Category Archives: Parlemen

Lebih Cepat, Apakah lebih Baik?

Semua orang ingin lebih cepat. Mungkin lebih baik, mungkin pula bisa menjadi buruk. Walaupun dipastikan tak ada yang ingin menjadi buruk. Semuanya ingin menjadi lebih baik.

Namun tak jarang lebih cepat bisa berakibat buruk. Pepatah Jawa mengatakan „alon alon asal kelakon“ atau orang tua yang selalu mengingatkan kita untuk hari-hari dan tidak terburu-buru. Mengerjakan ujian tanpa teliti dan terburu-buru mengakibatkan kita cepat selesai namun keliru mengartikan pertanyaan. Dalam mengunyah makanan pun dokter mengajurkan untuk mengambil tempo agar enzim yang ada didalam mulut kita berkerja secara efektif. Terburu-buru, grasa-grusu adalah sifat yang dianggap tidak sopan. Baca lebih lanjut

Menginginkan Pemilu Ulang? Apakah Realistis?

Wacana untuk mengulang pemilihan umum dilontarkan beberapa tokoh partai yang perolehan suaranya tak bisa menyentuh 1 persen atau batas minimal parliamentary threshold. Banyaklah alasan yang dijaikan sebab. Aspirasi sekian ratus ribu pemilih yang masih mencontreng partai mereka hingga ketidak becusan KPU mengurusi daftar pemilih tetap.

Menurut tokoh partai-partai ini, keteledoran tersebut disengaja untuk mengembosi partai mereka. Salah satu tokoh Partai Bulan Bintang (apa Bintang Bulan yah? PBB lah…), mengatakan bahwa sekitar 250 orang calon pemilih tak terdaftar di daeah Sape, Kabupaten Bima, Nusatenggara Barat. Kabupaten Bima (dan juga Nusatenggara Barat) memang menjadi basis kuat PBB. Namun apakah seluruh calon pemilih tersebut memang akan memilih PBB?

Dari beberapa keluh kesah teman yang menjadi Golput karena terpaksa, alias tak terdaftar, sang Ketua RT sendiri bahkan ikut tak terdaftar, banyak terjadi di daerah-daerah yang didomisili mayoritas keturunan Tionghoa/Cina). Iseng saya bertanya, kalau mereka bisa mencontreng pada tgl 9 April lalu partai mana yang akan dipilih? Umumnya mereka menjawab Demokrat.

Mungkin agak bias oleh hasil sementara yang diumumkan di televisi-televisi, namun bisa jadi pula benar. Ini berarti tak selamanya suara yang tak terdaftar tersebut adalah suara-suara yang akan masuk partai-partai di luar Demokrat atau Golkar, jika mengasumsikan dua partai ini adalah partai pemerintah yang sengaja mengatur KPU. Lagi pula perolehan Golkar pun (sebagai partai pemerintah – JK sebagai Wakil Presiden), cukup berjarak jauh dari Demokrat. Baca lebih lanjut

Ludwig Erhard

Ludwig Erhard adalah kanselir Jerman pada tahun 1963 – 1966 yang acapkali dihubungkan dengan upaya pemulihan perekonomian Jerman Barat setelah perang dunia.

 

Ia dilahirkan pada 4 Februari1897, di Fürth, sebuah kota di bagian Selatan Bavaria, Jerman. Ia meninggal pada 5 Mei 1977, di Bonn, Jerman.

 

Erhard sempat terjun berperang dalam perang dunia I, pulang dengan membawa luka yang cukup parah, yang  membuatnya memutuskan untuk meneruskan kuliahnya di bidang ekonomi dan sosiologi, yang ditekuninya hingga meraih doctor pada tahun 1925. Dari tahun 1928 hingga tahun 1942 ia bekerja pada sebuah lembaga yang melakukan survey pasar di Nuremberg, dimana ia kemudian membangun sebuah institusi yang danai oleh industri swasta.

 

Secara intelektual ia memikirkan tentang berbagai konsekuensi yang harus dihadapi oleh Jerman setelah kekalahan perang dunia II. Sejak tahun 1945 ia banyak dipengaruhi oleh Amerika, bekerja sebagai Menteri Ekonomi di Bavaria, dan kemudian di Frankfurt, terutama dalam melakukan reformasi mata uang.

  Baca lebih lanjut

Asian Beach Games dan RUU Pornografi

Asian Beach Games 2008, yang kini tengah berlangsung di Bali, cukup membuka mata kita, bahwa kita adalah masyarakat kepulauan, memiliki potensi laut yang luar biasa, termasuk olah raga kelautan. Tak kurang Menteri Pemuda dan Olah Raga ikut membenarkannya. Sudah lazim bagi kita, perlu ada gebrakan yang heboh, baru kita menyadarinya.

