“Bangsa Ini Telah Lelah Dengan Kekerasan”

Judul diatas saya temukan saat pagi tadi membaca opini di Majalah Mingguan Tempo edisi 30 Juni, yang mengutip ucapan almarhum Munir. Opini itu sendiri membahas soal kematian Munir dan terlibat atau tidaknya badan intelejen Indonesia.

Kita tentu masih ingat demonstrasi mahasiswa terakhir di muka gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menolak kenaikan BBM, yang berlanjut di muka kampus Atmaja dan berujung pada kekerasan dan perusakan fasilitas umum dan pribadi. Demonstrasi yang konon untuk membela kepentingan rakyat kecil tersebut, menolak kenaikan BBM, justru membuat rakyat kecil ketakutan, terlambat pulang kerja karena macet (menghabiskan BBM), atau bahkan kehilangan harta karena mobil yang dirusak atau dibakar, hanya karena memiliki plat berwarna Merah.

Peristiwa itu seolah mengikuti kekerasan lain sebelumnya, tatkala massa pendukung kebebasan beragama yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila di Tugu Monumen Nasional (monas) kocar-kacir diamuk oleh massa pendukung front pembela Islam. Perbedaan pendapat dan keyakinan kembali harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Seolah memiliki otoritas tunggal terhadap kebenaran. Seolah menjadi Tuhan itu sendiri, menentukan salah dan benar, berdosa atau tidak, yang merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Tuhan yang sebenarnya mereka akui sendiri sebagai maha kuasa, maha tahu, maha pengasih, maha pengampun, maha penyayang, dan maha menghukum (yang bersalah). Mungkin bagi kelompok ini Tuhan perlu diwakilkan.

Belum lagi kita berbicara soal kekerasan yang lain. Pilkada Maluku Utara saja hingga kini tak kunjung menemukan solusi penyelesaiannya. Satu sama lain saling menganggap benar dan merasa menang. Tak ada lagi pengakuan kalah secara jantan terhadap pemenang dalam demokrasi.

Kekerasan menjadi santapan sehari-hari. Lihat saja dialog yang ada dalam sinetron-sinetron televisi. Nadanya penuh menghasut dan kemarahan. Olah raga pun tak jauh kondisinya. Permainan sepakbola yang baru berjalan 15 menit dapat saja tertunda akibat perkelahian antara pemain atau pemain dengan wasit dan hakim garis yang memimpin pertandingan. Lucunya, pelatih yang seharusnya memberi suri tauladan ikut pula berbaku hantam. Bandingkan dengan apa yang baru saja terjadi, pada pesta sepakbola di belahan benua Biru, Euro Cup 2008. Hampir tak ada pertikaian yang serius, meski pelipis harus mengeluarkan darah atau kaki patah sehingga harus absen sampai turnamen selesai (Sebastian Frei – Swiss).

Mungkin bangsa kita adalah bangsa pemberang. Para pahlawan kita selalu menghunuskan senjata. Gambar pahlawan yang ada diatas uang kertas Rupiah kita saja terlihat seram, tanpa senyum, dan menghunus parang. Pahlawan adalah seseorang yang telah mampu membunuh bangsa penjajah bumi Nusantara.

Lucunya kita selalu mengkampanyekan diri, mengundang turis manca negara datang, sebagai bangsa yang ramah tamah, bersifat gotong royong, dan memiliki rasa kekeluargaan. Namun yang ada justru travel warning karena kekerasan di Poso, Bom Bali, atau Bom Kuningan. Gagalah target visit Indonesia year karena kita masih dikenal sebagai negara yang penuh kekerasan.

Soal ibadah dan mendirikan rumah Tuhan bangsa kita jagonya. Jika sempat mengunjungi Wonosobo dan meneruskan perjalanan hingga Dataran Dieng, sepanjang jalan menuju pegunungan tersebut kita akan takjub dengan banyaknya mesjid yang dibangun, hampir ada mesjid setiap seratus meter. Terbayang bagaimana ramainya jika serempak mengumandangkan azan.

Mengunjungi jalan-jalan pelosok kampung atau pedesaan di hampir seluruh wilayah Nusantara kita juga acap menjumpai orang-orang di pinggir jalan dengan pengeras suara atau jaring penangkap ikan, yang disodorkan kepada kita agar memberikan sumbangan untuk membangun mesjid. Belum lagi beberapa yang bergerilya mendatangi rumah, pertokoan, atau restourant, menyodorkan daftar yang dapat kita isi jika memberi sumbangan.

Sebuah wajah bangsa yang religius. Karena konon agama megajarkan kasih dan perdamaian. Pertanyaannya adalah mengapa justru sebaliknya yang terjadi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s