Monthly Archives: Juni 2008

“Bangsa Ini Telah Lelah Dengan Kekerasan”

Judul diatas saya temukan saat pagi tadi membaca opini di Majalah Mingguan Tempo edisi 30 Juni, yang mengutip ucapan almarhum Munir. Opini itu sendiri membahas soal kematian Munir dan terlibat atau tidaknya badan intelejen Indonesia.

Kita tentu masih ingat demonstrasi mahasiswa terakhir di muka gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menolak kenaikan BBM, yang berlanjut di muka kampus Atmaja dan berujung pada kekerasan dan perusakan fasilitas umum dan pribadi. Demonstrasi yang konon untuk membela kepentingan rakyat kecil tersebut, menolak kenaikan BBM, justru membuat rakyat kecil ketakutan, terlambat pulang kerja karena macet (menghabiskan BBM), atau bahkan kehilangan harta karena mobil yang dirusak atau dibakar, hanya karena memiliki plat berwarna Merah.

Peristiwa itu seolah mengikuti kekerasan lain sebelumnya, tatkala massa pendukung kebebasan beragama yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Tugu Monumen Nasional (monas) kocar-kacir diamuk oleh massa pendukung front pembela Islam. Perbedaan pendapat dan keyakinan kembali harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Seolah memiliki otoritas tunggal terhadap kebenaran. Seolah menjadi Tuhan itu sendiri, menentukan salah dan benar, berdosa atau tidak, yang merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Tuhan yang sebenarnya mereka akui sendiri sebagai maha kuasa, maha tahu, maha pengasih, maha pengampun, maha penyayang, dan maha menghukum (yang bersalah). Mungkin bagi kelompok ini Tuhan perlu diwakilkan. Baca lebih lanjut

“Kesenjangan Pendapatan di Dunia: Mengapa?”

(Kedai Kebebasan – Jakarta) Freedom Institute, bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung dan komunitas blogosphere Café Salemba kembali akan mengadakan sebuah diskusi ekonomi, yang kali mengambil tema kesenjangan pendapatan.

 

Sebagaimana yang telah menjadi diskusi serius, kita memang hidup di dunia yang tidak merata. Menurut Branko Milanovic (1999), 25% penduduk terkaya di dunia menikmati 75% pendapatan dunia. Dalam konteks antarnegara, rata-rata pendapatan per kapita 20 persen negara terkaya mencapai 25 kali pendapatan per kapita 20 persen negara termiskin di tahun 2000.

 

Namun sebuah potret yang diambil pada satu waktu tentu tidak bisa bicara banyak. Ada beberapa pertanyaan yang perlu diajukan: 1) bagaimana kecenderungan kesenjangan pendapatan dari waktu ke waktu? 2) mengapa terjadi kesenjangan? 3) apakah kesenjangan pendapatan adalah sesuatu yang tidak terelakkan? 4) apakah kita harus fokus pada menghilangkan kesenjangan, atau pada peningkatan kesejahteraan penduduk di bagian terbawah distribusi pendapatan?

 

Beberarapa pertanyaan diataslah yang coba untuk dibahasa dalam diskusi yang akan diadakan di:

 

Tempat                         :  Freedom Institute, Jalan Irian No. 8, Menteng, Jakarta

 

Hari/Tanggal/Jam         :   Kamis 19 Juni 2008, 18.00 – 21.00

 

Pembicara                    :  1. Ari A. Perdana (FE UI)              

                                      2. Teguh Yudo Wicaksono (CSIS)

 

Moderator                    :  Hamid Basyaib (Freedom Institute)

 

Bagi anda yang berminat untuk hadir dalam diskusi tersebut dapat menghubungi Freedom Institute, dengan kontak:  Tata atau Imie pada nomor telp. 021 3190 9226.

 

Podcast untuk Kaum Muda

 

A.    Latar Belakang

Friedrich-Naumann-Stiftung, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang advokasi dan pendidikan politik bagi para politisi, bekerja sama dengan Forum Politisi, sebuah organisasi politisi Indonesia, bermaksud untuk mengadakan sebuah Podcast Gathering yang bertema: “Podcast For the Youth” yang dijadwalkan untuk diadakan pada tanggal 15 Juni 2008 mendatang di Jakarta.

 

Definisi Podcast itu sendiri adalah sebuah file suara/audio yang bisa didownload dari internet untuk didengarkan sebagaimana layaknya sebuah acara radio. Hanya saja ada satu unsur yang membedakan podcast dari sekedar proses mengupload sebuah file audio (biasanya format MP3) ke internet untuk kemudia bisa didownload oleh siapapun, yakni teknologi sindikasi yang dikenal dengan RSS (Really Simple Syndication). Dengan meng-copy paste kode RSS ke RSS Reader seperti iTunes, iPodder atau bahkan yang online seperti Google Reader, maka kita bisa berlangganan file audio tersebut. Tiap ada episode baru, maka otomatis RSS Reader akan memberitahu bahkan otomatis mendownloadnya untuk kita. Baca lebih lanjut

Kekerasan…….

Orang tua, nenek atau kakek kita acap bercerita bahwa nenek moyang kita adalah bangsa yang peramah dan senang bergotong royong. Itu pula yang kita dapati didalam pelajaran-pelajaran sekolah, tentang keramah-tamahan nenek moyang kita, sebagai bangsa dari Timur. Bahkan ada kawan-kawan semasa kuliah yang meplesetkannya, memberi kesimpulan bahwa karena keramah-tamahan inilah yang membuat bangsa kita terjajah oleh Belanda.

Mereka yang semula hanya berniat berdagang kemudian diberi ijin untuk membuka loji, sebagai kantor agen perdagangan, dan lambat laun memperluas daerah kekuasaannya, memungut pajak dan menentukan birokrasi pemerintahan. Toh nenek moyang kita tetap menyambutnya dengan ramah tamah, bahkan menganggap mereka sebagai saudara. Sama halnya saat kita menyambut “saudara tua” dari arah matahari terbit, yang dianggap membawa kemakmuran dan kenaikan martabat sebagai bangsa Asia. Baca lebih lanjut