Kenapa Tidak Pakai Trem Saja: Alternatif Selain Busway

Berita penolakan jalur busway melalui Pondok Indah oleh warga yang tinggal dikawasan ini semula tak membuat saya tertarik. Namun satu spanduk yang melintang dekat kantor saya, bertulis “Mereka Naik Mercy, kami butuh Busway” membuat saya tersenyum.

Saya teringat seorang teman aktivis semasa kuliah dahulu, saat melakukan demo di depan rektorat UI, membaca puisi yang konon menurutnya “revolusioner.” Kira-kita begini penggalannya, “Mereka naik mercy kita naik bus, mereka makan keju dan roti kita makan singkong.” Menurutnya isi puisi tersebut sarat dengan “pertentangan kelas.”

Saya kemudian menemukan paparan yang cukup panjang mengenai isu kemacetan dan persoalan busway, dalam majalah Tempo yang saya baca minggu ini. Dipikir-pikir memang berat juga mencari solusi kemacetan di Jakarta. Belum lagi harus mengakomodir berbagai kepentingan yang datang dari latar belakang ekonomi berbeda, dan sama-sama warga Jakarta atau mencari makan di Jakarta.

Entah kenapa pemerintah DKI Jakarta belum mau bergeming melihat usulan agar mendirikan perumahan bertingkat (flat) yang menengah di dekat daerah perkantoran. Sehingga para pekerja kantoran ini tak harus naik mobil saat bekerja, cukup berjalan kaki saja.  Untuk naik sepeda saja masih banyak yang enggan, karena tak ada parkiran khusus tersedia bagi para pengendara sepeda.

Saya sendiri akan senang dan tak berdemo jika pemerintah DKI Jakarta dan Kabupaten Bogor berencana membangun jalur busway (atau monorail) dari Bukit Sentul ke Jakarta, menyusuri tepi jalan tol, yang masih memiliki cukup lahan. Saya yakin banyak yang menyukainya dan akan mengurangi penggunaan mobil dan polusi yang diakibatkannya.

Sempat terpikir, saat melihat jalur busway, kalau pemerintah mampu membangun jalur khusus untuk bis kenapa tidak terpikir untuk trem? Daya angkut sekali jalan lebih banyak dari busway. Jika di jalur busway hanya satu bis yang lalu, rangkaian trem bisa membawa dua atau tiga gerbong sekali jalan.

Satu hal lagi, trem bisa menggunakan listrik. (Namun karena Indonesia krisis listrik, ide ini mungkin tak terpikirkan?) Atau mungkin karena studi bandingnya di Bogota, bukan di Australia yang beberapa kotanya masih menggunakan trem.

4 responses to “Kenapa Tidak Pakai Trem Saja: Alternatif Selain Busway

  1. Sebagai warga kelas sekian dan tidak memiliki mobil saya senang jalur busway mengiris-iris Jakarta.

    Pesan saya bagi pengambil kebijakan, tegas bahwa basway hanya untuk Transjakarta. Dan armada Transjakarta diperbanyak. Sehingga kita tidak perlu menunggu lama dan akan lebih longgar.

    Biarkan saja yang sebel karena kemacetan. Kalau Transjakartanya baik pelayanan dan jumlahnya banyak, akhirnya mereka juga akan ikut.

  2. baswe..baswe..Seumur2, Evan belum pernah naik baswe. Maklum,umur belum setahun,Om🙂

  3. Ide membuat tram dijakarta cukup menarik, tapi permasalahannya ada pada kemauan pemerintah dan infrastruktur yang ada. Baiknya sih ada kota percontohan dimana tram diujicobakan disana. Kalo jakarta mah udah kadung salah urus jadi gak worthed menurut saya kalo pake tram.

  4. FNS perlu buka program “Transportation for Democracy” nih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s