Category Archives: Pejuang Kebebasan

Kekerasan…….

Orang tua, nenek atau kakek kita acap bercerita bahwa nenek moyang kita adalah bangsa yang peramah dan senang bergotong royong. Itu pula yang kita dapati didalam pelajaran-pelajaran sekolah, tentang keramah-tamahan nenek moyang kita, sebagai bangsa dari Timur. Bahkan ada kawan-kawan semasa kuliah yang meplesetkannya, memberi kesimpulan bahwa karena keramah-tamahan inilah yang membuat bangsa kita terjajah oleh Belanda.

Mereka yang semula hanya berniat berdagang kemudian diberi ijin untuk membuka loji, sebagai kantor agen perdagangan, dan lambat laun memperluas daerah kekuasaannya, memungut pajak dan menentukan birokrasi pemerintahan. Toh nenek moyang kita tetap menyambutnya dengan ramah tamah, bahkan menganggap mereka sebagai saudara. Sama halnya saat kita menyambut “saudara tua” dari arah matahari terbit, yang dianggap membawa kemakmuran dan kenaikan martabat sebagai bangsa Asia. Baca lebih lanjut

Iklan

Konsep Pemikiran Ordo Liberalismus

Saat para pengkritik Liberalisme mencecar kerangka berfikir ekonomi pasar ataupun globalisasi dan berbagai manfaat yang ada didalamnya, secara membabi buta mereka tak bisa membedakan berbagai varian pemikiran yang ada dalam Liberalisme dan memukul rata menyebutnya neo-liberal.  Lebih parah lagi mereka selalu mengidentikkannya dengan aliran pemikiran yang awalnya berkembang di Universitas Chicago (Chicago School), Amerika Serikat.

 

Maka klop lah liberalisme dengan neo-liberal dan Amerika Serikat. Segala sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dianggap sebagai langkah neo-liberal dan sekaligus sebagai liberalisme.

 

Suatu kerancuan berfikir yang sesat. Baca lebih lanjut

Hari Kartini

Ternyata hari ini Hari Kartini. Tepatnya 21 April 2008, dan memang biasanya setiap tanggal ini diperingati sebagai hari kelahiran R.A. Kartini, tokoh asal Jepara yang dianggap melakukan pembaharuan terhadap nasib perempuan.

Saya baru ingat kembali akan peringatan tersebut saat melihat serombongan siswa sekolah dasar, yang ada di dekat kantor, berpawai keliling, semarak dengan tepukan alat musik rebana, dan pakaian adat daerah-daerah yang ada di Indonesia yang mereka kenakan.

Saya benar-benar lupa, walaupun tadi pagi sempat mendengar cuplikan berita yang dibacakan oleh seorang penyiar di televisi, tentang Hari Kartini. Lagi pula anak saya yang duduk di bangku sekolah dasar kok hari ini hanya mengenakan pakaian biasa, seperti layaknya setiap Senin pagi, pakaian olahraga. Tak ada yang menunjukkan adanya perayaan Hari Kartini. Atau karena anak saya bersekolah di dalam cakupan wilayah Jawa Barat. Dengan kontens lokal yang dijadikan rujukan untuk menunjukkan kearifan lokal, mungkin saja (mudah-mudahan tidak) di Jawa Barat tokoh perempuan pejuang yang diperingati bukan R.A. Kartini melainkan Dewi Sartika.  🙂 Baca lebih lanjut

Lomba Video Amatir

new-fnf-logo.jpg 

Kompetisi Video Amatir 2008

Friedrich Naumann Stiftung – Indonesia 

Latar Belakang:

Perjuangan masyarakat untuk keluar dari kemiskinan dan mencapai kesejahteraan adalah potret yang sehari-hari kita jumpai. Pedagang-pedagang kecil yang menghuni lahan-lahan kosong diberbagai pelosok kota adalah wajah perjuangan untuk mencapai tingkat kemakmuran dan kehidupan yang lebih baik. Kampung-kampung kumuh yang banyak bertebaran diperkotaan adalah wajah perjuangan ekonomi yang lain.  

Namun acapkali mereka harus tersingkir dari lahan usaha yang mereka huni sekian lama. Puluhan tahun menghuni lahan pemukiman atau usaha tak menjadi jaminan memperoleh hak kepemilikan atau pengakuan yang legal atas lahan tersebut, walaupun selama waktu tersebut mereka membayar pajak dan iuran atas lahan yang mereka pakai.  Kepastian hukum tak mereka dapatkan. Bayangkan jika status legal kepemilikan atas lahan hunian atau usaha tersebut didapat, mereka dapat memakainya untuk memperoleh kredit usaha dari perbankan, misalnya. Paling tidak ada sebuah kepastian terhadap usaha yang mereka jalankan.  

Friedrich Naumann Stiftung Indonesia, dengan latarbelakang ini, mencoba membuat kompetisi pembuatan video amatir yang berdurasi pendek, yang merekam berbagai persoalan, terkait dengan hak kepemilikan (property right – secara fisik) dan kebebasan ekonomi ini.   Baca lebih lanjut

Statistik Feed Menghilang

Membuka wordpress hari ini sudah langsung disodori pengumuman yang menyedihkan. Kita tidak bisa lagi melihat statistik feed kita. Mungkin hanya mati suri, karena kodenya tetap ada. Paling tidak demikian yang dituturkan Mas Matt. Yang jelas ia sudah menghilang dari dashboard.

Nasibnya mungkin hampir sama dengan Wadehel.

Tapi apakah ini kemajuan atau kemunduran WordPress?  🙂

Chavez….oh……Chavez

Sempat saya berdebat agak seru dengan teman yang kini aktif disalah satu parpol, tentang Morales, Amerika Latin, Liberalisme, dan Chavez.

Saya mengkritik tindakan ugal-ugalan Chavez yang melakukan nasionalisasi beberapa perusahaan yang melakukan investasi di Venezuela, hanya dengan dasar berfikir nasionalistik, yang dibumbui dengan jargon sosialisme dan pro kerakyatan. Saat itu saya berujar tak yakin bahwa segala yang dilakukan oleh Chavez akan bermuara pada kesejahteraan rakyat. Saya pikir ia hanyalah mencoba menarik simpati masyarakat dengan program-program populer, yang sebenarnya akan bermuara pada kroni baru yang ia cipatakan.

Saat itu isu pembredelan Radio Caracas Televisión’s (RCTV) telah ada, dan saya mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah tokoh seperti Soeharto ini yang akan dia bela. Ia tak menjawab jelas, hanya tersirat apam yang dilakukan oleh Chavez dianggapnya hanya sebagai riak kecil belaka. Baca lebih lanjut

Minta Tolong…….

Sekian lama tidak mengisi blog, ehh….yang diisi adalah seperti ini 🙂

Mungkin ini perbuatan tidak sopan, namun apa boleh buat, ada yang bulat-bulat dan membuat bingung 😉

Konon cerita kantor saya sudah dua kali mengadakan pelatihan blog. Satu di Jakarta dan satunya lagi di Semarang, Jawa Tengah. Baru-baru ini. Menurut rencana pula, bulan mendatang ini kami akan mengadakan pelatihan yang sama (maaf belum dibuka untuk umum…..  🙂 ) dan sedang mencari tempat yang pas, dimana ada koneksi internet “ngacir” serta komputer tentunya, dan beberapa fasilitas pendukung pelatihan yang memadai. Tempat yang dahulu kami pakai “agaknya” tak begitu layak. Sempit…..

Mungkin ada yang memiliki referensi tempat. Oh ya, pelatihan kami rencanakan di Jakarta……