Anak Sekolah dan Kemacetan

Soal kemacetan adalah soal klasik yang selalu muncul di Jakarta, dan belum mampu diatasi oleh berbagai “rezim” yang silih berganti memimpin Jakarta, ibukota Negara Republik Indonesia. Berbagai macam cara ditempuh sudah, dahulu ada yang dinamai Rapid Mass Trasportation, yang intinya mengatur jalur bis kota, dikenalkan pula bis sekolah dan bis universitas, yang tak banyak menolong, karena juga ikut mengangkut pekerja kantoran. Kutipan harga yang diperuntukkan bagi siswa sekolah maupun mahasiswa lebih murah dibanding harga tiket bis yang lain. Jika mengangkut pegawai kantoran atau pekerja yang lain, paling tidak ada kelebihan yang dapat dikantongi oleh supir dan kenek bis.

Tol dalam kota dan tol lingkar jakarta pun di bangun dengan semangat mengatasi kemacetan. Namun toh kenyataannya jalan tol, pada jam-jam tertentu justru lebih padat dibanding jalan umum biasa yang ada di kiri kanannya. Jalur bus way yang konon menjadi sebuah alternatif juga tak banyak membantu. Apalagi soal subway atau monorail. Mungkin masih harus menunggu 10-20 tahun lagi.

Alhasil, pemerintah daerah DKI Jakarta masih mencari-cari akal menanggulangi kemacetan. Usul telah banyak dilontarkan, dan ada yang sudah diterapkan, seperti three in one pada pagi dan sore hari sepanjang ruas Thamrin Sudirman, dan sedikit ruas Gatot Subroto. Namun toh pemerintah tak bisa menerapkan kebijakan tersebut untuk semua ruas jalan utama di Jakarta. Lagi-lagi usulan ini mentok. Ada yang kemudian mengusulkan memakai sistem genap-ganjil. Pada hari-hari tertentu diatur hanya kendaraan dengan nomor seri genap yang lalu dan pada hari yang lain dengan nomor seri ganjil. Namun lagi-lagi gagal dan tak masuk akal.

Tiba-tiba saja pemda Jakarta melontarkan gagasan untuk memajukan jam sekolah menjadi lebih awal, sehingga tak serentak memakai kendaraan dan lalu dijalan raya, bersamaan dengan jam kerja kantor.

Lagi-lagi usul ini menjadi aneh, karena seolah-olah beban kemacetan kemudian diletakkan pada pundak siswa sekolah. Mengubah pola masuk sekolah lebih awal adalah mengubah pola kehidupan sosial sang anak. Ada soal psikologis disana. Tak hanya cukup dengan beralasan mereka akan lebih sehat bangun pagi dan menghirup udara segar (mana ada lagi udara segar di Jakarta). Sama dengan saat saya sekolah dahulu, tatkala jam sekolah menjadi lebih panjang, istirahat dua kali. Belum lagi berbicara kontens buku pelajaran yang harus diubah, tentang siswa berangkat sekolah. Jika siswa masuk lebih awal, artinya penjaga sekolah dan guru pun harus datang lebih awal.

Seharusnya ada cara lain yang kebih baik daripada sekedar menggeser-geser persoalan ke sudut yang lain. Pola kosentrasi perkantoran dan pemukiman pun harus masuk dalam pembahasan mengenai kemacetan di Jakarta.

5 responses to “Anak Sekolah dan Kemacetan

  1. Sebenarnya cukup aneh, kalau di jakarta yang sempit seperti itu jarang sekali ada rel, tapi lebih banyak jalan tol-nya. Barangkali, ini sebagai tanda bahwa pemda-nya bener-bener tol-ol, eh salah….
    Maksudnya, sekolah lebih baik di rumah aja, kalau boleh saya usul, seharusnya si guru yang harus datang ke rumah murid, tapi dengan konsekuensi gaji guru tersebut harus naik berkali-kali lipat.
    Dengan begitu kan, ortu siswa tidak perlu susah-susah nganter anaknya ke sekolah, yang menyebabkan jalan Jakarta sering macet….
    Apakah usul saya juga tol-ol ndk ya?

    mohon tanggapan donk,he2….

  2. Mengapa tidak pakai tramway dan metro/subway.

    Tuh, pada kirim-kirim orang utk belajar soal transportasi, kenapa engak pernah aplikasi! Uhhh…hanya buang-buang duit rakyat saja!

  3. Mas Giyanto, idealnya bahkan dengan tehnologi yang sudah canggih, siswa dan guru bisa belajar atau kuliah online, dan dengan webcam bisa juga seperti teleconference.. 🙂

    yang saya curiga adalah kuatnya lobby rezim moda transportasi mobil….ha..ha…

  4. alejandro gonzalez

    bagaimana jika kebijakan kuota kepemilikan kendaraan?

    • Mas Gonzales, saya kok nggak terlalu setuju dengan cara pemaksaan dari atas seperti ini yah, nantinya akan sama dengan program three in one, siapa tau nama pemilik kendaraan bisa dipakai nama kakek, nenek, cucu, isteri, suami, anak, dll. Jadi nggak menyelesaikan persoalan juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s