Mahalnya Harga Buku

Buku adalah sumber ilmu, kata nasihat orang-orang tua dahulu, dan sebagai orang yang percaya dengan petuah tersebut sudah barang tentu saya ingin pula menularkan “buku sebagai sumber ilmu” tersebut kepada anak saya, yang kini duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Saya masih ingat, semasa saya kecil, hadiah yang selalu menyenangkan yang diberikan oleh orang tua saya adalah buku. Dengan menyisihkan uang sekitar Rp 5,- hingga Rp 10,- dari uang saku setiap minggu, untuk membayar sewa dua buah buku, yang dipinjam pulang ke rumah selama dua minggu, di Perpustakaan Umum DKI Jakarta samping gedung Walikota Jakarta Pusat. Gedung perpustakaan ini masih ada hingga kini, walaupun hampir masih sama seperti dahulu dan tak pernah menjadi lebih besar gedungnya.

Pendek kata, hari Minggu lalu saya mengajak anak saya ke sebuah toko buku yang ada di kota Bogor. Setelah menemukan beberapa buku yang kami inginkan, transaksi pembayaran pun dilakukan. Tak ada hal yang luar biasa. Hanya saja saya berpikir betapa mahalnya harga total keempat buku yang saya bayar sebesar lebih kurang Rp 250,000,- Sungguh luar biasa. Satu buah buku yang saya beli berbandrol Rp 89,000,-

Saya membeli buku-buku tersebut karena memang menginginkannya. Mungkin kalaupun harga salah satu buku tersebut lebih mahal, saya masih akan membelinya, dengan mengurangi jumlah buku yang saya beli (mungkin)  :)  Namun yang menggangu pikiran saya adalah alangkah mahalnya harga tersebut. Apakah tidak bisa lebih murah?

Saya tak tau apa yang menyebabkan harga tersebut menjadi mahal. Karena kutipan keuntungan yang besar dari si Toko Buku? Atau memang sedari awal sebagai sebuah produk buku tersebut sudah mahal.

Setiap awal tahun ajaran baru atau bahkan setiap awal semester, para orang tua murid selalu mengeluh tentang mahalnya harga buku paket wajib pelajaran yang akan dipakai oleh anak-anaknya. Usut punya usut Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melihat bahwa praktek monopoli dan kongkalingkong antara penerbit dengan sekolah, atau bahkan dengan guru pelajaran yang bersangkutanlah yang membuat buku menjadi mahal.

Namun mungkin bukan itu saja. Pajak tinggi yang dibebankan kepada kertas, pajak percetakan, pajak tinta percetakan, pajak buku, pajak terhadap penerbit, pajak penjualan, pajak toko buku, dan lain sebagainya yang mungkin membuat buku menjadi barang yang mahal, lebih murah membeli sehelai kaos atau kemeja di factory outlet (FO). Semua pajak tersebut dibebankan kepada pembeli. Jika buku yang menjadi sumber ilmu menjadi mahal, bagaimana masyarakat menjadi pintar?

Program buku gratis elektronik (E-book) yang diupayakan oleh pemerintah bagi siswa sekolah  mungkin sebuah program yang baik. Namun yang menjadi hambatan adalah jaringan internet, daya listrik, dan komputer yang belum terjangkau oleh seluruh siswa sekolah di Indonesia.

Saya lebih setuju jika dana yang 20% dari APBN, atau boleh lebih lah dari surplus yang diperoleh dengan mengurangi subsidi BBM, dipakai untuk mensubsidi penterjemahan dan penerbitan buku. Jepang, Korea, atau India, pernah melakukan subsidi terhadap berbagai penterjemahan dan penerbitan buku. Meskipun hanya menggunakan sejenis kertas koran, buku di India dapat diperoleh dengan murah.

Lagi-lagi, mungkin itu yang membuat mereka bisa lebih maju, dengan cepat, daripada bangsa kita yang tercinta ini.

Kampanye rekan-rekan untuk melawan budaya nonton televisi, sinetron, games,  atau film, yang tengah digandrungi oleh anak-anak usia sekolah, akan percuma jika tak ada alternatif lain. Mungkin tak cukup dengan hanya memberikan alternatif permainan alam atau mengajak mereka menikmati alam terbuka. Harus dipikirkan alternatif lain, yaitu bacaan yang murah atau bahkan gratis.

Sangat langka pemerintah pusat atau daerah memikirkan tentang bagaimana mengembangkan perpustakaan yang mereka miliki. Tanyakan saja berapa APBN atau APBD yang dianggarkan untuk perpustakaan daerah. Sangat minim. Sementara mereka selalu berkoar tentang memajukan sumber daya manusia. Sangat tragis untuk melihat, jika teman-teman memiliki kesempatan untukm melihat, perpustkaan-perpustakaan milik daerah. Sementara antusiasme yang ditunjukkan oleh para siswa sekolah sangatlah tinggi.

Lebih mengenaskan lagi, tak ada satupun partai atau caleg, mungkin saya luput tetapi setahu saya belum ada, yang memikirkan mengenai persoalan buku atau perpustakaan ini.  Lebih ramai mereka mengkampanyekan soal kemiskinan, tenaga kerja, upah, petani, nelayan, anti korupsi, perempuan dalam politik, anak muda, dan tetek bengek lainnya. Bahkan dengan lantang menawarkan perubahan atau kemajuan bagi Indonesia.

Tetapi tak ada satu pun yang menyinggung soal mencerdaskan bangsa melalui buku dan menimbulkan minat baca pada anak-anak, yang akan menjadi generasi penerus di masa depan.

Adalah sesuatu yang mengharukan, bisa pula menyedihkan, melihat kanak-kanak yang memperebutkan majalah atau buku anak-anak, karena terbatas sementara yang meminati banyak, di perpustakaan kecil kami, yang baru dibangun,  di perumahan Taman Udayana, Sentul. Antusiasme anak-anak terhadap buku dapat terbentuk dengan meyediakannya. Jika tidak mereka akan kembali kepada sinetron atau televisi.

Mudah-mudahan uneg-uneg ini bisa menjadi masukan bagi pemerhati anak, pemerhati buku, atau mereka yang sedang bersiap bertarung menjadi pembuat kebijakan.

 

Tabik

2 responses to “Mahalnya Harga Buku

  1. kalau dulu sewa dua buku Rp. 5,- dan sekarang beli 4 buku Rp. 250.000,- …
    Barangkali bukan cuma pajak, tapi juga inflasi? kalau 20 tahun yang lalu Rp. 5,- dapat satu bungkus es kolak, kemarin teman saya ngasih pengamen Rp. 100,- aja mereka buang ke jalan uang itu…(bayangkan, pengamen aja sekarang mematok harga tinggi?)….Menurut saya bukan barang-barang yang naik, tapi kesejahteraan kita lah yang turun….

    Siapa penyebab semua ini? barangkali ialah pengambil “kebijakan” itu sendiri…masih berharapkah kita pada pengambil kebijakan?

  2. Pemerintah seharusnya menghapus pajak untuk penerbitan buku pelajaran dan bacaan yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s