Lebih Cepat, Apakah lebih Baik?

Semua orang ingin lebih cepat. Mungkin lebih baik, mungkin pula bisa menjadi buruk. Walaupun dipastikan tak ada yang ingin menjadi buruk. Semuanya ingin menjadi lebih baik.

Namun tak jarang lebih cepat bisa berakibat buruk. Pepatah Jawa mengatakan „alon alon asal kelakon“ atau orang tua yang selalu mengingatkan kita untuk hari-hari dan tidak terburu-buru. Mengerjakan ujian tanpa teliti dan terburu-buru mengakibatkan kita cepat selesai namun keliru mengartikan pertanyaan. Dalam mengunyah makanan pun dokter mengajurkan untuk mengambil tempo agar enzim yang ada didalam mulut kita berkerja secara efektif. Terburu-buru, grasa-grusu adalah sifat yang dianggap tidak sopan.

Contoh yang terbaru tentang pilihan lebih cepat berakibat buruk adalah tewasnya seorang pengedara motor oleh bis Busway, akibat ingin cepat dan memaksa masuk melalui jalur bus way, yang bukan diperuntukkan bagi motor.

Contoh yang lain adalah rombongan pengendara motor gede (moge), yang ingin cepat dan memaksa pengedara lain di jalur Puncak untuk minggir demi mereka. Akibatnya seseorang harus diberi bogem mentah, karena dianggap menggangu laju kendararaan motor gede mereka.

Hal yang sama juga acapkali menjadi pemandangan yang kita jumpai setiap pagi. Mobil-mobil yang berplat merah (milik pemerintah), atau berplat militer, dengan raungan sirine, meminta didahulukan, lebih cepat, melalui jalur darurat di jalan-jalan tol. Atau pun sore hari, ditengah kemacetan yang membuat hati dongkol, masih ada saja beberapa mobil berplat pejabat pemerintah, membunyikan sirene pengawal mereka meminta jalan, untuk didahulukan, lebih cepat.

Mungkin lebih cepat lebih baik. Tetapi acapkali, dengan contoh diatas, banyak orang yang merasa dilecehkan dan dongkol hatinya. Bisa saja lebih cepat berarti tidak baik bagi orang lain, jika cara yang dipakai tak sreg dihati sebagian orang.

Slogan „lebih cepat lebih baik“ yang diusung pasangan calon presiden dan wakil presiden JK – Wiranto, tak menjelaskan cara apa yang dipakai untuk lebih cepat dan lebih baik itu. Rumitnya pula tak dijelaskan pencapaian apa yang ingin diraih, sehingga kita bisa memperkirakan atau menganalisa, apakah butuh cara yang lebih cepat atau tidak.

Sudah tentu kita ingin Indonesia lebih makmur dan lebih sejahtera. Semakin cepat lebih baik. Namun harus ada ukuran terhadap target yang ingin dicapai. Harus pula ada analisa apakah target tersebut dapat dicapai dengan lebih cepat atau tidak.
Jika tidak “lebih cepat lebih baik” hanya akan menjadi slogan semata.

Lucunya saat muncul kampanye pemilu satu putaran, yang berarti lebih cepat, banyak yang tak setuju dan diaggap melanggar proses demokrasi.

Secara logika tak ada ada yang ingin berlama-lama dalam „pertandingan.“ Dalam tinju saja, jika bisa meng-KO kan lawan pada ronde pertama maka akan lebih baik. Setiap tim yang mendukung calonnya sudah tentu ingin pertandingan cepat selesai. Mengulang kembali dalam sebuah putaran tambahan akan memakan biaya tambahan dan kepenatan yang bertambah pula. Lucunya, untuk kasus pemilihan presiden Indonesia, target untuk menang satu putaran dianggap lucu.

Tulisan ini ada dalam note FB saya.

6 responses to “Lebih Cepat, Apakah lebih Baik?

  1. lebih cepat belum tentu lebih baik jika melakukan dengan segala cara yang tidak baik dan tentunya terkesan gedebukan , thanks

  2. Yeah, I agree. In English we say “the best things come to he who waits”.

  3. kok sepi? udahan ngeblog?😦

  4. Jadi bagusnya, lebih cepat dan tepat. bukan cepat asal-asalan. itu namanya ceroboh.

  5. bukan ya cepat sasaln tuh bukan ceroboh tapi semroni kali kwkwkwkkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s