Politik, Totem, dan Demokrasi

Pemilihan umum 2009 sudah tinggal selangkah lagi. Undang-undang sedang disiapkan, peraturan sedang digodok, dan partai-partai baru pun banyak bermunculan. Aktor boleh lama, tapi kendaraan bisa baru….(seperti penyelundupan mobil mewah saja.. 🙂 ). Calon-calon presiden pun sudah ramai dibicarakan.

Yang menjadi perhatian saya bukan soal siapa yang menjadi calon, apa yang menjadi program partai, atau apa yang menjadi warna bendera partai-partai tersebut. Toh tak ada wajah calon yang baru, hampir sama dengan calon-calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan umum 2004. Program yang jelas pun jarang dijumpai ada pada partai-partai tersebut, baik yang lama maupun baru. Soal warna partai, kalau tidak merah, biru, kuning, yang hijau, walau mungkin akhir-akhir, aad pula yang mencoba dengan warna ungu maupun oranye.

Coba amati, rata-rata partai tersebut menggunakan lambang binatang atau tumbuh-tumbuhan. Ada beberapa dengan simbol keagamaan. Jika yang ini memang tak heran. Jika partai tersebut memang berbasis salah satu kelompok agama, mau tidak mau mereka harus menambilkan simbol keagamaan tersebut. Namun beberapa partai politik yang bukan berbasiskan suatu agama umumnya memakai lambang binatang atau pohon (unsur tumbuh-tumbuhan).

Umumnya bersimbolkan burung, banteng, padi, kapas, atau pohon. Lucunya, jika diperhatikan simbol burung atau binatang yang dipakai adalah burung atau binatang yang garang dan gagah, seperti rajawali, elang atau banteng. Mungkin ingin menyamakan dengan simbol negara kita, Garuda, atau beberapa gambar yang ada didalam perisai garuda. Namun bisa juga tidak. Lantas kenapa tidak ada yang memakai lambang harimau (yang juga khas Indonesia) atau badak atau gajah. Atau Komodo dan burung kakatua misalnya. Atau Orang Utan? 🙂 Atau burng dan tumbuhan yang melambangkan keindahan, seperti cendrawasih, merak, nuri, angrek atau mawar?

Tentunya bermuara pada kegagahan dan kejantanan dan pilihan tersebut tak ada hubungannya sama sekali dengan demokrasi, aspirasi, apalagi program partai. Lha wong elang adalah burung pemangsa kok dan cenderung menyendiri dalam kelompok kecil. Tapi jangan lupa, Partai Cinta yang pernah heboh di Italia berani menggunakan mawar sebagai simbol. Jadi bisa saja tergantung apa yang ingin ditawarkan. Jika Partai Cinta di Italia ingin mensimbolkan mawar sebagai cinta dan perdamaian yang ditawarkan, lantas apa yang ditawarkan elang, banteng, padi, kapas, atau pohon beringin? 🙂

Penggunaan simbol partai sebagai daya tarik yang diiklankan kepada masyarakat umumnya terjadi di negara-negara yang masih melihat simbol sebagai cermin keterwakilan kepentingan mereka. Ka’bah atau bintang mungkin mensimbolkan sebuah pilihan bagi umat Islam. Padi mungkin melambangkan adanya aspirasi petani, atau palu yang identik dengan kaum pekerja. Masih pada sebatas simbol (totem), bukan pada program yang ditawarkan. Di negara-negara yang telah maju dalam proses pendidikan politik dan demokrasi, umumnya jarang menggunakan simbol (totem). Wajah calon dan program partai yang menjadi andalan.

Dengan demikian, apakah pendidikan politik dan demokrasi di Indonesia tak bergerak maju? Atau partai politik sengaja masih menggunakan totem karena mereka tidak siap dengan program kerja. Atau wajah calon tidak cukup, masih diperlukan lambang untuk membantu agar lebih terlihat gagah? Namun buktinya dalam pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah dengan wajah saja sudah bisa dipilih.

Tak tau saya… 🙂

 

3 responses to “Politik, Totem, dan Demokrasi

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/politik_totem_dan_demokrasi

  2. minta jadwal pemilu 2009 sampai pemilihan presiden,punya gak? balas ya ke emailku di hadi_st@yahoo.com

    wassalam,

    Hadi

  3. Mas Hadi, mohon maaf saya belum dapat jadwal pemilu 2009…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s