Harga BBM Turun Lagi: Politik atau Bukan?

Politisi Indonesia memang paling pandai berkelit, mencari berbagai alasan mmperkuat argumen. “Komoditi” yang paling laku dipakai adalah BBM, karena konon menyangkut hajat hidup orang banyak.

Karena itu tatkala harga BBM melambung tinggi (menurut Iwan Fals akan membuat ….”susu tak terbeli”), ramai kritik dilontarkan saat pemerintah tak tertahankan harus menaikkan harga BBM dan mencabut subsidi yang membebani APBN. Tak memperhatikan nasib rakyat katanya. Rakyat haruslah tetap mendapatkan harga BBM murah untuk dibakar habis.

Namun toh saat pemerintah menurunkan harga BBM, karena harga minyak dunia yang turun, kritik yang kembali dilontarkan adalah “komoditi politik.” Mungkin karena tiga kali penurunana yang dilakukan menjelang pemilihan umum.

Liha saja kritik yang muncul di INILAH.COM, ini:

“Turunnya harga BBM tercium ada ‘bau busuk’ di dalamnya oleh elit politik. Beberapa parpol mengganggap penurunan harga BBM itu berbau politis. Bahkan PAN menilai walau harga BBM turun tapi rakyat tetap miskin.

Menurut Wasekjen PAN, Viva Yoga Mauladi, turunnya harga BBM merupakan konsekuensi logis dari fluktuatifnya harga minyak dunia. Namun pihaknya menyayangkan kenapa penurunan BBM itu harus dilakukan secara bertahap.

“Dari sisi ekonomi, penuruan BBM secara gradual tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kondisi ekonomi masyarakat kecil. Kebijakan itu sebenarnya tidak baik buat upaya mensejahterakan rakyat,” katanya kepada INILAH.COM, Jakarta, Selasa (13/1).

Fluktuasi harga pasar dipakai sebagai alasan bahwa turunnya harga BBM adalah sebuah konsekuensi logis. Namun kenapa alasan ini tak dipakai sebagai landasan berfikir saat harga BBM melambung tinggi. Toh penggeraknya adalah sama, yaitu mekanisme pasar. Atau jika demikian mengapa tidak harga tersebut dibiarkan saja mengikuti harga pasar, sehingga lepas dari campur tangan kepentingan politik. Jawabannya pasti tidak, karena BBM adalah komoditi yang dianggap menyangkut hajat hidup orang banyak, jadi harus tetap disubsidi pemerintah.

Padahal dibalik pemikiran ini, sama saja artinya kita membiarkan rakyat terlena, yang akan mengaggap kebutuhan merekan BBM akan selalu tersedia dan dicukupi pemerintah, dengan landasan berfikir tadi. Padahal BBM adalah sebuah produk yang terbatas, akan habis dan lama untuk pergantiannya. terbukti, saat BBM langka dibeberapa pompa bensin, kepanikanlah yang terjadi, karena produk yang telah menjadi kebutuhan hajat hidup orang banyak tiba-tiba menghiang.

Karenanya, seharusnya kita janganlah heran jika BBM akan selalu menjadi komoditas politik, bahkan sejak masa Orde Baru sekalipun. Karena ia menyangkut kebutuhan banyak orang. Harga BBM murah dengan subsidi yang besar membuat Soeharto tak banyak dikritik, karena kebutuhan hajat hidup orang banyak sudah terpenuhi. Janganlah pula heran jika dimasa Orde Baru, Pertamina harus berada dibawah cengkraman militer, karena inilah komoditi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yang bisa membuat rakyat senang terlena atau marah meradang.

Jika mulai Desember 2008 lalu SBY bermain-main menurunkan harga BBM, janganlah pula heran jika ia menganggap hal tersebut sebagi sebuah langkah untuk mencukupi hajat hidup orang banyak, sebagai amanat dari mandat yang ia terima sebagai presiden. Namun jangan pula heran jika ia dianggap memanfaatkannya untuk kepentingan politik, menjelang pemilihan umum dan pemilihan presiden.

Yang jelas, fenomena ini pasti akan terus terulang, mungkin pula untuk komoditi yang lain, jika kita tetap mempercayai bahwa negara, melalui pemerintah, lah yang satu-satunya dianggap sebagai lembaga yang paling mampu mencukupi kebutuhan hajat hidup rakyat…

(nulis-nulis mengisi waktu luang menunggu hujan reda)

6 responses to “Harga BBM Turun Lagi: Politik atau Bukan?

  1. Ramayana atau Matahari katanya sebelum melakukan diskon, menaikan dulu harga dagangannya, dan itu adalah “membohongi publik”. Kalo SBY mengatakan BBM turun, harus ada titik acuan dimana variabel variabel saat “titik acuan” sama dengan keadaan sekarang, baru terbukti BBM lebih murah apa tidak.

  2. Ketika akan pemilu harga bbm turun. kira2 setelah pemilu nanti bakal naik lagi gak ya?🙂

  3. terkadang memang menjadi senjata, untuk bisa berkuasa lagi🙂

  4. semoga saja, tidak ada maksud karena ingin menarik simpati masyarakat🙂

  5. ahhhh, aku tetap merasa sama saja

    bahkan banyak ongkos2 kirim , ataupun biaya kurir ( eh sama ya ) yg pada naik , padahal BBM kan udah turun

    mengecoh or tidak , pokoknya sama saja😀 heheee

  6. ya mudah-mudahan bener2 bukan kepentingan politis aja…Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s