanya diperintahkan oleh para “senior,” maklum karena masih dalam suasana OSPEK, untuk duduk di rumput, sementara Pak Onghokham duduk di kursi hadapan kami.

Asyik mendengarkan tutur cerita seorang guru besar ilmu sejarah menjadi terganggu saat orang teman sesama angkatan berbisik dan mencolek teman disisi kiri dan kanan, seraya tersenyum, dan berkata, “celana Pak Ong tengahnya sobek.” Jelas kami tersenyum dan menahan tertawa, tak enak dengan Pak Ong dan juga para senior yang mengawasi. Namun menjadi aneh karena bisik dan senyum menjadi ramai, Pak Ong hanya bertanya, “ada apa, ada apa….?” dengan gayanya yang khas. Akhir acara para senior pun ikut tertawa saat mereka bertanya soal “peristiwa celana sobek” tersebut. Mudah-mudahan Pak Ong tak mengetahui hal ini.

Ia adalah dosen yang acap mematuhi peraturan akademik fakultas, yang kadang membuat kalang kabut para petinggi jurusan sejarah UI. Gayanya yang khas dalam mengajar kadang membuat pula takut beberapa mahasiswa. Ia biasanya selalu mencari murid “favorite”nya setiap memulai pelajaran dan memintanya duduk lebih di depan. Paper selalu banyak, karena ia acapkali “berhalangan” hadir mengajar dan biasanya sang asisten dosen mencari jalan pintas, meniadakan jam pelajaran dan menggantinya dengan tugas pembuatan paper. Sebagai mahasiswa kami juga “diharuskan” membaca buku yang berasal dari skripsinya (kalau tidak salah) berjudul “Runtuhnya Hindia Belanda.”

Suatu saat ia bertanya kepada kami, dalam pelajaran sejarah sosial, apa yang menyebabkan kolonialisme? Berbagai teori pun dipaparkan oleh kami, guna menjawab pertanyaan tersebut, yang umumnya berakhir dengan jawaban salah menurut Pak Ong. Ia kemudian mengatakan, yang menyebabkan kolonialisme adalah “perempuan.” Mungkin jika saat itu seorang feminis mendengar serta merta pula ia akan memprotes. Namun untunglah tak ada diantara kami pada saat itu yang telah menjadi “feminis.” Pak Ong mengatakan bahwa perempuan-perempuan Eropa acap beredar di dapur menyediakan masakan, dan umumnya saat musim dingin melanda Eropa, masakan yang dihidangkan perlu “hangat” dengan rempah-rempah untuk mengusir hawa dingin. Kebutuhan ini lah yang membuat kaum perempuan Eropa memerintahkan para lelaki mereka untuk menjelajahi dunia mencari rempah-rempah tersebut. Tentunya proses kolonialisasi tak sesederhana ini. Namun penggambaran yang sederhana itu paling tidak menyadari kami bahwa ada motif ekonomi dan sosial dibalik kolonialisasi.

Sebagai mahasiswa yang mengikuti kuliahnya kami juga harus berhati-hati dan memasang strategi. Lebih karena “ringannya” tangan Pak Ong melempar kapur atau penghapus papan tulis jika kita tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya selama mengajar. Bahkan ada, sering pula karena diganggu teman yang lain, seorang teman yang gemetar, gugup (walaupun ia seorang laki-laki), dipaksa oleh yang lain untuk duduk didepan  dan menyebutkan namanya untuk menjawab setiap Pak Ong mengajukan pertanyaan.

Pak Ong berulang tahun setiap tanggal 1 Mei. Entah benar ia lahir pada tanggal ini atau untuk sekedar mudah diingat, karena bertempatan dengan Hari Buruh, namun ia selalu menyelenggarakannya dan mengundang rekanan sesama pengajar, kolega dan murid-muridnya, untuk datang ke rumahnya, yang cukup unik, bergaya joglo, namun memisahkan menjadi bangunan-bangunan yang berdiri sendiri antara dapur, ruang tamu, ruang kerja, dan ruang tidur. Kita harus melalui tapakan kecil yang memisahkan bangunan-bangunan tersebut.

Suatu hal yang selalu saya ingat, menjadi catatan sejarah pribadi, ulang tahun Pak Ong, 1 Mei 1997, saya pakai sebagai kencan pertama dengan mantan pacar saya (yang kini menjadi ibu dari tiga orang anak kami). Hari itu saya memang sudah mendapat undangan menghadiri ulang tahun Pak Ong. Biasanya kami para muridnya sangat antusias karena tersedia banyak minuman “berkata-kata” disana. Namun saya kemudian pun ingat bahwa saya memiliki janji pertama, untuk berkencan pertama, dengan seseorang (yang kemudian menjadi isteri saya). Tak kehilangan akal, akhirnya saya pun mengajaknya untuk ikut, dengan iming-iming untuk melihat arsitektur rumah Pak Ong yang unik, karena ia memang tertarik arsitektur. Dan kini siasat tersebut manjur terbukti hingga kini….

Selamat jalan Pak Ong…….!!

6 responses to “Selamat Jalan Pak Ong…!!

  1. Innalillahi wa inailaihi rajiun.

    Beliau orang baik, Mas Thamrin. Saya kebetulan juga pernah bertemu beliau. Dedikasinya terhadap ilmu yang ditekuninya sungguh luar biasa.

    Turut berduka cita. Untuk keluarga, kerabat, sanak saudara. Juga buat Indonesia. Karena hilang lagi satu Orang Indonesia yang baik dan cerdas.

    Semoga amal yang beliau berikan dalam membangun bangsa, diterima disisi ilahi.

    Amiin yaa rabbal alaamin.

  2. innalillahi wa inailaihi rajiun

    ~turut berduka cita~

  3. saya belum kenal beliau.. siapa ya?
    bahkan saya belum tahu apa saja karya-karyanya..
    apakah Bang Thamrin dapat menukilkan kisah atau karyanya barang sejumput saja.. ?

  4. Mas Kopdang, ia hanyalah sosok guru saya semasa menempuh kuliah di Depok. Karyanya paling banyak dimuat dalam majalah Prisma terbitan LP3ES dahulu. Bukunya yang sempat terbut salah satunya adalah “Runtuhnya Hindia Belanda.”

  5. Waw, Prisma?…
    Tentu saja saya suka dengan pria-pria pengisi majalah prisma..
    beda dengan intelektual koran yang sekarang sekadar menulis 10 paragraf dan menjadi terkenal..😉

  6. Semoga selalu hadir orang baik di negeri ini. Kita membutuhkan orang-orang yang bisa memberi keteduhan, keteladanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s