Partai TKI dan PRT

Tulisan ini sebenarnya muncul dari plang reklame nama sebuah cafe, yang menawarkan ice cream, dan saya anggap lucu, House Mate. Entah ingin memplesetkan sebutan “house made” atau memang memaksudkan “teman serumah,” (kita berbagai memakai satu rumah dengan orang lain), seperti kita sering memakai istilah “room mate”  untuk teman satu kamar kita. 

Pembicaraan kemudian terpeleset menjadi “house maid,” yang kalau dibaca mungkin terdengar mirip-mirip dengan ketika kita membaca “hause mate,” (dengan Inggris kampung tentunya… 🙂 ).

Lantas saya berfikir yang lain. Mendekati pemilihan umum 2009 nanti kok belum ada yang memikirkan mengenai partai untuk “house maid” yah…(entah TKI, TKW, atau PRT). Mungkin saya yang salah dan sudah ada partai yang sedikit menyentuh persoalan TKI, tapi mungkin tak ada salahnya menggagas membentuk sebuah partai yang memang memperjuangkan nasib TKI dan PRT. Kita sebut saja Partai TKI-PRT (cukup panjang juga yah…)

Mereka memiliki potensi yang luar biasa. bayangkan saja, di tahun 2006 jumlah tenaga kerja Indonesia di luar negeri saja sudah mencapai 3 juta orang. Belum dihitung kalau mereka memiliki isteri atau suami atau anak di kampung, jumlahnya mungkin bisa berlipat dua. Belum lagi jika kita memasukkan hitungan jumlah pembantu rumah tangga yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Saya yakin, jika mereka semua memilih untuk Partai TKI-PRT, jumlah minimal tresshold 3 persen pasti mampu diraih. 

Soal persyaratan memiliki kantor di setengah atau 3/4 propinsi di Indonesia tidak akan menjadi masalah. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa tengah, Timur, Madura, Bali, Kalimantan, Nusatenggara, Sulawesi, hingga Papua, adalah kampung halaman asal para TKI dan PRT yang dapat didirikan kantor cabang.

Soal pembiayaan pun tidak ada masalah. Andaikan saja setiap TKI (yang berjumlah 3 juta orang) dan PRT (andaikan saja berjumlah 1,5 juta orang), masing-masing menyumbang Rp 1000,- sebagai uang kas partai setiap bulan, sudah akan terkumpul uang sejumlah Rp 4,5 milliar setiap bulan. Ini hanya dari iuran wajib. Bayangkan jika mereka juga memberikan sumbangan sukarela untuk kegiatan kampanye. Mungkin cara ini akan lebih baik, sebagai media perjuangan hak mereka, daripada harus memberikan kepada negara (kadang melalui KBRI), yang hanya memungut iuran tanpa memperjuangkan nasib mereka!!! 

Seharusnya teman-teman yang di NGO, LSM, CSO, atau apalah namanya mulai memikirkan hal ini, daripada sekedar melakukan advokasi semata dan acap menemui jalan buntu. Perjuangkan nasib TKI-PRT di gedung parlemen…!!!

Bantuan suara juga dapat berdatangan dari para pegawai kecil cleaning service yang ada di kantor-kantor mentereng di perkotaan. Atau suara ibu-ibu rumah tangga yang merasa terbantu oleh PRT (pembantu rumah tangga). Siapa yang tidak takut jika para cleaning service, PRT, atau baby sitter, melakukan boikot dan mengadakan pemogokan. Sewaktu mereka mudik saat Lebaran saja kita kalang kabut, atau saat tak ada office boy yang membersihkan bekas abu rokok di meja kerja kita.

Ayo siapa yang mau gabung dan mendirikannya…? 🙂

3 responses to “Partai TKI dan PRT

  1. ngapain?
    mau ngebonceng kehebatan mereka…?

    cari kerja yang riil aja lah…kayak mereka berkerja dengan keringat halal..

    kekekekek..
    *udah lama gak liat blog keren inih..*

  2. Walahh….seperti Mas Kopdang tak tahu saja, tugas politisi dan partai politik kan memang membonceng dan mengumpulkan yang hebat-hebat… Katanya berpolitik adalah pengabdian, tapi bisa jadi pekerjaan lho…

  3. betul tuh pak…politisi dan partai hanya mau enaknya saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s