Kekerasan…….

Orang tua, nenek atau kakek kita acap bercerita bahwa nenek moyang kita adalah bangsa yang peramah dan senang bergotong royong. Itu pula yang kita dapati didalam pelajaran-pelajaran sekolah, tentang keramah-tamahan nenek moyang kita, sebagai bangsa dari Timur. Bahkan ada kawan-kawan semasa kuliah yang meplesetkannya, memberi kesimpulan bahwa karena keramah-tamahan inilah yang membuat bangsa kita terjajah oleh Belanda.

Mereka yang semula hanya berniat berdagang kemudian diberi ijin untuk membuka loji, sebagai kantor agen perdagangan, dan lambat laun memperluas daerah kekuasaannya, memungut pajak dan menentukan birokrasi pemerintahan. Toh nenek moyang kita tetap menyambutnya dengan ramah tamah, bahkan menganggap mereka sebagai saudara. Sama halnya saat kita menyambut “saudara tua” dari arah matahari terbit, yang dianggap membawa kemakmuran dan kenaikan martabat sebagai bangsa Asia.

Kita diajarkan “kerukunan” politik oleh sejarah. Berbeda-beda, beraneka ragam budaya dan suku, yang memiliki satu tujuan. Bhineka Tunggal Ika, menjadi semboyan bangsa Indonesia. Meskipun agak sumir, namun bolehlah. Paling tidak memberikan tanda bahwa Indonesia terdiri dari suku, ras, agama, kepercayaan, dan agama yang berbeda, namun berada dalam satu kesatuan wilayah dan menjadi bangsa Indonesia. “Cause we are live under the same sun…….” ujar lirik lagu band Scorpion.

Sejarah juga mengajarkan kepada kita, para politisi pendahulu, yang mampu berdebat, tertarik urat lehernya dan begadang hingga larut malam, tanpa suatu kekerasan. Meskipun beraliran politik lain atau berbeda agama. Baca saja beberapa biografi atau otobiografi yang sangat mudah didapat di toko-toko buku, yang bercerita bagaimana seusai mereka berdebat tentang suatu persoalan, dapat duduk tertawa-tawa sambil minum secangkir kopi. Tak ada pula kekerasan saat terjadi perdebatan seru dalam “meributkan” Piagam Jakarta.

Peristiwa pelemparan granat di Kolam Renang Cikini, Peristiwa Madiun, atau Peristiwa G-30-S, mungkin suatu pengecualian. Tetapi analisa sejarah juga mengajarkan kita tentang adanya keterlibatan unsur militer dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Unsur yang memang memonopoli wewenang kekerasan.

Entah mengapa akhir-akhir ini kita senang dengan kekerasan, semata hanya disebabkan perbedaan pendapat, argumen, keyakinan, kepercayaan, pandangan politik, maupun agama. Apa yang terjadi pada I Juni 2008 kemarin, tepat saat kita merayakan Hari Kelahiran Pancasila, bukanlah sesuatu yang baru. Prolog telah terjadi di beberapa daerah dengan wujud pembakaran dan penghancuran rumah-rumah ibadah atau sekolah milik Ahmadiyah. Yang terjadi di hari Minggu lalu menjadi santapan headline berbagai media nasional dan internasional karena terjadi di ibukota negara Republik Indonesia, DKI. Jakarta, pada saat perayaan Hari Kelahiran Pancasila, dan tak jauh dari Istana Negara.

Jangan-jangan benar apa yang Geert Wilders dalam film Fitna-nya. Umat Islam senang dengan kekerasan.

Benar apa yang dikatakan oleh presiden SBY, dan menjadi headline harian Kompas hari ini, Selasa, 3 Juni 2008, “Negara Tidak Boleh Kalah.” Namun apa yang harus dilakukan negara? Mengikuti tuntutan berbagai tokoh politik, yang sontak menjadi “pahlawan,” untuk membubarkan Front pembela Islam (FPI)? Memenuhi “tantangan” Munarman, Panglima Komando Laskar Islam, Munarman, yang mantan Direktur YLBHI itu?

Kekerasan tentunya tak boleh dilawan dengan kekerasan. Nabi Muhammad SAW sendiri tak ingin membalas kekerasan yang ia terima saat mengunjungi kota Thoif dengan kekerasan.  Membubarkan FPI akan menjadi preseden, memberikan wewenang kepada negara untuk membubarkan setiap organisasi politik yang tidak disukai oleh negara. Lain halnya jika negara menemukan bukti bahwa FPI adalah organisasi kriminal.

Jika presiden mengatakan bahwa negara tak boleh kalah haruslah dilihat dari kacamata hukum, bukan politik kekuasaan. Pernyataan tersebut harus dimaknai dan diikuti dengan tindakan penegakan hukum. Jika bukti sudah ditangan, pelaku sudah ditetapkan, tuduhan sudah ada, mengapa takut untuk menangkap mereka yang melakukan tindak kekerasan di hari Minggu lalu itu?

Paling tidak kita masih menunggu apa yang dimaksud oleh SBY sebagai negara tak boleh kalah dan tindakan apa yang mengikutinya. Atau jangan-jangan hanya seperti syair lagu Slank, “atau itu hanya dongeng saja………” Bahwa nenek moyang kita adalah orang yang cinta damai dan anti kekerasan.

 

One response to “Kekerasan…….

  1. salam kenal pa thamrin, sy alhamdu lillaah Muslim Ahmadiyah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s