Lamongan…

Tanggal 12 Februari 2008 lalu saya mengunjungi Kabupaten Lamongan di Jawa Timur, satu hari saja.

Menarik, karena membuyarkan semua bayangan saya tentang kata “Lamongan.” Jujur saja, bayangan saya tentang “Lamongan” tak jauh dari warung-warung di seantero Jakarta yang menyediakan pecel lele dan selalu ditulis pada kain yang menjadi penutup warung: “Pecel Lele Lamongan.” Kalau tak salah lambang kabupaten yang terletak di Utara pulau Jawa ini juga dua ekor ikan lele yang sedang bergelut.🙂

Bayangan lain tentang Lamongan adalah tentang “kemiskinan” dan “Amrozi.”  Bagaimana tidak. Jika banyak perantau yang mengadu nasib di Jakarta asal Lamongan, tentunya karena susahnya mencari lapangan pekerjaan disana. Dan boleh jadi pula “kenekatan” Amrozi diakibatkan pula oleh kondisi ekonomi yang buruk.

Ini adalah pertama kali saya ke Lamongan, yang bukan hanya sekedar lalu diatas bis yang membawa saya ke Bali atau Lombok. 

Dan yang terhampar dihadapan saya tempo hari adalah Lamongan yang memiliki prasarana jalan yang cukup mulus, yang tentunya akan memudahkan arus masuk dan keluar barang, yang menjadi komoditi barang perdagangan. Toko-toko kelontong, rumah makan, warung penjualan oleh-oleh, dan pasar-pasar tradisional cukup menyediakan barang yang dapat dibeli masyarakat (jika masyarakat tak memiliki daya beli tak akan ada barang yang tersedia cukup). Saya juga baru paham kalau wingko babat, yang saya kira berasal dari Semarang, justru berasal dari nama daerah Babat, yang ada di Lamongan.

Rumah sakit umum pun tampaknya tersedia cukup baik. Pemerintah daerah bahkan konon sedang merencanakan membangun satu buah rumah sakit umum lagi.

Beberapa hal memang masih harus diperbaiki dan ditingkatkan, seperti sarana transportasi dan perencanaan moda transportasi, sehingga truk-truk besar dan bis tak melalui kota, karena akan merusak jalan. Harus ada jalan lingkar yang menjadi alternatif bagi truk dan kendaraan besar.

Dengan beroperasinya kilang-kilang minyak di Bojonegoro, Lamongan seharusnya lebih mempersiapkan wilayah mereka dan sumber daya manusia, guna menampung rezeki minyak tersebut. Sebagai suplai tenaga kerja misalnya. Yang mau tidak mau juga akan dibutuhkan oleh Bojonegoro.

jadi masih ada harapan saya untuk kembali mengunjungi Lamongan. Mengunjungi Lamongan yang lain, yang tak membuat takut, seperti yang saya bayangkan saat terjadi Bom Bali meledak. Karena tak ada Amrozi lagi disana… 🙂

One response to “Lamongan…

  1. Makanya Pak sering aja jalan-jalan di kampung-kampung (bukan kampung di jabotabek lho). Walupun sederhana namun keadaanya bersih, bahkan setiap jam 4 sore, ada masyarakat yang menyapu sampai di jalan depan rumahnya. Ini tanpa dikomando oleh Pak RT lho.

    Amrozi itu hanya 1 diantara sejuta. Kalo mo mati, dimana aja kita bisa mati. Ngak usah takut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s