Efek Rev(P)olusi Tunisia

Jumat 14 Januari 2011 menjadi hari bersejarah bagi Rakyat Tunisia. Rejim Presiden Zine Al-Abidine Ben Ali yang memerintah dengan otoriter selama 23 tahun berhasil digulingkan dan harus lari menyingkirkan diri ke luar negeri. Sebuah perubahan yang berawal dari kisah heroik yang dilakukan seorang penjual buah bernama Mohamad Bouazizi

Alumni sebuah perguruan tinggi di Tunisia ini terpaksa menjadi penjaja keliling menjual sayur, buah, atau mainan anak-anak diatas sebuah gerobak. Tak tersedia lapangan kerja yang cukup untuk menampungnya sebagai lulusan perguruan tinggi.

Suatu hari gerobak dorong Bouazizi dirampas oleh aparat dan ia dipermalukan. Perlawanan yang dilakukan olenya adalah dengan nekad mmbakar diri di depan Kantor Pemda kota kelahirannya Sidi Bousaid, di tepi Laut Mediternean, pada 17 Desember 2010 seusai sholat Jum’at

Peristiwa ini dan pesan terakhir yang ditinggalkannya di Facebook memicu demonstrasi besar-besar, yang berujung pada tergulingnya Ben Ali.

Semangat perubahan ini ternyata menjalar ke Mesir, menuntut turunnya Presiden Hosni
Mubarak yang telah memerintah Mesir sejak 1981 dan kini sudah berusia 82 tahun. Gerakan ini sebenarnya banyak dipicu terkait dengan pemilihan umum di Mesir.

Namun yang menarik adalah demonstrasi dan perlawanan rakyat Mesir di respon dengan melakukan pemblokiran akses ke Facebook dan Twitter, karena jejaring sosial ini dianggap menjadi tempat dan sarana para aktivist menggalang kekuatan.
Dengan lima juta penggunanya, Mesir adalah pengguna jejaring sosial terbesar di antara negara-negara Arab.Jejaring sosial adalah alat utama para pengunjuk rasa dalam berkomunikasi dan mengumpulkan massa. Salah satu grup di Facebook yang mendapatkan banyak pengikut adalah “Kami semua Khaled Said”, merujuk nama seorang pengunjuk rasa yang tewas dipukuli polisi keamanan.Grup ini telah mendapatkan 90.000 pengikut yang menyatakan protesnya terhadap pemerintah.

Gejolak pun menjalar ke Yaman. Sekitar 200 wartawan berpawai di Sanaa, Minggu untuk menuntut pembebasan aktivis kebebasan pers Tawakel Karman dan tahanan lain. Alasan penangkapannya tidak jelas. Polisi Yaman menangkap Karman di sebuah jalan utama ketika wanita itu pulang bersama suaminya pada Sabtu malam.

Yang menarik selain menjadi wartawan, Karman, adalah anggota komite pusat partai oposisi Islamis Al-Islah, yang turut berdemonstrasi di Sanaa untuk mendukung pemberontakan rakyat di Tunisia yang akhirnya menjatuhkan Presiden Zine El Abidine Ben Ali.

Ide perubahan dan fenomena keampuhan Facebook, Twitter atau jejaring social media lain berkontribusi terhadap perubahan pun merember ke Indonesia. Twitter beredar mendiskusikan soal Tunisia, Yaman, atau Mesir. Begitu pula di Facebook. Sebuah rencana aksi direncanakan digelar paska Jum’at, 28 Januari 2011. Mungkin meniru apa yang terjadi di Tunisia.

Pertanyaannya adalah, apakah sama basis kondisi sosial, ekonomi dan politik yang mendorong gerakan di Tunisia, Yaman, dan Mesir. Tak diminta untuk mundurpun SBY – Boediono akan mengakhiri masa pemerintahan mereka pada 2014 nanti. Ia tak bias dipilih kembali. Mekanisme pemilihan pemimpin baru yang demokratis, melalui pemilu sedang dipersiapkan.

Apakah sama Indonesia dengan Tunisia, Mesir, dan Yaman?

One response to “Efek Rev(P)olusi Tunisia

  1. sangat menarik. wacana baru untuk saya. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s