Kiat Berziarah Ke Pemakaman

Berziarah ke pemakaman merupakan hal yang sedikit “menakutkan,” Bukan karena hantu gentayangan yang sering digambarkan dalam film-film horor Indonesia. Toh biasanya kita berkunjung siang atau sore hari (kalau malam mungkin untuk pacaran atau shooting “memburu hantu”).

Justru yang menakutkan adalah manusia yang biasanya berkeliaran di area pemakaman, entah yang menawarkan jasa membersihkan makam, meminta-minta sedekah, atau menawarkan jasa membacakan doa. Memberi sedekah, membiarkan orang ikut berdoa bersama kita, atau menerima seseorang yang menawarkan diri melakukan pekerjaan kebersihan mungkin sesuatu yang biasa. Namun yang dijumpai di area pemakaman adalah hal yang “luar biasa.” Terutama saat-saat menjelang bulan Ramadhan dan hari Raya Idhul Fitri atau Adha.

Terkadang kita merasa terganggu dengan kerumunan orang yang menawrkan jasa membersihkan makam, yang terkadang mencapai 10 – 12 orang. Padahal untuk membersihkan makam tersebut mungkin hanya membutihkan satu atau dua orang saja. Namun jika kita mengatakan cukup dua. mereka akan menjawab, “terserah nanti diberikan berapa saja.” :)  Jadi bukan soal jasa membersihkan makam itu yang mereka tawarkan, tetapi belas kasih dan sedekah kita. Alat potong rumput dan membersihkan makam tersebut hanya cara saja. Toh jika kita berikan Rp 15 ribu atau Rp 30 ribu tak ada bedanya, dan memang sulit menghitung nilai jasa yang merekan berikan dengan perbandingan uuran makam serta tenaga yang terpakai.

Lucunya lagi, biasanya kita sudah membayar ke Dinas Pemakaman biaya selama satu tahun plus seseorang yang kita berikan uang bulanan untuk menjaga kebersihan. Jawaban mereka sederhana saja, “Bagi-bagi rezeki dong Pak.”

Boleh lah untuk yang membersihkan makam. Ada sedikit kerja yang dilakukan. Untuk yang meminta sedekah boleh kita mengucapkan “maaf” atau kalau mau sedikit memberi. Repotnya jika kita berikan satu orang maka yang lain akan datang, dan mengatakan “yang itu dikasih Pak?” Cukup repot jika dalam bersedekah saja kita dicap tidak adil. tak ada kriteria siapa yang layak untuk diberi. Namun jika diberi seluruh yang meminta sedekah di area pemakaman tersebut bisa-bisa kita juga bangkrut…ha…ha….ha… 🙂

Soal penawaran jasa berdoa di pemakaman, pengalaman yang saya alami kemarin mungkin bisa dijadikan contoh. Saat ikut mengiringi jenazah salah seorang saudara yang akan dimakamkan di Pekuburan umum Karet, saya menyempatkan diri berziarah ke makam Bapak saya yang juga berada di Karet.

Dengan berbekal sekantung kembang yang dijual di muka halaman pemakaman  saya pun masuk mengunjungi makam tersebut. Mendekatai makam, seperti yang saya takutkan, seketika saja sekitar 12 orang berdatangan menawarkan jasa membersihkan rumput yang ada di makam tersebut. Seperti biasa mereka mengatakan “Dikasih berapa saja Pak Haji..”

Pak Haji?  Saya baru sadar kalau saat itu, karena menghadiri acara penguburan, masih mengenakan baju koko dan topi bundar ala haji-haji yang baru pulang dari Ma’kah. Padahal topi tersebut sayang beli di Mangga Dua dan itupun made in Pakistan, bukan Arab Saudi. Mungkin karena terpaksa, iba, atau disebut Pak Haji, saya pun membiarkan mereka membersihkan makam, dan memberikan uang sekedar kepada mereka.

Saya sempat melirik ada satu orang laki-laki setengah baya, bersarung , berbaju koko dan membawa payung lalu dan melihat kepada saya. Ini dia, yang akan menawarkan jasa membcakan doa, dalam hati saya. Repotnya tak ada lagi uang pecahan kecil di kantong saya. Namun ia lewat begitu saja. Kemudian lewat satu lagi, lalu satu lagi. Semuanya hanya melihat ke arah saya dan urung menawarkan jasa memanjatkan do’a. Hingga saya sendiri yang berdo’a tak ada yang menghampiri.

Saya lantas berfikir kenapa? Mungkin orang-orang yang membersihkan rumput tadi bercerita, tak usah ke Bapak itu karena cuma memberi sedikit. Tapi saya melihat bahwa seorang yang biasanya menawarkan jas berdo’a tersebut lalu saat mereka sedang membersihkan makam dan belum menerima upah. Ia pun tak menghampiri. Lantas saya berkesimpulan, mungkin karena pakaian yang saya kenakan. Ia pun pasti menyangka seorang haji yang sedang dihadapinya, sehingga ia enggan menawarkan jasa. Masa seorang haji ditawari bantuan untuk memanjatkan do’a? 🙂

Paling tidak ada hikmah yang saya pelajari dari pengalaman itu, yang mungkin bisa dicontoh pula bagi yang “takut,” untuk berpakaian Muslim a’la orang-orang yang telah pulang menunaikan ibadah Haji jika berziarah ke pemakaman umum. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s