Yang Tersisa Dari Pemilu 9 April

Membaca hasil sementara pemilihan umum legislatif yang baru dilakukan 9 April lalu mungkin membuat beberapa orang kecewa. Namun mungkin pula ada yang senang dengan hasil tersebut.

Partai Demokrat secara mengejutkan menyodok dengan perolehan lebih dari 20% (hasil sementara KPU atau beberapa quick count). Yang menyedihkan justru apa yang diperoleh Golkar dan PDI-P. Perolehan PDI-P hanya berkisar 15%, turun dibanding pemilu 2004, sebesar 18,5%. Begitu pula perolehan suara Golkar. Di TPS dekat dengan kediaman saya saja, TPS No. 16 Bogor, Jawa Barat, Golkar hanya memperoleh suara 2 dari sekitar 252 suara yang sah mencontreng pada pemilu 9 April.

Suara partai-partai yang berbasiskan Islam tak bergeming dari angka 5 hingga 6 persen. Meskipun harus diakui perolehan PKB Muhaimin cukup luar biasa. Semula banyak yang memperkirakan, akibat perpecahan yang terjadi, PKB hanya akan meraih suara dibawah 5%. PKB Muhaimin sendiri sebelum pemilu mentargetkan suara sekitar 15%. Boleh jadi himbauan boikot Gus Dur terhadap PKB Muhaimin tak terlalu berhasil. Suara Gerinda yang didukung oleh Jenny Wahid juga hanya berkisar pada angka 4%.

Partai lain, PPP atau PKS tak mampu meraih perolehan diatas 10%. PBB bahkan diperkirakan tidak akan melampaui ambang batas parliamentary threshold, sebesar 2,5%.

Itulah hasil demokrasi yang telah kita tunggu-tunggu. Hasil boleh mengecewakan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) boleh disalah tak becus mengurus logistik dan daftar tetap pemilih. Namun tak selayaknya bagi yang kalah untuk meminta pemilu ulang, seperti yang terjadi di Pilkada Jatim lalu. Quick count tak bisa disalahkan jika suara yang didapat tak sesuai harapan. Hasil perhitungan cepat hanyalah mencoba membantu memberikan hasil perhitungan kepada masyarakat. Ia tak mempengaruhi, karena toh dihitung setelah kotak suara di buka di TPS. Hasilnya pun tak jauh berbeda dengan apa yang dihitung oleh KPU.

Yang perlu digugat justru partai partai yang mendaftar berpartisipasi dalam pemilihan umum, namun tak mencantumkan satupun nama caleg di kertas suara pada 9 April lalu. Ambil contoh misalnya Partai Merdeka, Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia, dan dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia yang tak mencantumkan satupun caleg di kertas suara untuk pemilhan anggota dewan perwakilan rakyat daerah tingkat provinsi, daerah pemilihan Jawa Barat 4. Untuk tingkat kabupaten lebih menyakitkan. Tiga nama partai diatas harus ditambah dengan Partai Kedaulatan, Partai Persatuan Daerah dan Partai Sarikat Indonesia.

Hanya menghabiskan uang pajak yang dibayar oleh rakyat, karena mereka ternyata hanya main-main dan tak menyiapkan caleg untuk bertanding.

Mereka inilah yang seharusnya dituntut. Didaerah pemilihan yang banyak pekerjanya saja tak ada satupun calon dari Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia.

Kini partai-partai dibawah satu persen ini ramai berguman soal koalisi untuk pemilihan presiden. Jika begini, apa ini yang dinamakan politik „dagang sapi.“ Undang-undang pemilihan umum dan pemilihan presiden mungkin perlu ditambahkan, partai yang tak memenuhi batas parliamentary threshold tak diperbolehkan ikut koalisi pemilihan presiden!

Jadi makin ramai kan?

Suara mereka tok tak memiliki pengaruh banyak. Di parlemen mereka tak memiliki kursi.

2 responses to “Yang Tersisa Dari Pemilu 9 April

  1. Sistemnya yang sekarang seperti di Perancis. Sayang aku sendiri tidak ikut memilih, karena program-program dari partai-partai tidak jelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s