Jalan Publik Sempit!!

Setiap hari di Jakarta kita pasti mengeluh soal jalan yang macet dan rusak. Sudah tak terhitung berapa goresan yang ada di mobil, motor, atau bahkan jiwa yang melayang karena ruang sempit atau kerusakan jalan umum yang kita lalui. Alternatifnya, tak lain dengan menempuh jalan tol dalam kota atau tol lingkar Jakarta.

Itupun jika tidak macet pula. Tapi paling tidak kerusakan jalan tak separah yang ada di jalan-jalan umum di kiri kanan tol tersebut.

Untuk menikmati kenyamanan yang sederhana tersebut tentunya kita harus membayar, dan anehnya jalan tol tersebut tak pernah turun bea masuknya. Termasuk tol Jagorawi yang mungkin sudah pulang modal. Alasan pemeliharaan acap kali menjadi alasan. Akan tetapi kecurigaan atas keuntungan di satu jalan tol yang kemudian dipakai untuk membiayai jalan tol yang lain sudah pasti ada. Logikanya saat kita membayar bea tol, seharusnya untuk akses layanan yang diberikan di jalan tersebut, yang kita gunakan. Misalnya saat kita menggunakan tol jagorawi, berarti layanan jasa yang kita nikmati adalah antara Jakarta dan Bogor atau sebaliknya. Bukan untuk membiayai niat investasi atau pengembangan bisnis perusahaan pembuat jalan tol tersebut. Namun yang namanya akal-akalan sudah pasti tak pernah bisa sepenuhnya dihindari.

Curangnya pula (kenapa ini nggak pernah dipersoalkannya yah…?), jalan publik yang ada di kiri dan kanan tol, umumnya lebih sempit dari ruas jalan tol. Rata-rata lebar jalan tol dua kali jalan publik yang gratis. Contoh saja ruas jalan tol Simatupang, yang lebar setiap jalurnya hampir satu setengah ruas jalur jalan publik. Untuk memungkinkan adanya gerbang tol di depan Cilandak Town Square (CITOS) saja misalnya harus mengorbankan penyempitan jalan publik yang ada di depan CITOS.

Dengan kata lain, untuk menghindari macet maka kita harus rela merogoh kocek kita sedikit lebih dalam. Namun yang menjadi persoalan pilihan tersebut tidak sebanding. Jalan publik lebih sempit dan banyak berlobang. Tentunya bisa menjadi sebab kemacetan, dan akhirnya memaksa kita harus memilih jalan tol.

Kalau dibuat sama bagus dan lebar, pilih mana? Jangan-jangan ada kesengajaan membuat jalan publik sempit? Atau memang tata kotanya semerawut?🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s