Trotoar Kok Dipakai Parkir?

Upaya Pemda DKI Jakarta menertibkan parkir-parkir liar mungkin patut diacungkan jempol. Pengerekan, pemasangan rantai besi dan denda yang dikenakan kepada para pengemudi yang memarkirkan mobilnya “secara liar” merupakan pelajaran yang seharusnya tak mengenal kompromi.

Bukan rahasia lagi kalau banyak lahan parkir liar yang menjadi “jatah” hasil kongkalingkong aparat birokrasi dan preman. Paling tidak dengan adanya “gerakan’ baru (tapi niatnya sudah lama) ini, ada sekian milliar pendapatan asli daerah yang terselamatkan.

Namun ironisnya, atau jangan-jangan gerakan pembersihan ini hanya “hangat-hangat tai ayam” dan sekedar berlaku di kawasan tertentu, masih banyak mobil yang parkir secara “liar” di beberapa tempat di Jakarta. Saya sengaja memberikan tanda kutip karena letak parkir tersebut berada persis di muka kantor atau lahan usaha yang mungkin saja memiliki ijin resmi (tak jauh dari rumah Walikota Jakarta Selatan lho.. 🙂 ).  Mungkin ini tak hanya terjadi di satu tempat, tetapi terjadi di banyak ruas-ruas jalan lainnya.

Saya acap kali kesal tatkala harus berjalan mencari makan siang di dekat kantor, karena harus merasa was-was, takut terserempet mobil atau bis dan kopaja yang melaju dengan kencang di sepanjang jalan Senopati, Jakarta Selatan. Trotoar, yang secara teori adalah lahan publik untuk berjalan kaki, habis terpakai oleh mobil-mobil yang parkir di muka lahan-lahan usaha dan kantor sepanjang jalan tersebut. bahkan ada beberapa ruas jalan yang dipagari kawat (di dekat salah satu Sekolah Dasar  yang ada di jalan tersebut).

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi belakangan ini memang memberikan dampak menjamurnya lahan usaha baru atau perkantoran di Jalan Senopati. Tak ada yang salah, bahkan harus didukung. Namun yang salah, menurut saya, adalah memakai trotoar sebagai lahan parkir dan membuat pejalan kaki harus berjalan di jalan raya dengan beresiko terserempet kendaraan yang kadang berpacu dengan cepat.

Seharusnya saat memberikan ijin usaha atau kantor soal parkir ini harus menjadi salah satu syarat boleh tidaknya mereka membuka usaha.

Saya pikir hingga sekarang trotoar tetaplah  diperuntukan bagi pejalan kaki dan tak ada peraturan daerah DKI Jakarta yang mengijinkan trotoar sebagai lahan parkir. Apalagi diberi kawat berduri sebagai pembatas. Saya tak tahu jika ada pengecualian (dan seharusnya peraturan tak memiliki pengecualian..).

Jika memang belum bisa memperbaiki dan membuat lobang-lubang yang ada di jalan tertutup kembali, paling tidak ada kenyamanan bagi pejalan kaki dan tak takut kehilangan nyawa mereka. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s