Merokok Lebih Sehat Dari Fasisme!

smoking.jpgSurvey Forum Warga Jakarta dan Indonesian Tobacco Control Alliance, yang dilakukan sejak Agustus hingga September 2007 menunjukkan lebih dari 50 persen mal dan pusat perbelanjaan di Jakarta telah melanggar peraturan Kawasan Dilarang Merokok. 59 persen pelaku pelanggaran mengetahui bahwa mal dan pusat perbelanjaan merupakan kawasan dilarang merokok. Namun mereka tetap merokok🙂 karena 55 persen dari mereka tahu bahkan tidak ada aparat yang akan melarang mereka.

Lantas Koordinator FAKTA (Forum Warga Kota) Jakarta, Azas Tigor Nainggolan (Kompas 14 Februari 2008) mengatakan, bahwa hal tersebut menunjukkan ketidakseriusan dalam menerapkan Peraturan daerah Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Sebagai perokok, walaupun bukan perokok berat, hanya bisa mengucapkan “Alhamdullillah” masih ada orang yang membangkang terhadap peraturan yang tidak “fair” tersebut.

Bagaimana tidak fair, negara (dalam hal ini pemerintah DKI Jakarta), harus bersusah payah mengeluarkan aturan untuk melarang perilaku (habit) dari seorang warga, yaitu menghisap rokok, tanpa melarang atau menutup pabrik rokok, toko-toko, agen, dan warung yang menjual rokok. Mungkin Pemda DKI sadar bahwa ratusan ribu buruh amat tergantung terhadap industri rokok. Belum lagi jaringan toko yang memperkerjakan karyawan dan pengecer hingga ratusan ribu pula, serta industri musik dan olahraga yang tergantung pada iklan perusahaan rokok.

Merokok menjadi “hobi” yang berat, karena larangan di mal dan pusat perbelanjaan, atau bahkan di beberapa restoran. Perokok menjadi warga kelas dua. Padahal dengan semakin banyak merokok merekalah yang sebenarnya menjadi pembayar pajak setia kepada negara, dari cukai tembakau, ketimbang para konglomerat dan pengusaha yang konon enggan bayar pajak.

Seharusnya warga diberikan pilihan, bukan larangan. Menghentikan merokok seharusnya muncul dari sebuah kesadaran, bukan larangan, karena menyangkut pula hak warga yang ingin merokok. Bukan sekedar hak warga yang tidak ingin menghirup asap rokok. Sediakan saja mal atau pusat perbelanjaan yang bebas merokok dan mal atau pusat perbelanjaan yang dilarang merokok. Atau mereka dibolehkan untuk merokok di beberapa tempat yang cukup nyaman. Bukan seperti sekarang yang disediakan sangat terpencil. Begitu pula di restoran. Harus ada kawasan yang bebas untuk merokok.

Soal pengendalian pencemaran udara karena asap rokok, sangat lah sedikit pengaruhnya. Yang disasar seharusnya mobil-mobil angkutan yang banyak mengeluarkan asap hitam atau pabrik dan rumah-rumah industri yang banyak memproduksi CO2. Pengawasan seharusnya diarahkan kesana.

Ada satu slogan menarik dari sebuah organisasi kampanye anak muda di Amerika Serikat, Bureaucrash, yang menentang peraturan larangan merokok di negeri tersebut. Alasan mereka warga negara berhak memilih apa yang menjadi pilihan mereka dan bukan wewenang negara untuk mengaturnya, termasuk untuk menjadi sehat, bukan karena sebuah peraturan pemerintah. Semboyan mereka adalah “Merokok Masih Lebih Sehat Dari Fasism,” yang mungkin memang membunuh lebih banyak daripada rokok.

4 responses to “Merokok Lebih Sehat Dari Fasisme!

  1. plus lebih baik dari tukang fitnah he he he

  2. Kebebasan itu sah-sah aja pak. Namun haruslah tetaplah menghargai hak-hak orang lain.
    Salam kenal

  3. bagaimana kalau setiap saat Anda di semprot dengan gas yg berbau ke muka Anda, apakah Anda masih akan berkata hak setiap orang untuk menyebarkan gas tersebut. jangan egois bung, silahkan saja merokok, tapi asapnya di telen jangan di keluarkan, bisa ngga?????

  4. @@ Bung Tino,

    He…he…kalau ada yang menyemprot asap ke muka anda, ya ditegur saja. Kalau menyemprot muka orang dengan asap, itu menantang namanya, Perokok yang baik biasanya lebih mencari tempat sepi bersama teman-teman perokok, mereguk secangkir kopi. Jika bukan perokok bergabung, ambil resiko namanya.

    Anda pasti bukan perokok, karena merokok pasti dimasukkan ke mulut dan dibuang melalui hidung atau mulut. Tak ada yang ditelan…nanti batuk. Jika keluar dari tempat lain “kentut” namanya, tetapi bukan karena rokok, tetapi karena masuk angin…. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s