Kenapa Pak Harto?

Hari Senin kemarin, 28 Januari 2008, mungkin para pedagang bambu dan bendera merah putih tak “memanen” rezeki seperti yang terjadi Agustus 2007 lalu saat merayakan Hari Kemerdekaan. Meskipun Presiden SBY mengumumkan hari berkabung nasional, hanya sedikit warga yang mencari dan memberi bendera baru. Indikasinya hanya sedikit yang memasang bendera setengah tiang. Di komplek perumahan saya saja hanya ada dua atau tiga bendera yang terpasng setengah tiang. Itupun satu milik pengurus Rukun Tetangga dan satunya lagi di rumah opa-opa yang mungkin masih mengalami kejayaan masa Soeharto.

Tak banyak bendera setengah tiang bukan berarti membuat sedikit berita duka cita yang dipasang di media-media cetak. Belum lagi berbagai opini dan artikel mengenai Soeharto. Hanya ada satu yang sedikir berbeda, obituari yang ditulis oleh Budiarso Shambazy, di Harian Kompas 29 Januari 2008, mengenai Mohamad Jusuf Ronodipuro, pengucap teks Proklamasi 17 Agustus 1945, yang meninggal bersamaan pada hari Minggu, 27 Januari 2008. Selebihnya sama, tulisan mengenai Soeharto, entah bersalah, dimaafkan, diteruskan proses hukumnya, prestasi, petani yang kehilangan Pak Harto, dan sebagainya.

Hingga hari ini ramai orang yang masih mempercakapkan soal Soeharto. Tentang pasir yang digunakan sebagai pengganti tanah, untuk menimbun makamnya di Astana Giri Bangun, tentang masyarakat yang melambaikan tangan dan mengucurkan airmata saat iring-iringan jenazah lewat di jalan-jalan protokol, atau tentang masyarakat di sekitar Waduk Kedung Ombo yang masih belum bisa memaafkan perilaku Soeharto di masa Orde Baru, yang telah membuat mereka tersingkir dari lahan garapan dan mengalami trauma akibat perilaku kasar saat penggusuran.

Tak ada yang banyak membahas tentang bagaimana upaya Mayangsari dapat menerobos barikade security, yang menghalanginya masuk ke rumah di Jalan Cendana pada tanggal 28 Januari 2008, untuk menyampaikan duka cita dihadapan jenazah mertuanya, atau bagaimana perasaan Tata bertemu kembali dengan Tommy Soeharto dalam suasana duka tersebut.

Pertanyaan yang tersisa kini adalah apa yang akan terjadi setelah hingar-bingar itu. Kemarin dalam sebuah liputan radio terulas kasus yayasan-yayasan milik Soeharto yang menurut kejaksaan akan dapat diteruskan proses tuntutannya kepada ahli waris Soeharto. Lain soal jika mereka membuat pernyataan bukan sebagai ahli waris, yang dengan sendirinya memberi kekuasaan kepada negara untuk menyita seluruh aset milik yayasan. Sebuah buah simalakama. SBY sendiri dalam pidatonya tak menyinggung sama sekali soal “maaf memaaf” seperti yang diinginkan banyak tokoh politik, seperti Amien Rais.

Mari kita tunggu dan lihat bersama. Tradisi lama mengatakan tak boleh membuat sesuatu yang mengganggu suasana duka yang telah ditetapkan satu minggu.

3 responses to “Kenapa Pak Harto?

  1. Menurut saya marilah kita menilai soeharto secara proporsional

  2. Terima kasih Mas Hendra….Saya setuju banget..Memang banyak proyek-proyek peninggalan Pak Harto yang sampai kini masih kita rasakan dan paling tidak ia sudah membangun kerangka/landasan ekonomi Indonesia. Walaupun, mengutip wawancara Shambazt dengan Pak Jusuf Ronodipuro almarhum, seharusnya pengadilan terhadap Pak Harto dilakukan (sebelum ia meninggal lho…!!) sehingga jelas bagi generasi di masa depan, ia bersalah atau tidak. Dan bukan hanya soal kekayaan yayasannya.

  3. Media kadang sering mengarahkan opini publik kemana ia menghendaki, dan herannya kita semua tetap doyan dengan suguhan seperti itu, seolah-olah semua komponen bangsa bersedih, padahal menurut salah satu pengamat, mochtar pakpahan kalo tidak salah, yang mengibarkan bendera setengah tiang tidak sampai 5% dari jumlah penduduk negeri ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s