Taklah salah jika pesta olah raga yang baru pertama kali diadakan ini, konon akan menyaingi Winter Olimpic, diadakan di Bali. Masyarakat Bali adalah yang paling banyak menentang wacana RUU Pornografi, yang batal disahkan 28 oktober ini. Mereka menganggap RUU tersebut banyak bertentangan dengan budaya yang selama ini mereka miliki. Dalam pembukaan acara ABG 2008, lagi-lagi suguhan budaya Bali yang mendapat applaus luar biasa dari penonton yang hadir. Baca lebih lanjut

Interview Saya….

Beberapa waktu lalu saya sempat diwawancarai untuk pembuatan tulisan akhir Nadine Freischlad, yang mengambil kuliah di University of the Art Berlin, Jerman. Hasil wawancara tersebut telah dimuat didalam blog miliknya yang dapat diakses pada alamat ini: http://texastee.twoday.net/

Namun mungkin tak ada salahnya isi wawancara tersebut saya muat pula di blog ini..  🙂

 

Part 6 of the interview series: Muhammad Thamrin, the Political Blogger

Thamrin is a historian and journalist, currently works for the Friedrich Naumann Stiftung in Jakarta – a German political foundation associated to the German Liberal Party (FDP) – and as a freelance journalist. He is involved in the Friedrich Naumann Stiftung Project ‘Blogging for Democracy’ – a series of workshops with politicians and NGO workers to introduce them to the world of blogging and podcasting/videocasting. He also writes his own blog called Other stories about freedom and initiated ‘Kedai Kebebasan’.

  Baca lebih lanjut

Korupsi dan Bulan Puasa

Komisi Pemberantasan Korupsi kian bersinar, demikian kata orang. Satu per satu kasus korupsi di negeri ini di kupas, walaupun mungkin belum tuntas. Satu dua tersangka sudah masuk kerangkeng, beberapa yang terindikasikan sebagai tersangka masih bebas berkeliaran, ribuan lainnya muali ketar-ketir menunggu giliran.

Mudah-mudahan tak hanya sesaat dan menjelang pemilihan umum 2009 saja. Banyak yang menduga berbagai pengungkap kasus-kasus korupsi yang kini tengah digarap KPK, hanyalah upaya mengangkap pamor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saja, dan memukul saingan politiknya.

Kasus anggota DPR dari PDI-P Agus Tjondro kini merembet pada anggota-anggota DPR lain yang diduga menerima sekitar 400 lembar cek. KPK masih ditunggu untuk tetap bersemangat melanjuti kasus tersebut, tak lantas menjadi loyo karena bulan puasa. KPK seharusnya menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan pengungkapan kasus. Bulan yang penuh berkah dan rahmat ini seharusnya dipakai KPK untuk menanyai orang-orang yang diduga menerima suap atau korupsi, mumpung mereka tidak boleh bohong. Jika bohong batal kan puasanya.

KPK seharusnya menjadikan bulan ini sebagai momentum, karena banyak tersangka kasus korupsi yang acap menjadikan moral sebagai tameng terhadap kasus-kasus mereka. Berpura-pura menjadi alim, memlihara jenggot, dan memakai baju koko. Sekalian saja ditanyakan di bulan suci ini. Jika mereka berbohong, tak hanya KPK atau negara yang mereka tipu tetapi juga Allah.  Jika perlu gelar persidangan hingga waktu Sahur..  🙂

KPU Tetapkan 34 Parpol Peserta Pemilu 2009

Kabar yang sudah banyak dinanti oleh mereka yang telah menggelontorkan uang mendirikan partai-partai baru, “begadang” semalam suntuk mempersiapkan administrasi yang akan diuji kelayakannya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) terbayar sudah. Senin kemarin KPU telah meloloskan 18 partai politik baru untuk mengikuti pemilihan umum 2009 yang akan datang. Ditambah dengan partai-partai politik lama genaplah jumlah mereka menjadi 34 parpol.

Ke-18 parpol baru tersebut adalah Partai Kebangkitan Nasional Ulama (lolos di 25 provinsi), Partai Hanura (32), Partai Demokrasi Perjuangan (27), Partai Peduli Rakyat Nasional (33), Partai Indonesia Sejahtera (23), Partai Gerakan Indonesia Raya (31), Partai Pemuda Indonesia (25), Partai Matahari Bangsa (25), Partai Barisan Nasional (24), Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (25), Partai Kasih Demokrasi Indonesia (25), Partai Republik Nusantara (23), Partai Kedaulatan (23), Partai Patriot (23), Partai Karya Perjuangan (22), Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (23), Partai Perjuangan Indonesia Baru (23), dan Partai Persatuan Daerah (22). Baca lebih lanjut