Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

Wacana untuk mengulang pemilihan umum dilontarkan beberapa tokoh partai yang perolehan suaranya tak bisa menyentuh 1 persen atau batas minimal parliamentary threshold. Banyaklah alasan yang dijaikan sebab. Aspirasi sekian ratus ribu pemilih yang masih mencontreng partai mereka hingga ketidak becusan KPU mengurusi daftar pemilih tetap.

Menurut tokoh partai-partai ini, keteledoran tersebut disengaja untuk mengembosi partai mereka. Salah satu tokoh Partai Bulan Bintang (apa Bintang Bulan yah? PBB lah…), mengatakan bahwa sekitar 250 orang calon pemilih tak terdaftar di daeah Sape, Kabupaten Bima, Nusatenggara Barat. Kabupaten Bima (dan juga Nusatenggara Barat) memang menjadi basis kuat PBB. Namun apakah seluruh calon pemilih tersebut memang akan memilih PBB?

Dari beberapa keluh kesah teman yang menjadi Golput karena terpaksa, alias tak terdaftar, sang Ketua RT sendiri bahkan ikut tak terdaftar, banyak terjadi di daerah-daerah yang didomisili mayoritas keturunan Tionghoa/Cina). Iseng saya bertanya, kalau mereka bisa mencontreng pada tgl 9 April lalu partai mana yang akan dipilih? Umumnya mereka menjawab Demokrat.

Mungkin agak bias oleh hasil sementara yang diumumkan di televisi-televisi, namun bisa jadi pula benar. Ini berarti tak selamanya suara yang tak terdaftar tersebut adalah suara-suara yang akan masuk partai-partai di luar Demokrat atau Golkar, jika mengasumsikan dua partai ini adalah partai pemerintah yang sengaja mengatur KPU. Lagi pula perolehan Golkar pun (sebagai partai pemerintah – JK sebagai Wakil Presiden), cukup berjarak jauh dari Demokrat.

Mungkin saatnya kita berhenti untuk selalu berfikir mengenai konspirasi (conspiracy theory), seolah-olah kekalahan dalam pemilihan umum 9 April diakibatkan oleh sebuah konspirasi. Mengutip apa yang dikatakan oleh teman-teman mahasiswa, “tak akan memberi pendidikan politik pada rakyat.” Sama artinya kita “menyalahkan” dan menganggap “bodoh” para pemilih kemarin, yang tak pandai menentukan pilihan mereka.

Mungkin saaatnya para elite politik mau mencontoh Goerge W. Bush ataupun McCain yang menyalami dan mengucapkan selamat kepada Obama saat mereka tahu calon dari Partai Demokrat tersebut memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat, walaupun McCain, partai Republik, adalah saingan Obama.

Partai Repubik, Amerika Serikat, merespon kekalahan mereka dengan melakukan evaluasi dan mempersiapkan diri untuk “pertarungan: di tahun 2012. Konon mereka kini tengah menyiapkan mantan Ketua DPR AS, Newt Gingrich sebagai calon mereka. Ia mulai ditampilkan dalam berbagai acara yang diadakan oleh Partai Republik, tanpa harus menunggu tahun 2011 atau 2012.

Mengulang kembali pemilihan umum sama saja dengan menghabiskan uang negara dua kali. Dari mana uang negara diperoleh? Menurut salah satu atau dua tokoh politik dari partai yang memperoleh suara sedikit, negara Indonesia terlalu tergantung pada utang dan negara asing. Berarti pendanaan tidak boleh dari utang dan sumbangan negara asing (baca Barat, termasuk Jepang…ha…ha…ha…).

Oleh karenanya sumber yang “aman” adalah dari pungutan pajak. Paling murah dan hanya tinggal mendata wajib pajak (penduduk Indonesia). Saya jadi inget pajak kepala yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda atau VOC dahulu.

Jika terjadi, sama saja dengan membiarkan uang yang seharusnya untuk kepentingan rakyat (kepentingan publik, infrastruktur, dll) dihabiskan untuk pesta para elite politik. Benatr seperti syair lagu dangdut…. “teganya…..teganya….teganya…’

“Gosip Jalanan” yang saya baca dipojok bawah kiri halaman pertama harian Rakyat Merdeka hari ini, 16 April 2009, mensinyalir partai-partai yang tak mencapai parliamentry threshold tetap percaya diri mereka akan dilirik oleh capres. Konon tarif yang dipasang mencapai Rp 40 miliiar bagi capres yang mengharap dukungan mereka.

Ah…..lagi lagi loe…lagi lagi loe….

3 responses to “Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

  1. setuja!eh,setujuh banget mas!
    ada di bbrp daerah yg mengulang pencontrengan tapi warganya banyak yg gak dateng.Katanya “pesta” seharusnya seneng2 dong ya,bukanya sikut2,sabet2
    slm kenal!

  2. Kekurangan di sana sini pastilah terjadi di setiap pemilu, seperti kasus pemilih yang memenuhi syarat tapi tidak didaftar. Saya kira kasus DPT (daftar pemilih tetap) bisa dikatakan random, yaitu juga menimpa ke semua partai. Apakah kita bisa tahu jika mereka kalau terdaftar pasti memilih partai tertentu?

    Biarlah semua pihak berlapang dada menerima kekalahan. Apalagi selisih kekalahan terpaut jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s